Ketika Atasan Memperlakukan Saya Sebagai Asisten Pribadi

Rasanya pasti nggak nyaman, ketika sebagai tim kerja, malah diperlakukan layaknya asisten pribadi. Apa yang harus dilakukan, ya?

Di antara mommies, pasti ada yang pernah menonton film “The Devil Wears Prada”, kan? film yang diperankan oleh Anna Hathaway dan  Meryl Streep ini secara umum bercerita mengenai seorang yang karyawan yang awalnya sangat diragukan untuk bisa menyesuaikan diri di perusahaan, sampai akhirnya bisa menjadi kepercayaan sang atasan. Sanking besarnya kepercayaan atasan ia menjadi sangat mengandalkan karyawan tersebut untuk mengurusi hal-hal pribadi, bahkan untuk urusan yang menyangkut keluarganya.

Ketika Atasan Memperlakukan Saya Sebagai Asisten Pribadi - Mommies DailyImage: glamour.com

Wajar ya, jika pada akhirnya si karyawan tersebut memutudkan untuk berhenti karena ingin mengejar impiannya dan di sisi lain pekerjaannya merusak relasi pribadi dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Atasannya telah mencampur adukan persoalan professional dengan personal, secara tidak langsung menempatkannya menjadi asisten pribadi. Untuk film tersebut mungkin kondisinya terlihat wajar karena memang relasinya antara Atasan dengan Asisten Pribadinya. Namun bagaimana jika hal ini terjadi pada antara anda dan atasan yang mungkin bahkan hanya sebatas karyawan  dan bawahan pada umumnya.

Baca juga: Curhat dengan Atasan Juga Ada Batasannya, Lho!

Situasi dalam film tadi, mungkin saja pernah mommies alami. Ada yang merasa, wajar toh itu artinya atasan sangat percaya dan mengandalkan saya. Sementara yang lain dapat merasa, harusnya tidak boleh seperti itu urusan kantor ya di kantor selebihnya bukan menjadi tanggung jawab saya. Saya adalah karyawan yang digaji bukan asisten pribadi / manajer personal artis yang mengurusi dari A-Z hal terkait atasan saya.

Apakah hal tersebut perlu diteruskan atau dihentikan? Tentu banyak pertimbangan untuk segera memutuskan untuk mengakhiri kondisi tersebut dan berterus terang. Tidak enak, takut atasan tersinggung, bagaimana kalau nanti saya dipecat, nggak apa-apa,  toh saya ga rugi-rugi amat. Apakah salah satu dari pikiran-pikiran ini mengganggu anda untuk mengutarakan keberatan terkait dengan peran yang anda jalani? Cepat atau lambat menjalani peran di luar dan di dalam kantor berhubungan dengan orang yang sama dapat memengaruhi kehidupan secara pribadi. Dalam kondisi yang ekstrim jika terjadi antara lawan jenis bahkan bisa menyebabkan terjadinya affair di kantor (hanya dalam kondisi tertentu dengan intensitas interaksi yang sangat tinggi).

Untuk menyiasati hal tersebut, mommies dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

1. Tanyakan kepada diri sendiri

Tanyakan pada diri anda sendiri, apakah hal tersebut cukup mengganggu diri anda dan kehidupan pribadi anda. Apakah permintaan yang diberikan oleh atasan anda sejauh ini masih cukup wajar dan termasuk dalam hitungan professional atau waktu anda justru lebih banyak dihabiskan untuk mengelola hal-hal yang bersifat personal dan tidak terkait pekerjaan kantor.

Baca juga: Memikat Atasan Tanpa Perlu “Cari Muka”

Jika mommies merasa kurang yakin, anda juga bisa bertanya kepada rekan kerja yang anda percaya ataupun keluarga terkait dengan pola interaksi dan relasi yang terjadi antara anda dan atasan. Ketika interaksi anda menjadi sangat intens dengan atasan, seringkali secara tidak sadar anda akan selalu membicarakan segala sesuatu mengenai atasan anda mulai dari pribadinya, hingga keluarganya secara detail. Dan keluarga anda tentu dapat mengemukakannya secara jujur.

Jika umpan balik yang anda dapatkan adalah hal yang diminta oleh atasan anda sejauh ini masih dalam lingkup professional dan tidak berpengaruh terhadap hal pribadi, lanjutkan saja seperti apa adanya. Jadikan tugas tambahan yang sering diberikan oleh atasan anda sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan diri, memperluas relasi, dan meningkatkan pengalaman anda. Tentu tidak ada ruginya untuk belajar hal yang baru dan baik untuk pekerjaan anda.

2. Kemukakan secara langsung

Selanjutnya ketika mommies merasa ada yang kurang tepat, mengganggu pekerjaan utama anda, atau bahkan merusak relasi dengan orang di sekitar, anda bisa mulai berpikir untuk mengemukakan hal tersebut secara langsung dan jujur kepada atasan anda. Seringnya interaksi dengan atasan, pasti membuat anda memahami waktu dan cara yang tepat untuk membicarakan mengenai hal tersebut. Sampaikan kendala dan keberatan yang anda rasakan selama ini ketika mengerjakan tugas tambahan di luar tanggung jawab anda yang sesungguhnya. Sampaikan hal-hal tersebut dengan cara yang pantas, sopan, namun tetap lugas.

Baa juga: Kapan Mengatakan Tidak Kepada Atasan?

Atasan yang benar-benar menghargai anda tentunya akan memahami bahwa hal yang anda sampaikan bukan berarti anda menyerangnya secara personal, namun menjaga relasi agar hubungan tetap berjalan dengan baik satu sama lain. Anda dan atasan tentunya dapat menemukan alternatif solusi untuk dapat menjaga profesionalitas dalam bekerja. Sebaliknya jika anda menyampaikan hal tersebut dan anda menerima perlakuan atau tindakan yang tidak menyenangkan, mungkin hal tersebut menjadi waktu yang tepat untuk anda menyampaikan kepada pihak terkait di kantor mengenai keberatan anda, misalnya bagian HR untuk membantu memberikan solusi.

Baca juga: Bagaimana Kita Bisa Menjadi Pendengar yang Baik Dalam Dunia Kerja?

Pengunduran diri, seperti yang digambarkan di film tersebut, bukan merupakan penyelesaian masalah terbaik. Namun demikian, dapat dijadikan alternatif pilihan terakhir. Lakukan terlebih dahulu berbagai upaya untuk bisa mengatasi masalah anda, sebelum memutuskan untuk berhenti. Karena berhenti atau melarikan diri tidak menyelesaikan masalah anda. Atasan dapat mencari pengganti, perusahaan tetap akan berjalan, namun jika anda tidak berani mengemukakan keberatan anda, selamanya anda tidak akan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Balance is not something you find, it’s something you create” ― Jana Kingsford

*Artikel ini ditulis oleh Tim EXPERD


Post Comment