Ketika Pasangan Gemar Mengkritik di Depan Keluarga Besar

Oleh: Azza Waslati

Saya paham bahwa kritik dibutuhkan untuk perbaikan. Meski begitu, tak semua orang mengerti cara menyampaikan kritik dengan baik. Termasuk pasangan yang gemar mengkritik di depan keluarga besar.

“Cantik, sih, tapi lipstiknya ada 50,  padahal bibirnya cuma 2.” Lalu yang mendengarkan tertawa terbahak-bahak. Masih ingatkah ketika keluarga besar sedang berkumpul,  lalu Ibu dengan nada bercanda atau memang ingin “menyentil”, mengkritik kita? Meskipun sekadar bercanda, rasanya tetap saja tak enak, kan?

Nah, bayangkan bila itu terjadi, namun alih-alih Ibu, yang melakukannya adalah pasangan kita. Kenapa orang terdekat yang harusnya membuat kita merasa dicintai dan dilindungi justru gemar membeberkan aib kita di muka umum? Apa maksudnya? Dan bagaimana agar hal itu tak terus terulang?

pasangan gemar mengkritik mommiesdaily

Beda kepala, beda pemikiran. Namun saat kita memilih seseorang untuk mendampingi kita, tentunya kita sudah tahu karakternya. Kita sudah melihat kelebihan dan kekurangannya, lalu memutuskan bahwa kita bisa menerima semua itu dan membuat komitmen untuk tetap bersama. Namun, kenapa pasangan berubah menjadi kritikus ulung yang jeli melihat kesalahan? Belum lagi dia menyampaikannya di depan keluarga besar. Akibatnya, selain dianggap tidak cukup baik oleh keluarga, hubungan dengan pasangan pun terganggu.

Kita semua paham bahwa kritik dibutuhkan untuk perbaikan. Meski begitu, tak semua orang mengerti cara menyampaikan kritik dengan baik. Mungkin kedengarannya klise, tapi komunikasi memang sangat penting dalam sebuah hubungan. Ketidakmampuan berkomunikasi ini sering menjadi penyebab pertengkaran yang lalu berujung pada perpisahan. Bila pasangan Anda gemar mengkritik di depan keluarga besar, yuk, cek ulang cara komunikasi kalian.

  1. Diskusi bukan berkelahi.

Diskusi adalah proses bertukar pikiran. Ketika menemui masalah, para pihak bisa mengungkapkan masalah yang dia alami, lalu bersama-sama menemukan jalan tengah untuk menyelesaikannya. Yang sering terjadi, diskusi berubah jadi perdebatan. Masing-masing pihak mengungkapkan ketidakpuasannya dan menyudutkan pihak lain, sementara bersikap defensif terhadap dirinya sendiri.

Ingatkan pasangan bahwa yang perlu dibahas adalah permasalahannya, bukan orangnya. Misal, dibanding pasangan membahas kita yang boros dan dianggap tidak bisa mengatur uang, fokuslah ke apa yang dia anggap permasalahan utama. Misal: tidak cukup uang untuk membeli rumah idaman. Kita jadi mengerti bahwa pasangan menganggap kita boros karena keinginannya memiliki rumah sendiri tak bisa ia capai.

Bila kita sama-sama mengetahui tujuan yang ingin dicapai, lebih mudah untuk mengupayakannya. Seringnya, masing-masing dari kita punya tujuan dan harapan sendiri, namun tak merasa perlu menyampaikannya ke pasangan. Mungkin berharap punya pasangan yang cenayang ya? Cenang dicayang.

  1. Tempat dan Waktu

Jelaskan pada pasangan bahwa tempat dan waktu itu penting. Demi hubungan yang sehat juga awet, sebaiknya masalah rumah tangga diselesaikan oleh kalian berdua saja.

Kalau me time adalah hal baik untuk diri sendiri, maka bagaimana dengan membuat couple time? Misal, tiap seminggu sekali berkunjung ke tempat favorit kalian untuk kemudian bicara apa saja. Tentu rasanya lebih nyaman dibanding diadili di depan keluarga.

Sebelum dia mengkritik Anda di depan keluarga besar, selalu sediakan tempat dan waktu untuk kalian berdua. Kalau kebutuhan menyampaikan uneg-unegnya terpenuhi dengan baik dan ia merasa terpuaskan, dia takkan merasa perlu lagi mengungkapkannya di depan keluarga. Banyak juga yang bicara macam-macam di depan keluarga, karena merasa tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk bicara berdua. Kelihatannya tidak mungkin ya? Sering bersama tapi kok dibilang tak ada kesempatan. Coba diingat-ingat, kapan sih benar-benar duduk bareng untuk benar-benar ngobrol apa yang dirasakan?

Couple time juga membuat ikatan rasa kalian berdua semakin erat. Meski hidup penuh dengan rutinitas dan tanggung jawab, jangan lupa tetap bersenang-senang bersama pasangan.

  1. Beri Contoh Baik

Kita sebal dengan perilaku pasangan yang mengkritik kita di depan keluarga besar, namun coba cek dulu perilaku kita. Jangan-jangan kita melakukan hal serupa, tapi kita tak sadar. Pernahkah secara bercanda mengungkapkan kekurangan pasangan di depan teman? Atau tak sengaja bercerita tentang aib pasangan di WA keluarga? Kalau kita melakukan hal serupa, ya tak heran bila pasangan menirunya.

Hubungan yang baik dan sehat adalah hubungan yang membuat orang merasa dicintai dan dihargai. Saat kita mulai merasa bahwa diri kita lebih tinggi, penting, dan berharga dibanding pasangan, itulah pertanda hubungan tidak sehat.

Biasakan memuji pasangan untuk hal-hal baik yang dia lakukan, sekecil apapun itu. “Terima kasih ya sudah memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Kamu sangat perhatian. I love you.” Pasangan akan merasa bahwa Anda memperhatikan dan menghargainya, lalu dia akan meniru kebiasaan baik itu.

Katanya, tidak ada orang yang sempurna, namun selalu ada orang yang menyempurnakan kita yang tak sempurna ini. Ini berarti bahwa pasangan sifatnya saling mengisi, saling menguatkan, saling memperbaiki. Dan dengan segala kekurangan masing-masing, kita akan baik-baik saja karena sadar semua adalah proses belajar dan perbaikan yang tak akan pernah berhenti.


Post Comment