Kenapa Semakin Banyak Pasangan Bercerai?

Beberapa waktu lalu, saat saya sedang ngobrol santai bersama mama dan kakak pertama saya, obrolan mengarah kepada bebepa kasus perceraian yang terjadi pada orang-orang yang kami kenal.

Nggak usah jauh-jauh, kakak kedua saya termasuk di antaranya. Pernikahan pertamanya kandas, dan saat ini dia sudah menikah lagi. Hal yang sama juga terjadi pada sepupu saya, anaknya teman mama, tetangga dekat rumah mama, orang gereja dan masih banyak lagi.

Hingga kemudian terlontar dari mulut mama seperti ini “Zaman mama dulu, mau sesakit apapun pernikahan, ya kami bertahan sekeras mungkin, karena bagi angkatan mama, menikah itu hanya satu kali seumur hidup. Beda dengan pasangan-pasangan umuran kalian (anak-anaknya maksudnya) atau yang di bawah kalian. Mama nggak ngerti lagi. Kayaknya kok kalian menganggap pernikahan itu bisa selesai begitu aja kalau sudah tidak cocok. Begitu nggak cocok, cerai. Segampang itu.”

Sehabis mama ngomong begitu, bawaannya sih mau nyautin, kalau nggak fair memukul rata semua pelaku perceraian. Lah, kalau kasusnya suaminya hobi mukul, atau selingkuh berkali-kali, atau sama sekali nggak mau menafkahi? IMO, ya memang lebih baik pisah. Itu menurut saya ya.

Namun menarik, ada sebuah artikel yang sempat saya baca di cnn.com, mengenai beberapa alasan tertinggi yang kerapkali menjadi pemicu perceraian (diluar urusan KDRT). Apa saja?

Kenapa Semakin Banyak Pasangan Bercerai? - Mommies Daily

1. Hidup mapan dan nyaman lebih utama dibanding cinta
Keinginan untuk memiliki masa depan yang baik dan cemerlang dalam artian mapan secara ekonomi membuat banyak pasangan terlalu sibuk bekerja. Tak heran, ketika suami istri semakin asing satu sama lain, mereka memutuskan untuk bercerai. Wealth and material success took the first priority.

2. Open relationship menjadi trend
Tiga orang teman saya memiliki status seperti ini. Mereka menikah namun status mereka open relationship. Jika ternyata salah satu menemukan orang lain yang bisa membuat mereka merasa lebih nyaman, maka sah-sah saja untuk bercerai. IMO again…… mending pisah dulu sebelum bertemu orang lain.

3. Lebih banyak interaksi dengan orang di luar rumah dibanding dengan pasangan sendiri
Based on point nomor satu, keinginan untuk nyaman secara materi, membuat seseorang bekerja tak kenal waktu. Mereka terlalu sibuk di luar rumah, mereka bertemu banyak orang yang mungkin jauh lebih atraktif dibanding pasangan mereka sendiri, mereka menghabiskan waktu dengan orang-orang yang atraktif ini, dan pada akhirnya mereka menemukan kenyamanan di luar bersama orang lain. Pilihannya? Mari ceraikan pasangan kita di rumah.

4. Ketagihan gadget
Satu pasangan yang saya kenal nyaris bercerai karena gadget! Berawal dari sang suami yang merasa tidak diperhatikan oleh istrinya karena si istri terlalu sibuk dengan gadget. Pagi, siang, sore bahkan malam gadget tidak pernah lepas dari tangannya. Setiap berbicara dengan anak, mata selalu menatap ke gadget. Marah kalau charger smartphone dipinjam dst. Sang suami nggak tahan dan ingin berpisah. Untung mereka mau konsultasi ke psikolog pernikahan. Perceraian pun dapat dihindari.

Dan yang kelima, seperti yang sudah pernah Adis tulis, perbedaan kedalaman iman seseorang juga akhir-akhir ini menjadi pemicu pertengkaran rumah tangga yang semakin hebat.

At the end, ingat kembali saat kita memilih pasangan kita untuk kita nikahi. Ingat dengan segala kebaikan dan kekurangannya. Kalau memang perubahan yang terjadi pada dirinya tidak terlalu kontras atau tidak membahayakan keselamatan kita dan anak secara psikologis maupun lainnya, mungkin bisa kita pikir kembali, apakah memang benar kita perlu melangkah ke pengadilan dan bercerai?


Post Comment