Kehadiran Para Istri Simpanan

Istri simpanan atau istilah Inggris-nya adalah “Silent Wife”. Suka atau tidak, banyak perempuan yang memilih posisi ini. Apa alasan mereka?

Mungkin, sebagian besar dari kita kerap merasa nggak habis pikir, kok bisa ada perempuan yang mau menjadi istri simpanan. Kebanyakan orang memiliki harapan akan pernikahan berlandaskan cinta dengan kebahagiaan tanpa akhir. Namun, kenyataannya bukan satu atau dua perempuan yang rela menjadi istri simpanan. Dan alasannya pun beragam. Kami menemui beberapa narasumber dan berikut cerita mereka.

istri simpanan

Mencari Kenyamanan
Nama panggilannya Rissa. Setelah 7 tahun memperjuangkan suami yang ogah-ogahan memberinya nafkah lahir, membuat dia dan anaknya sering kelaparan, Rissa akhirnya memutuskan untuk bercerai. Ia lalu bekerja dan berkenalan dengan Hari, konsumen yang akhirnya menjadi tiang penyangga Rissa. Ketika ia lelah, ia berkeluh-kesah pada Hari. Ketika ia sedih, Hari orang pertama yang akan mengetahuinya. Bukannya Rissa tak tahu kalau Hari sudah berkeluarga, namun kebutuhannya untuk dukungan moril membuatnya bergantung pada Hari. “Saya sudah cukup lama menderita, jadi apa yang saya lakukan ini, menjadi istri simpanan, adalah usaha saya untuk bertahan hidup. Apa saya merasa bersalah kepada keluarga dan istri pertama? Ya. Apakah saya akan meninggalkan Hari? Tak mungkin. Dari segi keuangan, Hari tak berlebih. Tapi dia bertanggung jawab. Cuma bersama dia saya merasa nyaman dan damai. Dia dewasa, penyabar, dan mampu membimbing saya menjadi lebih baik.”

Desakan Ekonomi
Cerita Dinda adalah cerita kebanyakan istri simpanan. “Saya menikah karena uang. Karena keluarga saya butuh uang. Jadi, ketika kenalan paman saya bicara hendak melamar saya pada bapak, saya tahu jalan hidup saya ya memang begini.” Lahir di keluarga yang pas-pasan, Dinda tak melihat jalan keluar selain mengikuti keinginan keluarganya agar bisa hidup layak. Suaminya memiliki perusahaan di Jakarta. Alasan ia menikahi Dinda adalah karena ingin memiliki anak laki-laki. Dia memiliki empat anak yang semuanya perempuan. Lima tahun menikah, Dinda tak pernah bertemu keluarga suaminya. Yang ia tahu, apapun yang dia lakukan memang transaksional. Saat bapaknya butuh lebih banyak modal untuk menanam, ia akan berusaha lebih keras memuaskan suaminya di ranjang. “Apa saya pengen kayak perempuan lainnya yang bisa merasakan cinta setengah mati? Haduh, sekarang bisa makan tiga kali sehari saja sudah alhamdulillah. Cinta itu angan-angan buat saya. Yang penting saya sudah berbakti sama orang tua saya. Saya juga nggak melanggar aturan agama.”

Cinta Mati
Mungkinkah berbagi suami? Ternyata mungkin saja. Kekasih Alin, Jon harus menikah dengan anak partner bisnis ayahnya. Ayah Jon berutang budi pada partner bisnisnya, karena itu Jon tak mungkin menolak pernikahan bisnis itu. Setelah berminggu-minggu menjaga jarak, akhirnya Alin menyerah dengan perjuangan Jon untuk mendapatkannya kembali. “Orang mungkin tahunya saya simpanan Jon. Kebanyakan mungkin nggak tahu kalau hubungan saya dengan istri Jon baik-baik saja. Istri Jon juga punya pasangan sendiri di luar pernikahannya. Mereka cuma menikah demi bisnis, bukan karena cinta. Nggak enaknya sekarang saya yang sering dianggap perusak rumah tangga. Kalau mau hitung-hitungan, istrinya yang merusak hubungan kami yang sudah 5 tahun. Orang tua Jon juga tahu dan nggak komentar apa-apa. Saya terima nasib sudah cinta mati sama Jon. Makanya, meski harus berbagi dengan istrinya, saya ikhlasin ajalah.”

Terjebak rayuan
Mengaku bujang ternyata laki orang. Terdengar seperti lagu dangdut ya? Namun bukan sekali dua kali cerita ini terdengar. “Sikapnya yang lemah lembut dan romantis membuat saya luluh. Pokoknya dia perfect, deh. Kerjaan mapan, perhatiannya luar biasa, bisa diandalkan. Mana saya tahu kalau di kota lain dia sudah ada keluarga sendiri dan anaknya sudah dua. Tapi sudah terlambat, nggak mungkin saya meninggalkan dia saat keluarga saya sudah sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Mau maju salah, mau mundur salah. Saya cuma bisa berdoa semoga istrinya nggak jahat-jahat banget sama saya kalau suatu saat saya ketahuan.” Amanda kadang merasa dibohongi oleh suaminya, tapi demi menjaga kehormatan keluarga, ia rela menjadi istri simpanan. “Kalau bisa memutar waktu, mungkin dulu saya akan lebih teliti ngecek latar belakang dia dan keluarganya. Nggak saya telan mentah-mentah saja kata-katanya. Kalau sudah begini, lelaki yang enak, perempuannya yang disalahkan.

Hidup tak sekadar hitam-putih, tak jarang abu-abu mewarnai. Benarkah memilih menjadi istri simpanan? Sudah pasti tidak. Karena kondisi ini sudah pasti merugikan kaum perempuan dan hanya menyenangkan sebelah pihak, alias kaum laki-laki. Namun, suka atau tidak, mari kita membuka mata bahwa istri simpanan memang benar ada di tengah-tengah masyarakat kita!


Post Comment