Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi

Rewel, garuk-garuk, rungsing, dan nggak nyaman. Ini yang dialami bayi saat ia mengalami biang keringat.

“Ibu, adik Gia ‘kutuan’ kalau kepanasan,” teriak Dhia saat kami berada di luar ruangan dengan suhu cukup panas. Yap, si bayi memang agak bermasalah dengan cuaca panas. Bawaannya rungsing. Kalau sudah begini, ia akan menggaruk hampir semua badannya, terutama kepala. Karena Gia suka sekali menggaruk bagian kepala inilah, maka kami sering menyebut, ‘adik Gia kutuan kalau kepanasan’.

Kalau diperhatikan, saat Gia kepanasan, ada beberapa bagian tubuhnya yang akan bruntusan. Bukan hanya di bagian kepala, tapi juga bagian lipatan leher, punggung atau lipatan kulit lainnya. Bruntusan ini disebut dengan biang keringat. Dan ternyata, cuaca panas bukan satu-satunya penyebab biang keringat. Saat Gia saya pakaikan baju yang agak tebal, ia juga akan mengalami biang keringat.

Maksud hati ingin menghangatkan tubuhnya, yang terjadi justru bayi yang menjadi rungsing akibat kepanasan. Bayi memang sangat rentan terkena biang keringat, sebab pori-pori kulit mereka lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Selain itu kelenjar dan saluran keluar keringat juga belum sepenuhnya berkembang.

biang keringat bayi-mommiesdaily

Iya, sih, biang keringat akan sembuh sendiri. Tapi, saat ia rungsing akibat bintik-bintik kecil yang gatal itu, tentu saja saya juga gatal ingin mengakhiri ketidaknyamanannya. Jadi, saat biang keringat mulai membuat si bayi tak nyaman, saya biasanya melakukan beberapa hal ini:

  1. Dinginkan badan anak

Mau tak mau pendingin ruangan adalah penyelamat saya nomor satu saat Gia mengalami biang keringat. Saat sedang di rumah, biasanya saya buru-buru menyalakan pendingin udara atau kipas angin, namun tidak disarankan untuk mengarahkan angin langsung ke tubuh bayi . Sementara kalau sedang di luar ruangan, saya akan mencari tempat teduh. Selanjutnya, saya akan membasuh badannya menggunakan handuk yang dibasahi air untuk menghilangkan lengket akibat keringat. Handuk basah ini juga bisa menurunkan suhu kulit. Hindari mengelap badan bayi dengan handuk kering, karena bisa berisiko iritasi.

  1. Biarkan kulit bernapas

Ada kalanya saya membiarkan Gia menggunakan pakaian yang tipis dan longgar. Terutama saat ia berada di luar ruangan. Beberapa menit sebelum mandi saya juga membiarkan Gia tak menggunakan baju dan popok agar kulitnya lebih leluasa bernapas.

  1. Pilih-pilih baju

Seni memilih baju sepertinya tak pernah selesai. Setelah ibunya yang selalu mematung di depan lemari, kemudian berakhir dengan keluhan, “aku tidak punya baju,” kini giliran memilihkan baju bayi yang tepat. Agar terhindar dari biang keringat, sebisa mungkin saya memilih baju Gia yang berbahan serat alami. Saya sangat menghindari baju yang berbahan kain sintesis, seperti poliester atau nilon, karena kain tersebut bisa memerangkap panas.

  1. Potong kuku

Ini memang tak berhubungan langsung dengan kulit bayi. Tapi, saat saya kelupaan memotong kuku Gia, akibatnya kulit (terutama kulit kepala), jadi terluka.

Oh, iya, saya juga menghindari penggunaan bedak. Sebab, selain menyebabkan masalah pernapasan, bedak juga bisa menutup pori-pori kulit dan membuat kulit menjadi lebih hangat. Yang paling sering saya lakukan juga untuk menghindari biang keringat yang menjadi-jadi adalah memeriksa setiap lipatan kulit, leher dan selangkangan. Kalau terlihat berkeringat, biasanya saya segera mencucinya dengan air mengalir agar tidak sampai terjadi biang keringat.

 


Post Comment