Jangan Pelit Membagi Nomor Telepon Pasangan

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Setelah mengalami sendiri pingsan di tengah keramaian dan tidak ada satu pun orang yang tahu nomor telepon suami, sekarang saya jadi hobi membagikan nomor telepon suami :).

Saya pikir, dengan adanya media sosial akan memudahkan seseorang untuk menghubungi orang lain tanpa tahu nomor telepon. Tapi kali ini saya salah besar. Saat terjadi kondisi darurat, nomor telepon menjadi salah satu hal yang sangat penting. Apalagi suami saya bukan tipe orang yang membuka sosmed setiap saat. Inilah alasan saya menyesal tidak berbagi nomor telepon suami saya pada teman-teman kantor. Saat terjadi kondisi darurat, tak seorang pun dari teman saya yang memiliki nomor suami saya.

Hal ini terjadi beberapa bulan lalu. Saat berangkat ke kantor, saya dalam keadaan sehat. Sampai di kantor pun, saya tak merasa ada yang aneh dengan tubuh saya. Sampai jam 3 atau 4 sore, tiba-tiba tubuh saya menggigil tak terkendali. Jari-jari tangan saya membiru. Merasa sangat kedinginan, dan mengira ini hanya karena AC kantor, saya pun segera turun untuk mendapatkan udara hangat.

Meskipun sempat memesan teh hangat, namun saya tak lagi bisa mengendalikan tubuh saya yang terus menggigil. Kali ini ditambah dengan sesak napas. Seketika, entah bagaimana, saya pun pingsan. Selanjutnya saya hanya tahu sepotong-sepotong, dan sadar di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit dekat kantor. Tak lama suami saya datang, dan saya mengira ia diberitahukan oleh pihak Rumah Sakit atau teman saya.

Ternyataaaaa, perjalanan suami saya hingga tahu istrinya pingsan cukup panjang dan berliku (lebay ya! Hahaha). Karena, tak seorang pun dari teman saya yang tahu nomor telepon suami saya. Dari ratusan pesan yang masuk di handphone saya (kebanyakan dari grup kantor atau lainnya), hampir semua berisik menanyakan nomor telepon suami (duuh, maaf ya teman-teman, dan terima kasih atas usaha keras kalian :D).

hospital-bramptonpton

Menghubungi keluarga adalah satu hal wajib saat kita terjadi apa-apa. Ini baru kejadian pingsan, yang kebetulan terjadi di kantor dengan teman-teman ada di sekitar. Bagaimana kalau terjadi (amit-amit) kecelakaan atau hal lain di perjalanan pulang, saat tidak ada seorang pun yang mengenal kita? Jangan sampai, sih, tapi bersiap bila hal ini sampai terjadi juga perlu.

Kita memang tak bisa mendahului takdir, tapi kita bisa mengantisipasinya, bukan? Saya mengambil sebuah pelajaran penting yang sebetulnya sangat sederhana. Yaitu memberitahukan nomor pasangan ke teman di sekitar kita. Tak hanya itu, kini, saya ‘mempermudah’ orang lain untuk bisa mendapatkan nomor suami saya dengan cara:

1. Menyimpan kartu nama suami saya di dompet
Umumnya, orang akan mencari identitas kita dengan mencarinya di dompet saat terjadi sesuatu. Nah, saya menaruh kartu nama suami di dompet yang terlihat. Percuma saja kalau saya simpan kartu nama suami, tapi diumpetin di antara kartu-kartu yang lain. Yakin deh, orang yang sedang panik ga akan mencari sampai detail ke lipatan-lipatan dompet. Oiya, saya juga memberikan sedikit coretan di kartu nama suami dengan kata, ‘Suami Saya.’ Tidak lucu dong ya kalau yang ditemukan kartu nama klien, dan si penolong malah menelepon klien :D. Bila pasangan tak memiliki kartu nama, saya sarankan catatkan nama dan nomor telepon di secarik kertas dan menyimpannya di tempat yang mudah dilihat.

2. Tak hanya di dompet, saya juga menyimpan kartu nama pasangan di tas
Yaitu di saku depan tas atau bagian tas yang mudah dilihat. Bahkan saya mengaitkan kartu nama suami saya menggunakan peniti dan memasangkannya di bagian dalam tas. Berlebihan? Saya rasa tidak. Toh, tidak terlihat juga dari luar, namun akan mudah ditemukan saat orang lain mencarinya.

3. Memberikan informasi keluarga ke HRD
Umumnya, sih, setiap kantor akan meminta kita mengisi data keluarga yang bisa dihubungi saat keadaan darurat.

4. Menggunakan gelang khusus bila punya penyakit tertentu
Tak hanya informasi tentang nomor telepon pasangan saja yang penting untuk dibagikan pada orang di sekitar kita. Bila, Mommies memiliki penyakit seperti alergi atau epilepsi, gelang yang berisi informasi tentang penyakit ini bisa mempermudah tenaga medis dalam memberikan pertolongan pertama.

Sejak kejadian tersebut saya jadi sadar, bahwa memberikan informasi tentang keluarga memang penting. Tapi tetap ada batasannya, misalnya nomor telepon darurat. Bagaimana dengan Mommies, punya saran lain agar orang lain bisa cepat menghubungi keluarga saat keadaan darurat terjadi?


Post Comment