Yang Bisa Dipelajari Ketika Anak Merasa Bosan

Jangan buru-buru kesal atau memberikan gadget ketika anak merasa bosan. Percaya, deh, lewat rasa bosan yang dirasakan anak justru bisa banyak belajar hal penting. 

“Bu, aku bosan!” ujar anak saya, Pilar (9), pada suatu sore.

Memasuki bulan puasa, ia tak sabar menantikan waktu berbuka. Sedikit-sedikit melihat ke jam dinding. Berulang kali ia mengeluh bosan. Maklum, waktu main gadget sudah habis. Ia sudah mati gaya saya biarkan enggak ngapa-ngapain.

AnakBosan

Puncaknya ia malah bilang lagi, “Bu, aku enggak tahan, boleh aku buka sekarang?”
Iseng saya tanya ke anak. Bosan itu kayak gimana, sih? “Rasanya kayak kita ada di luar angkasa, terus enggak bisa ngapa-ngapain,” ceplosnya. Hahahaa, ternyata bosan di mata anak-anak bisa rada ajaib begini, ya.

Kalau dipikir-pikir, minggu inikan masih sekolah. Bagaimana kalau libur panjang tiba? Artinya akan ada banyak waktu luang pastinya (di luar waktu piknik, mudik lebaran, silaturahmi). Bisa jadi akan ada masa berhari-hari, beratus-ratus kali, mendengar anak berucap ‘bosan!’. Inhale…exhale…

Memang sih, ketika liburan kenaikan kelas atau menjelang Lebaran akan ada banyak tip, itinerary, program summer camp, yang bisa di googling, untuk jadi pilihan mengisi liburan. Tapi bukan itu yang ingin saya sharing.

Saya pernah mendengar dari para psikolog di luar negeri, tentang perlunya anak dibiarkan menghadapi rasa bosannya. Itu yang selama ini saya praktikkan dan akan saya terapkan untuk liburan nanti.

Daya tarik gadget yang bisa menyedot perhatian anak (tapi di sisi lain berefek kecanduan), membuat anak zaman sekarang tak pernah merasa bosan. Belum lagi, padatnya aktivitas anak. Tidak kalah sibuk dengan para eksekutif. Sekolah, ekskul di sekolah, les bahasa Inggris, piano, berenang, sepakbola, futsal, taekwondo, mengaji, mengerjakan PR, belajar, dan sederet ‘tugas’ lainnya, efeknya membuat anak terbiasa dengan jadwal yang padat, dan karenanya, tidak sempat merasa bosan.

Bosan memicu kreativitas

Menurut Dr. Teresa Belton, psikolog dari University of East Anglia, seperti yang dikutip dari BBC, mengatakan, kebosanan penting untuk mengembangkan ‘stimulus internal’, yang kemudian memunculkan kreativitas tinggi. Kemampuan anak untuk menghadapi kebosanan butuh dilatih. Semakin sering dilatih, semakin jarang Anda akan mendengar anak mengeluhkannya.

Seresek apa pun rengekannya karena bosan, aturan main game hanya satu jam sehari tetap saya berlakukan. Saya pernah iseng bertanya, “Terus, kalau kamu bosan, kamu ngapain?” “Aku tiduran sambil bayangin lagi main game. Kalau enggak, aku googling, mainin google translate. Baca buku atau main sama kucing,” jawabnya.

Bosan melatih kemandirian

Ketika anak mengatakan bosan, sebenarnya itu bukanlah masalah Anda, melainkan masalah si anak yang harus dihadapinya sendiri. Mereka harus mengandalkan diri mereka sendiri. Dengan membiarkannya, dapat memupuk kebebasan dan kemandirian anak. Kebalikannya, ketika kita turun tangan, kita melatih mereka untuk selalu meminta masukan dari luar.

Tumbuh sebagai anak tunggal -tidak seperti teman lainnya yang minimal bisa bermain bareng adik atau kakaknya- saya sering kasihan melihatnya tak punya teman bermain. Lama kelamaan, ia bisa mencari cara menyibukkan diri dengan membuat cerita dengan tangannya.

Liburan nanti, saat hanya di rumah, saya akan memintanya membuat jadwal harian sendiri, apa saja yang ingin ia lakukan. Dengan term waktu gadget yang dibatasi tentunya.

Waktu mengistirahatkan otak

Stimulasi yang terus menerus ternyata tidak terlalu bagus untuk perkembangan otak anak. Dengan menghadapi kebosanan, akan memberi waktu pada otak untuk beristirahat dan me-recharge.

Filsuf Bertrand Russel pernah menulis, “Anak kecil ibarat tanaman yang masih muda. Dia harus dibiarkan di tanah yang sama. Terlalu banyak perjalanan, terlalu banyak variasi stimulus, tidak bagus untuk mereka dan menyebabkan saat mereka dewasa nanti tidak tahan menghadapi rutinitas dan aktivitas yang monoton.”


Post Comment