TBC Tulang Membuat Duniaku Sebatas Kamar Tidur

Ditulis Oleh : Elga Windasari

Bukan sebagai orang yang berbeda, tapi sebagai dirimu sendiri dan dengan kehidupan yang berbeda. Dan inilah saya alami sekarang. Setelah mengalami TBC Tulang, duniaku tak lagi sama, hanya seluas kamar tidur yang saya tempati.

Dulu, saya adalah seorang pekerja. Seorang wartawan, mungkin bisa dibilang seperti itu. Pergi dan pulang bekerja menggunakan motor matic kesayangan, kendaraan paling praktis untuk menembus macetnya jalanan Jakarta. Saya menyukai kehidupan saya saat itu. Menyukai pekerjaan saya sebagai wartawan ‘senang-senang’ karena saya bekerja sambil bersenang-senang dan biasanya tempat saya meliput adalah tempat-tempat yang menyenangkan. Memiliki cerita dan pengalaman baru setiap hari. Punya penghasilan tetap yang meskipun tidak terlalu besar tapi cukup untuk sedikit foya-foya. Tapi yang paling saya sukai dari kehidupan saya dulu adalah saya bisa bebas pergi ke mana saja.

TBC TULANG_mommiesdaily*Saya di antara teman jurnalis, Adisty dari Mommies Daily dan Ajeng dari Detik saat liputan di Bali

Kebebasan saya ‘hilang’ pada Maret 2014. Sebenarnya saat itu tubuh saya sudah memberi tanda-tanda kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tapi saya tidak menghiraukannya. Terlalu bodoh? Takut? Atau kombinasi dari keduanya? Entahlah.

Akhir Maret, saya kehilangan kekuatan di kedua kaki. Awalnya saya masih bisa menggerakkannya meski tidak bisa berdiri tanpa bantuan orang lain, tapi lama-kelamaan kaki saya tidak bisa bergerak lagi. Harusnya saya saat itu ke dokter atau rumah sakit. Tapi sekali lagi. Saya terlalu takut dan bodoh untuk melakukannya. Satu tahun sebelumnya, saya pernah melakukan operasi yang cukup besar akibat penumpukan cairan di kepala. Itu membuat saya trauma dengan rumah sakit dan sebisa mungkin menghindarinya. Saya berharap, pengobatan tradisional bisa menyembuhkan kaki saya saat itu. Tapi ternyata saya salah besar.

Butuh waktu sembilan bulan sampai akhirnya saya setuju untuk dibawa ke rumah sakit. Itupun karena saya sudah kesulitan bernapas dan harus menggunakan oksigen terus-menerus. Ternyata, cairan sudah memenuhi paru-paru, sampai memengaruhi kerja jantung, sehingga membuat pernapasan terganggu. Di situlah perjuangan sebenarnya dimulai. Seakan belum cukup melawan rasa sakit selama sembilan bulan sebelumnya, perawatan selama tiga bulan di rumah sakit benar-benar menjadi ujian berat bagi saya.

Didiagnosa terkena TBC tulang di tulang punggung bagian atas, saya harus menjalani operasi pemasangan pen karena tulang yang terkena bakteri TBC sudah hancur. Hancur dan harus diganti menggunakan pen, yang akan terpasang seumur hidup. Tapi tidak semudah yang direncanakan, operasi harus tertunda karena tubuh saya yang sudah melemah akibat terlalu lama berbaring sehingga hampir semua kondisi organ tubuh saya memburuk.

Paru-paru adalah kondisi paling parah saat itu sehingga membuat saya kesulitan bernapas dan sering mengalami serangan sesak napas parah. Jika serangan terjadi, yang bisa saya lakukan hanya berusaha untuk terus bernapas, meski rasanya tidak ada udara yang bisa saya ambil di setiap tarikan napas, dan berdoa. Terus berdoa di dalam hati agar saya tidak kehabisan tenaga untuk memerjuangkan hidup saya. Berdoa agar Tuhan mau memberikan kesempatan pada saya untuk terus hidup. Dan berdoa agar serangan sesak napas itu bisa berakhir.

Selama tiga bulan dirawat di rumah sakit, banyak hal yang saya alami. Selain dari serangan sesak napas yang sering terjadi, tentunya. Dua kali pindah rumah sakit, tiga kali masuk ruang ICU, dua kali di HCU, menjalani delapan jam operasi pemasangan pen, jarum infus selalu terpasang di kedua tangan, merasakan sakitnya saat dipasang selang makan melalui lubang hidung, sampai yang membuat saya merasa tidak punya harapan hidup lagi adalah saat dipasangi alat bantu napas atau ventilator.

Selama sekitar tiga minggu selang ventilator terpasang melalui mulut hingga ke paru-paru, saya tidak bisa bicara atau bahkan mengeluarkan suara. Indera penciuman juga terhalang sehingga saya tidak bisa mencium bau apapun.  Jika bergerak, jangan ditanya rasanya seperti apa. Sakit sekali. Ada selang yang ukurannya tidak kecil terpasang di tenggorokan, bukan perasaan yang nyaman. Saya berdoa semoga kalian tidak pernah merasakannya.

Sekarang, sudah hampir dua tahun saya pulang ke rumah. Kondisi saya sudah jauh lebih sehat, bakteri TBC sudah sembuh total, dan sudah tidak pernah merasa kesakitan lagi. Tapi saya masih belum bisa menggerakkan kedua kaki saya. Selama hampir tiga tahun, hidup saya saat ini terpusat di tempat tidur. Dunia saya hanya seluas kamar tidur yang saya tempati. Televisi dan handphone adalah jendela tempat saya tetap bisa melihat kehidupan di dunia luar. Tapi untuk saat ini saya harus puas hanya dengan ‘dunia kecil’ yang saya miliki.

Saya memiliki kehidupan yang berbeda sekarang. Dulu saya bisa bebas ke mana saja, sekarang saya tidak pernah ke luar dari rumah. Dulu saya bisa melakukan apa saja sendiri, sekarang hampir semua yang saya lakukan harus dibantu oleh orang lain. Dulu saya punya pekerjaan tetap, sekarang saya hanya mengandalkan pekerjaan freelance agar tetap merasa produktif. Dan saya yang dulu juga berbeda dengan saya sekarang.

Jadi, bagaimana jika kamu punya kehidupan yang berbeda? Saya sudah merasakannya. Meski bukan kehidupan yang saya impikan, tapi saya tetap merasa bersyukur karena saya masih diberi kesempatan untuk tetap menjalani sebuah kehidupan.

 

 

 

 


Post Comment