Wajib Tahu Seputar Difteri

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Difteri, seringkali orang nggah ngeh dengan kehadiran penyakit menular yang satu ini. Apa saja yang wajib diketahui?

Kalau ada yang bilang bahwa ‘pendidikan orangtua’ itu hanya seputar pengasuhan anak, maka saya akan menjadi orang pertama yang tidak setuju. Bagi saya, jadi orangtua itu harus mau belajar SEGALA HAL. Dari mulai hal sereceh cara mengikat rambut anak, sampai tahu tentang berbagai penyakit yang bikin orangtua parno. Saya tidak sedang ingin menakut-nakuti, tapi kehadiran penyakit ini selalu tak diinginkan tapi sayangnya ia juga selalu mengancam.

Penyakit yang paling umum menyerang anak bayi atau penyakit yang kerap menyerang balita, seperti batuk pilek, saya yakin sudah banyak diketahui oleh Mommies. Bagaimana dengan penyakit menular seperti Difteri? Penyakit yang awalnya bisa dikira sebagai penyakit umum seperti influenza ini, ternyata mengancam jiwa penderitanya, lho.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tahun 2016 lalu, kasus terbesar di propinsi Jawa Barat dan banyak terjadi pada anak usia 3-14 tahun. Difteri terjadi akibat infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

Wajib Tahu Seputar Difteri - Mommies Daily

Menurut dr. Swandito Wicaksono, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu, Difteri sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat adanya penyumbatan di saluran pernapasan bagian atas atau terjadi infeksi otot jantung akibat infeksi dari racun yang dikeluarkan oleh bakteri penyebab Difteri. Penyakit ini biasanya akan menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah, penyakit ini punya masa inkubasi 2-3 hari, dengan gejala seperti:

1. Terdapat selaput tipis putih keabu-abuan pada tenggorokan (laring, faring, tonsil) yang tak mudah lepas dan mudah berdarah.
2. Mengalami demam hingga mengigil.
3. Sakit tenggorokan dan suara menjadi serak.
4. Anak terlihat lemas dan lemah.
5. Anak sulit bernapas atau napas menjadi lebih cepat.
6. Hidung beringus.

Penularan Difteri bisa dikatakan sangat mudah, yaitu melalui droplet (percikan ludah), yang terjadi dari penderita sebelumnya atau juga dari karier (pembawa) baik anak maupun dewasa yang tampak sehat kepada orang-orang di sekitarnya. Seram, kaaaaan, ternyata percikan ludah dari orang yang terlihat sehat pun bisa menjadi pembawa infeksi Difteri.

Saat menyerang anak, anak bisa mengalami penyumbatan saluran napas. Selain itu, Difteri juga menyebabkan kelemahan otot dan infeksi otot jantung. Bila Mommies tidak jeli, dan tidak segera membawa si kecil ke dokter, Difteri yang tak tertangani dengan baik bisa menyebabkan kematian. Sebab, kadang-kadang Difteri tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Menurut dr. Dito, segera bawa anak ke dokter saat anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti ngorok (stridor), khususnya pada anak yang berusia di bawah 15 tahun.

Ada satu cara yang cukup efektif untuk mencegah penyakit ini. Yakni melalui imunisasi DPT. Kalau yang ini, saya yakin sudah banyak yang tahu. Imunisasi DPT (Difteri Pertusis dan Tetanus), diberikan 3 kali pada umur 2, 3, dan 4 bulan dan ulangan 1 pada satu tahun setelah imunisasi DPT 3, ulangan 2 saat anak usia prasekolah (5 tahun).

Setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari.

Jadi, jangan ragu melakukan imunisasi pada si kecil mom, jangan kemakan issue bahwa vaksin itu haram dsb!

Jangan sampai lupa ya, Moms :)

Baca juga:

Jangan Lupa Imunisasi Anak SD


Post Comment