Amalia Hayati, Bicara Soal Perawatan Kulit Perempuan Usia 30-an dan ‘Rumus’ Bahagia Jadi Ibu Tunggal

“Enjoy the little things that make you happy. Nggak harus semuanya melulu tentang anak kok. Kadang yang saya lihat, banyak yang terlalu ngoyo everything for my kid(s) from now on! Sampai-sampai lupa akan kebahagiaan dirinya sendiri. Jangan lupa, selamatkan diri sendiri sebelum menyelamatkan anak-anak,” ungkap Amalia Hayati.

Buat pembaca setia Female Daily Network dan aktif di forum, pasti sudah ngeh dengan sosok Amalia Hayati. Maklum saja, Amal, begitu saya sering menyapanya, memang termasuk orang pertama yang terlibat dalam perjalanan Female Daily Network. Bahkan Amal pun dipercaya menjadi Managing Editor Female Daily Network yang pertama selama beberapa tahun.

Screen Shot 2017-04-23 at 10.22.13 PM

Nggak heran, sih, soalnya Amal memang sangat concern dengan dunia kecantikan, baik skincare dan makeup. Perkenalan saya dengan single mother ini terjadi ketika saya resmi menjadi ‘warga’ Female Daily Network. Terus terang saja, pada awalnya saya cukup kaget kalau ternyata sudah menjadi single mother. Bahkan waktu itu saya mengira Amal belum menikah dan punya anak, hehehe.

Meskipun bukan keputusan yang mudah, menjadi single mother diusia yang relatif muda, Amal tidak pernah menyesal dengan keputusannya. Semuanya, toh, nggak terlepas untuk kebahagiaan dirinya dan tentu saja puteri semata wayangnya, Rasya.

Mal, ceritain sedikit dong ‘sejarahnya’ nyemplung dan aktif di forum Female Daily seperti apa.…

Dari sejak saya SMP memang saya tuh sudah hobi banget dengan segala macam yang berbau produk kecantikan. Awalnya sih saya suka coba-coba kutek dan lipstik. Nah, setelah kerja dan punya penghasilan sendiri bisa dibilang hobi saya yang satu ini makin menggila. Tapi ketersediaan barang dan informasi mengenai produk kecantikan saat itu masih terbatas. Belum lagi teman-teman saya tidak ada yang suka mainan makeup apalagi pakai skincare. Jadinya saya mencari pelarian dan teman di dunia maya.

Awalnya saya ikut forum Singapura yang namanya Cozy Cot dan senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang punya hobi sama. Ternyata, saya itu tidak aneh. Tapi tetap saja, sih, masih ada yang kurang. Begitu ada Female Daily, wah, senang sekali ternyata di Jakarta banyak juga yah yang tertarik hal yang sama dengan saya. Saya ini sebenarnya tidak mudah bergaul, mungkin karena muka saya jutek kali ya dan saya agak loner juga. Eh, tapi di sini saya malah dapat banyak teman dan nggak kerasa sudah 10 tahun saja mereka jadi bagian hidup saya.

Amal kan juga sempat kerja di Female Daily Network dan jadi Managing Editor Female Daily. Selama kerja di FDN, manfaat apa yang didapat?

Waktu saya pertama kali kerja di Female Daily waktu itu karyawan di kantor baru 5 orang termasuk saya dan para founders. Dengan tim yang kecil ini mau tidak mau semua harus dikerjakan sendiri. Belum lagi pekerjaan yang saya kerjakan di Female Daily semuanya adalah hal yang baru dan asing buat saya.

Hal yang paling berbekas untuk saya selama di Female Daily adalah untuk tidak pernah takut mencoba, jangan pernah takut tantangan baru dan belajar dari tantangan-tantangan tersebut, dan be part of a team karena kemajuan tim adalah kemajuan kita bersama.

Selain bekerja kantoran, Amal kan juga aktif jadi beauty blogger, bahkan sudah dianggap sebagai skincare guru. Sejak kapan, sih, Mal, memerhatikan kesehatan kulit seperti sekarang ini?

Sebenarnya awalnya pakai skincare itu waktu usia 12 tahun, dibeliin nyokap satu set skincare dari Nivea. Tapi namanya juga masih anak SMP, males banget deh pakai macam-macam begini, kok kayaknya bikin ritual mandi tambah panjang. Tapi waktu SMA saya pindah ke Australia, kebetulan pada saat saya pindah di sana sedang musim dingin dan baru beberapa hari menginjakan kaki di Australia kulit saya sudah kering dan gatal nggak karuan.

Akhirnya saya dibelikan Clinique 3-Step sama nyokap sebelum dia pulang ke Jakarta dan dengan pesan jangan lupa untuk dipakai setiap hari, dua kali sehari, kalau nggak mau kulitnya gatal-gatal terus. Saya turuti sarannya, karena keadaan kulit benar-benar tidak nyaman. Ternyata memang kondisi kulit kering itu lebih tidak nyaman kalau tidak terurus, ada saja masalahnya. Akhirnya sejak itu saya tidak pernah absen pakai skincare to this day, dan banyak mencari tahu tentang bermacam-macam kandungan yang cocok untuk kondisi kulit saya.

Mal, minta tips dong… untuk ibu-ibu, khususnya yang usia 30 tahunan ke atas, skincare apa yang perlu dimiliki, dan apa saja ‘aturan’ untuk merawat kulit untuk tetap sehat.

Kalau berbicara kulit yang sehat dan aturan, mudah saja sih, yang penting konsisten! Konsisten merawat kulit dengan memakai skincare tiap hari, dua kali sehari. Nggak ada yang namanya malas atau bosen!

Kalau langkahnya sebarnya mulai dari yang basic saja dulu: cleansing, toning, moisturizing and protect. Untuk selengkapnya bisa dibaca di artikel yang pernah saya tulis di blog saya, link artikel: Skincare for Beginners: when, what & how). Kadang banyak yang malas memulai karena berasumsi skincare yang bagus itu biasanya mahal. Padahal nggak loh! Penjelasannya bisa dilihat di link artikel Skincare doesn’t have to be expensive)

Kalau sudah khatam dua aturan di atas, baru deh fokus ke masalah yang memang banyak dihadapi di usia-usia 30-an ke atas. Biasanya sih kulit kondisinya sudah tidak prima lagi dan mulai mengalami signs of ageing. Beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya adalah investasi ke serum-serum yang memang membantu masalah tersebut seperti misalnya:

  1. Vitamin C
  2. Vitamin A atau retinol yang merupakan kandungan yang melawan early signs of egeingpada kulit.
  3. Hyaluronic Acid yang menjaga kekenyalan kulit dan membuat kulit terjaga elastisitasnya.

Tapi semuanya balik lagi, skincare itu kan cuman satu hal. Kulit yang sehat itu mulainya dari body and mind yang sehat juga.

Oh, ya, Mal… sebagai ibu bekerja dan single mother, kesulitan apa sih yang paling dirasakan dalam hal membesarkan anak…

I won’t lieit’s financially challenging to be a single mother. Mau tidak mau, rumah tangga saya sekarang single income, berarti apapun yang terjadi saya harus siap kalau ada apa-apa semuanya harus ditanggung sendiri. Padahal, kebayang kan kalau punya anak itu biayanya besar sekali? That means I have to work twice as hard to support my daughter.

Padahal, dengan hanya ada satu kepala saja di rumah yang sehari-hari menjaga dan merawat anak, berarti saya perlu waktu ekstra untuk anak saya. Idealnya, dengan tidak adanya figure ayah sehari-hari di rumah saya memang meluangkan waktu lebih banyak untuk anak saya yah tapi karena saya harus bekerja jadi memang terkadang banyak hal yang akhirnya tidak bisa saya lakukan. But life isn’t always ideal and I have to make peace with it and do the best I can.

It is a bittersweet journey. I don’t shy away from all the help that I can get. Ada kalanya saya harus tugas keluar negeri, tapi anak saya nggak ada yang jaga di rumah, akhirnya harus saya pasrahkan ke teman baik saya untuk menjaganya. Saya juga sudah sempat nulis di Mommies Daily, kok.

Screen Shot 2017-04-23 at 10.16.42 PM

Selama ini, bagaimana cara Amal menyeimbangkan kehidupan di rumah sebagai seorang single mother, sekaligus sebagai seorang profesional dalam melakukan pekerjaan?

Beberapa tahun lalu saya memutuskan untuk berhenti bekerja di Female Daily. Karena setelah dijalani, ternyata pekerjaan di Female Daily yang menyita waktu sepertinya tidak cocok untuk saya sebagai single mother. Apalagi saat saya berhenti, Female Daily mulai naik daun, pekerjaan mulai bertumpuk dan undangan liputan keluar kota dan negeri makin banyak. Enak, sih, jalan-jalan. Tapi saya sadar, susah sekali untuk saya bagi waktu.

Akhirnya saya mencari kerjaan yang waktunya lebih fleksibel dan memutuskan untuk menjadi konsultan saja, yang di mana pekerjaan saya bisa saya lakukan di mana saja dan waktunya bisa saya atur sesuai kebutuhan saya dan permintaan klien saya.

Ada kalanya memang akhirnya saya harus mengorbankan waktu saya dengan klien karena ada hal-hal yang tidak terduga, misalnya ternyata di rumah tidak ada yang jaga anak jadi mau tidak mau saya harus pulang duluan dari meeting, atau anak saya sakit jadi saya harus mengurusinya dulu jadi saya datang terlambat, dll. Kalau memang hal-hal tersebut terjadi, saya selalu berbicara apa adanya baik kepada rekan kerja ataupun klien. Karena kondisi saya ini tidak pernah menjadi penghalang dan alasan, akhirnya lingkungan saya pun lebih fleksibel.  

Sebagai orangtua tunggal, kesulitan apa yang paling dirasa dalam membesarkan anak perempuan?

Absennya figur seorang ayah dalam keseharian anak saya. Karena tumbuh besar, saya sadar betul pentingnya figur authority seorang ayah. Akhirnya, selain otoritas itu akhirnya sebagian besar saya yang pegang, anak saya akhirnya dekat sekali dengan ayah saya. Kalau ditinggal lama mudik, susah deh, pasti lewat seminggu sudah dicariin. Akhirnya setelah masa pensiun pun ayah saya jadi sering menghabiskan waktu di Jakarta.

Bagaimana cara Amal untuk tetep bahagia setelah jadi single mother…

Saran saya, jangan terlalu banyak mendengar pendapat orang. Sebagai single mother pasti ada saja komen negatif, yang mungkin menurut orang yang berkomentar normal dan tidak negatif, tapi tidak terlelakan ternyata lumayan jleb juga! Kadang malah komen-komen tersebut datangnya dari inner circle kita seperti keluarga, teman dekat, dll. They probably mean well. Sabar saja dan jangan terlalu dibawa pusing. Take it with a grain of salt.

Dengan tidak terlalu ambil pusing, akhirnya hidup saya jadi lebih mudah. Karena cobaan terbesar adalah menepis semua komen negatif yang membuat kita makin tambah kepikiran akhirnya yang namanya bahagia makin jauh saja.

Yang kedua, enjoy the little things that make you happy. Nggak harus semuanya melulu tentang anak kok. Seperti misalnya menghabiskan waktu bersama teman dekat, memilih pekerjaan yang membuat kalian bahagia. Perasaan soal ini juga sudah sempat saya tulis di Mommies Daily. Atau sekedar membeli makeup atau skincare baru. Kadang yang saya lihat, banyak yang terlalu ngoyo everything for my kid(s) from now on! Sampai-sampai lupa akan kebahagiaan dirinya sendiri. Jangan lupa, selamatkan diri sendiri sebelum menyelamatkan anak-anak. Bagaimana kita mau membuat anak bahagia kalau kitanya sendiri tidak bahagia.

Thanks for sharing, ya, Mal :)

 


Post Comment