Kamidia Radisti, “Orangtua itu tidak Selalu Benar”

“Saya juga sadar kalau orangtua itu tidak selalu benar apalagi anak-anak tumbuh di masa sekarang di mana informasi semakin banyak dan mudah mereka dapatkan. Dan kondisi ini kan akan terus berjalan ke depannya,” ujar Kamidia Radisti.

Sejak mengenal sosoknya lewat ajang Miss Indonesia, saya sudah suka dengan pembawaannya. Mungkin karena Kamidia Radisti terlihat sangat dinamis dan ramah, ya. Saya sendiri sudah beberapa kali bertemu dengan istri Lutfi Ubaidillah ini, tapi memang belum pernah ada kesempatan untuk ngobrol secara personal.

Kebetulan, belum lama ini Mbak Disti, begitu saya menyapa ya, datang sebagai nara sumber di acara Mommies Daily bersama Bio Oil. Sharing soal perawatan kulit tubuh semasa hamil dan menyusui. Mumpung ada kesempatan, saya pun memintanya untuk ngobrol sebentar. Saya penasaran dengan pola asuh yang ia terapkan pada ketiga buah hatinya, Kaira, Raika, dan Biru.

Seperti dugaan saya sebelumnya, banyak insight menarik yang bisa saya ambil dari obrolan kami waktu itu. Salah satunya soal pentingnya orangtua untuk menyadari kalau tidak selamanya benar dan pintar. Kadangkan, orangtua suka merasa lebih pintar karena sudah kenyang makan asam garam kehidupan, ya. Padahal nggak selamanya seperti ini bukan? Setidaknya pengalaman jadi orangtua selama 7 tahun belakangan ini membuat saya sadar kalau saya pun perlu ‘berguru’ pada anak saya, Bumi.

Kamidia Radisti-mommiesdaily

Hai, Mbak… lagi sibuk apa saja, nih?

Sibuknya masih sama, kok. Saat ini masih pegang empat program. Salah satunya program parenting, Modern Moms, dan ada program olahraga. Tapi main job-nya tetap jadi ibu dan istri, kok, hahaha.

Jadi istri, ibu sekaligus bekerja biasanya yang paling sulit itu soal membagi waktu. Bagaimana dengan Mbak sendiri?

Sebenarnya gini, prioritas utama aku itu tentu saja tetap keluarga.  Pekerjaan ini justru aku lakukan sebagai penghilang stress. Kadang ada orang yang nggak biasa diam di rumah karena sudah terbiasa sibuk bekerja, jadi kalau diam di rumah saja justru tingkat stressnya lebih tinggi. Nah, saya begini. Nggak baik juga buat anak dan lingkungan rumah. Suami saya juga sudah tahu kalau saya ini orangnya cukup aktif jadi dari awal, jadi suami nggak pernah membatasi dan mengurangi waktu saya di luar rumah, tapi tentu saja untuk melakukan hal yang positif dan prioritas utama tetap keluarga.

Karena balik lagi, kalau anak-anak butuh saya, insyaAllah saya akan selalu ada buat mereka. Saya dan suami pun berbagi tugas. Mungkin yang bikin lebih enak karena saja ini kerjanya nggak office hour, jadi manajemen waktunya juga bisa lebih diatur. Kapan saya mau istirahat, bisa. Waktu anak ke-3 saya masih menyusui, anak saya ini ngak mau pakai ASIP, jadi mau nggak mau saya ajak kerja kemanapun saya pergi. Tahun lalu saya juga lagi banyak kerjaan ke luar kota, jadi dia saya ajak terus.

Tantangan terbesar sebagai ibu bekerja?

Kesabaran, anak-anak yang suka ditinggal saat ibunya bekerja itu kan jadinya suka suka cari perhatian saat kita di rumah. Kadang saya pun harus belajar banyak dari anak-anak, guru saya itu justru anak-anak. Biar bagaimanapun pengalaman yang dilakukan oleh ibu yang lain itu tidak sama dengan apa yang saya rasakan. Jadi otomatis memang harus lebih banyak punya waktu untuk ngobrol dengan anak-anak bahkan ketika mereka masih bayi karena mereka itu bisa paham.

Dalam berkomunikasi dengan anak-anak, apa yang selalu diperhatikan?

Saya selalu memberikan ruang pada anak-anak untuk mengungkapkan dan mengekspresikan perasaan mereka. Mereka marah, sedih, senang, bisa ngomong ke saya. Saya pun begitu. Kalau saya marah saya akan mengungkapkan pada anak-anak tentu saja dengan cara yang tidak menyakiti mereka. Jadi mereka tahu kapan ibunya marah. Saya juga sadar kalau orangtua itu tidak selalu benar apalagi anak-anak tumbuh di masa sekarang di mana informasi semakin banyak dan mudah mereka dapatkan. Dan kondisi ini kan akan terus berjalan ke depannya, orangtua itu akan mengalami kemunduran dan anak akan terus mengikuti kemajuan, ini yang harus saya ikuti. Cara mengatasinya ya harus dengan banyak ngobrol.

Mbak Disti tipe ibu seperti apa, sih?

Kalau dari saya, saya ini ibu yang masih banyak kurangnya. Kalau dari kesabaran, saya masih jauh dari kategori ibu sabar. Tapi saya ini ibu yang disiplin, tentu disiplin untuk kebaikan anak-anak. Tapi mungkin di sini cara penyampaian saya yang terlihat kurang sabar. Anak-anak itu mungkin melihatnya saya ini ibu yang cerewet apalagi soal kebersihan.  Kalau sudah sakit kan anak-anak yang ngerasain, jadi lebih cerewetnya ke arah sana. Saya juga tipe ibu yang terbuka, misalnya saya ini nggak bisa melarang anak saya untuk tidak menggunakan gadget sementara saya juga tahu ada hal postif yang bisa didapatkan anak lewat gadget, kalau anak-anak sudah tahu mereka bisa belajar sana justru bisa meringakan tugas kita juga kok. Jadi tergantung kita bagaimana mengarahkan dan mengawasinya.

Saat anak besar, inginnya dilihat sebagai ibu yang seperti apa?

Ibu yang bisa jadi teman saat mereka membutuhkan saya menjadi temannya. Artinya, meskipun saya ada untuk menjadi temannya tapi anak-anak juga perlu tahu batasannya seperti apa.  Saya juga mau ibu yang bisa mengikuti perkembangan zaman anak-anak, sekarang ini serba cepat. Tapi kadang orangtua suka nggak bisa ngikutin termasuk saya. Jadi saya jadi orangtua memang harus belajar banyak, harus selangkah lebih maju. Kadang saya suka kewalahan sendiri, tapi ya saya harus mengejarnya.

kamidia radisti

Nggak cuma hubungan dengan anak, hubungan dengan suami kan juga perlu dijaga, nih, bagaimana dengan Mbak Disti

Penting banget, apalagi sebenarnya saya ini tipe perempuan yang manja sama suami, tapi bukan tipe yang manja harus dijemput atau dikasih bunga, loh. Tapi lebih kearah apa yang saya mau, saya ingin suami sudah tahu apa yang saya mau itu apa.

Nah itu kan susah, Mbak… kadang suami itu kurang peka *nyengir kuda*

Hahahaa…. iya, sih, tapi suami saya itu sudah tahu kalau saya sedang marah seperti apa, marah yang tanpa ngomel. Ibaratnya seperti kasih tanda, ‘Terserah aja’. Nah, kalau begini suami sudah akan sadar dengan sendirinya. Saya bukan tipe yang mau minta dengan suami, tapi maunya suami sudah bisa sadar dengan sendirinya. Ya, memang sulit sih…

Kalau agenda kencan berdua suami gimana?

Jujur saja, sekarang saya jarang nge-date berdua dengan suami. Kalau jalan, ya, bersama anak-anak jadi memang lebih family time yang dapat. Itu saja saya sudah happy. Kalau coba pergi berdua saja rasanya malah nggak enjoy, jadi seperti ada yang kosong. Biasanya ramai, ini kok nggak. Jadinya malah mau cepet pulang, hahahaha. Jadi ya, buat kami nggak perlu dipaksain untuk kencan berdua.

Menikah sudah 8 tahun, apa saja yang Mbak pelajari supaya pernikahannya bisa langgeng?

Umh, nggak perlu banyak menuntut. Komunikasi itu sangat penting, nggak usah mengharapkan perubahan dari pasangan tapi justru lebih saling pengertian dan sama-sama memahami. Untuk masalah kepercayaan, syukurnya sampai sekarang memang tidak pernah luntur. Mungkin karena ini nggak terlepas dari cara komunikasi kami.

Terima kasih sudah mau berbagai, ya, Mbak Disti…. :)

 

 

 


Post Comment