Mampu Membesarkan Anak Meskipun Mengidap HIV

Meskipun dinyatakan postif mengidap mengidap HIV/AIDS seumur hidup, kawan saya bisa membuktikan bahawa dirinya bisa membesarkan anaknya dengan sehat dan negatif HIV.  .

Saya sudah sangat lama mengenal sosok perempuan yang satu. Sebut saja namaya Melati. Di sini saya memang tidak bisa secara gamblang menyebutkan identitasnya, karena untuk menghargai privacy-nya. Perkenalkan saya dengan Melati sudah dimulai sejak zaman ‘masih ingusan’, ketika kami masih sama-sama mengenakan seragam putih merah. Syukurnya pertemanan kami masih berlanjut sampai detik ini.

HIV-mommiesdaily

Di mata saya, Melati masih sama seperti dulu. Yang membedakannya mungkin hanya satu, Melati merupakan single mom dari satu orang anak lelaki tampan dengan kondisi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Dari tampilan fisik, mungkin tidak ada orang yang tahu kalau ia positif HIV. Tubuhnya masih terlihat sintal berisi yang ditopang dengan berat badan tinggi terlihat ideal. Kulitnya pun masih putih bersih seperti saat dirinya masih remaja.

Bisa dibilang saya cukup tahu bagaimana kehidupan Melati, saya pun terbilang akrab dengan  orangtuanya. Ketika saya mendengar dari lingkaran pertemanan dekat kalau  Melati HIV, saya sempat terkejut. Dari mana datangnya virus tersebut?

Belum lama ini kami pun bertemu di salah satu Coffee Shop di bilangan Jakarta. Berteman dengan secangkir kopi, kami berdua saling bertukar cerita. Mengenang masa remaja, sharing soal pertumbuhan anak dan segala drama yang kami hadapi sesama ibu. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya mengenai kondisi kesehatannya, termasuk kondisi putera semata wayangnya.

Mendengar seluruh kisahnya, saya seperti mendengar sebuah cerita yang sudah sempat saya baca dibeberapa media. Melati mengatakan kalau dirinya sudah mengetahui dirinya terjangkit virus HIV sejak 2012. Semua tidak terlepas karena statusnya saat itu masih jankie.

“Menjadi jankie sebenarnya pilihan, Dis… Dan gue memang tanpa sengaja memilihnya karena semua itu tidak terlepas dari lingkungan pertemanan. Waktu itu kan informasi soal obat-obatan dan efeknya yang bisa menyebabkan HIV kan memang belum gencar seperti sekarang ini.”

Jadi waktu itu, loe nggak tahu kalau yang digunakan itu obat terlarang? tanya saya

Nggak. Waktu itu gue diajak sama temen sebangku untuk coba. Saat coba, kok, rasanya enak ya… Dari situ akhirnya gue mulai akrab dengan drug.

Jika selama ini banyak yang bilang kalau salah satu penyebab seorang anak dikarenakan kondisi keluarga yang tidak tidak harmonis, ternyata benar. Setidaknya hal ini diakui oleh Melati.

“Tahu nggak, sih, waktu itu kalau kita ngumpul di rumah temen kita, gue itu suka perhatiin gimana kondisi orangtuanya. Gue nggak pernah tuh, lihat nyokap bikinin teh dan camilan buat bokap lalu mereka ngobrol bersama. Sampai gue pernah tanya ke nyokap, tapi nyokap bilang kalau mungkin gue aja yang nggak pernah lihat.”

Time flies… Setelah mengetahui dirinya positive HIV tidak pernah berpikir untuk memiliki anak. Namun Tuhan ternyata punya rencana lain dengan menitipkan seseorang anak di rahimnya. Perlu diketahui, jauh sebelum mengandung kondisi Melati memang sudah ‘bersih’ karena sudah sempat melakukan  terapi hingga dinyatakan bersih.

Sadar kehamilan ya berisiko, Melatipun mulai memerhatikan kondisi kesehatannya. “Sejak itu gue jadi sangat aware dengan kondisi kesehatan. Makanan jug ague lebih jaga termasuk mengonsumsi rutin minum obat anti-retroviral virus (ARV),

Ya, saat ini seseorang yang sudah terdiagnosa dengan HIV masih bisa hidup normal layaknya orang sehat, bahkan menikah dan punya anak tanpa harus menularkan penyakitnya pada keluarga. Hal ini pun dibuktikan oleh Melati.

Ia mengaku, setiap melakukan hubungan intim dengan suami, sang suami selalu menggunakan kondom. Terbukti, mantan suaminya memang dinyatakan negatif terhadap virus HIV.Ketika positif hamil, dirinya pun mengaku melakukan pemeriksaan yang rutin, termasuk melakukan serangkaian tes seperti tes Cluster Differentiation 4 (CD4) untuk mengontrol jumlah sel darah putih. ODHA dinyatakan sehat bila CD4 lebih dari 350.

Sedikit berbeda dengan ODHA pria, karena si jabang bayi hidup dan berkembang di rahim wanita, maka pada ODHA wanita yang ingin hamil harus menjalani program khusus untuk mencegah bayinya tertular HIV AIDS. Program tersebut dinamakan PMTCT (Preventing Mother to Child Transmission).

Di masa kehamilan, Melati pun mengaku bahwa dirinya diharuskan untuk melakukan pemeriksaan CD4. Syukurnya, kondisinya kekebalan tubuh yang dimiliki juga masih tinggi sehingga proses kehamilan bisa berjalan dengan normal. Namun untuk proses persalinan, memang harus dilakukan secara caesar untuk meminimalisir risiko tertularnya virus HIV.

Jika kondisi si ibu baik, maka ibu ODHA juga diperbolehkan menyusui bayinya. Namun Teman saya mengaku karena kondisnya yang cukup lemah, ia pun tidak bisa memberikan ASI. Meskipun begitu, semua ini dilakukan untuk kebaikan puteranya yang kini tumbuh dengan sehat.

 

 

 

 

 

 


Post Comment