Hampir Selingkuh

Ditulis oleh : Rosalia Titi Wening

Setelah hampir ‘kepeleset’ selingkuh, saya pun akhirnya disadarkan oleh beberapa hal di bawah ini.

Setelah memutuskan menikah, idealnya semua pasangan sudah tahu segala risiko yang akan terjadi ke depannya. Makanya, sebelum menikah itu perlu persiapan yang matang, bukan hanya soal resepsi yang megah tapi justru belajar lebih banyak soal problem pernikahan.

Jadi, bukan terus mikirin nikah itu yang enak-enak saja. Kalau begini, sih, salah besar. Namanya juga dua kepala yang ingin disatukan, pasti akan ada saja konfliknya. Buat saya yang memasuki usia pernikahan 8 tahun, seminggu 2-3 kali bisa  mengalami cek cok. Hahahaha…. luar biasa banget, ya?

Tapi seperti  Mbak Nina Teguh bilang sebagai psikolog keluarga dan pernikahan, konflik dalam rumah tangga itu justru perlu asal kita tahu bagaimana cara menemukan solusinya. Pemicu konfliknya pun beragam. Kalau saya, sih, lebih sering soal masalah manajemen keuangan. Persoalan klasik, tapi memang begitu kenyataannya. Lagi lagi soal uang.

Sebagai istri saya terus belajar bagaimana mengatur keuangan sesuai porsinya, meski kadang terpeleset. Sementara kebiasan suami justru kebalikannya, setiap ada extra uang yang masuk, ia lebih sering sibuk memikirkan barang apa yang harus dibeli yang berkaitan dengan hobinya. Susah, deh, kalau bengini. Itu baru permasalahan keuangan, belum perintilan-perintilan kecil lainnya. Biasanya yang memuncak justru datangnya tanpa diduga-duga dan bikin kepala saya mau pecah, contohnya kondisi KDRT yang sempat saya alami.

Kalau ingat kondisi seperti ini, kok, rasanya saya butuh pelarian ya? Sekedar me time dengan nonton film sendirian di bioskop, beli sepatu baru, bahkan keinginan untuk selingkuh. Ups!

Baca juga : Pasangan Selingkuh Dimaafkan atau Bercerai

hampir selingkuh -mommiesdaily

Iya, saya tahu, perselingkuhan dalam rumah tangga mungkin bukan hal yang bisa dimaafkan karena sudah menodai komitmen keluarga. Tapi ada kalanya saya menemukan momen godaan berselingkuh. Belum lagi kalau ada sosok yang tiba-tiba datang kasih perhatian laur biasa. Singkatnya banyak peluang di depan mata.

Awalnya sih, cuma teman biasa… berlanjut  teman curhat. Tapi syukurnya saya masih waras, kalau  sudah begitu rasanya ada sinyal yang mengingatkan saya dan membuat saya untuk berpikir ulang untuk memulai perselingkuhan.

Baca juga : Usia Rawan Perselingkuhan

Anak sebagai pengingat jalan untuk pulang ke rumah

Konflik yang terus menerus terjadi bikin kita bosan dan inginnya lari saja. Bawaanya malas pulang ke rumah. Kalau sudah begitu yang saya ingat cuma Bri, anak saya. Sejatinya anak yang menjadi penghalau saya untuk melakukan tindakan yang diluar jalur. Jadi bersyukurlah, rumah tangga tetap aman karena kehadiran anak sebagai pelindung untuk tetap pulang ke rumah, seberat apa pun konflik yang saya hadapi bersama suami.

Baca juga : Gagal Bercerai Karena Anak Baikkah?

Curhat ke sabahat dekat

Mau permasalahan kecil atau besar, ajang curhat bersama sahabat menjadi peluruh kita. Mau cerita a-z mereka akan dengerin dengan sabar dan akan memberi masukan tanpa diminta. Namanya cerita ke orang ketiga, mereka akan ada ditengah-tengah, meski ya awalnya akan membela kita. Tapi endingnya sahabat yang baik juga akan cari tahu versi cerita dari pasangan kita. Itu dilakukannya, agar tidak salah memberi masukan yang baik untuk keduanya. Dan sahabat yang baik juga akan mengingatkan kita untuk menghindari perselingkuhan, yang bukan suatu pembenaran untuk dilakukan saat terjadi konflik rumah tangga.

Kembali mengingat momen terbaik bersama pasangan

Kalau rasa kesal sama pasangan sampai diubun-ubun, rasanya saya mau menyudahi saja semuanya. Jadi sering bertanya-tanya sendiri, kok, masalah nggak pernah selai juga? Kalau sudah benini, saya akan me-rewind momen-momen terbaik bersama pasangan. Syukurnya cukup ampuh buat meredam kekesalan yang memuncak. Paling tidak, membuat saya bisa berpikir lagi apa yang sebenarnya terbaik untuk ke depannya? Bukan lantas mengambil jalan singkat, yaitu selingkuh.

Buat list kelebihan dan kekurangan pasangan

Kalau ada seseorang  yang peduli dan perhatian, rasanya pasti senang bukan main. Apalagi kalau memang perhatian tersebut  sudah lama tidak didapatkan dari suami. Kok, rasanya jadi berbunga-bunga ya? Senang kalau ada kasih perhatian lebih.

“Begini-begini masih ada yang suka, kok, sama gue,” begitu kata hati saya, hahahahaha.   Tapi biasanya itu hanya untuk menyenangkan diri sendiri, sih. Ketika sudah berasa di ‘atas angin dan lupa daratan’ saya pun akan mereview ulang. Misalnya dengan membuat list tentang kelebihan dan kekurangan pasangan, dari sini saya jadi punya ‘ukuran’ .

Misalnya, kalau memang  sifat cueknya suami memang sudah ada sejak jaman pacaran dulu, ya sudah. Jangan berharap suami jadi berubah romantis. Lupakan saja, karena justru suami masih konsisten kok, hahahaha *menghibur diri sendiri. Ya, meskipun sebagai istri ada kalanya saya juga ingin mendapat perhatian dan kejutan-kejutan kecil. Sebagai istri saya pun ingin diapresiasi.

Sejauh ini, beberapa poin di atas jadi cara ampuh untuk mengingatkan saya untuk tidak melakukan perselingkuhan. Bagaimana pengalam mommies yang lain? Mungkin pengalamannya, bisa membantu saya apapun pasangan yang sedang punya celah untuk berselingkuh.

Baca juga : Mempertahankan Pernikahan Setelah Suami Berselingkuh

 

 

 

 

 

 


Post Comment