Pusing Menghadapi Rekan Kerja si Kepala Batu? Pakai 5 Cara Ini Untuk Menghadapinya

Sudah mentok dan emosi tingkat tinggi menghadapi si kepala batu? Hembuskan napas panjang, dan siapkan diri untuk menghadapi dengan 5 cari ini.

Di lingkungan kerja nggak bisa dihindari, mommies pasti bertemu dengan berbagai macam karakter manusia. Bisa dengan atasan, rekan, klien, ataupun tim satu divisi. Iya, kalau karakternya menyenangkan, kalau nggak cocok dengan kita? Yaaa nggak bisa menghindar, dong, ya.

Pusing Menghadapi Rekan Kerja si Kepala Batu? Pakai 5 Cara Ini Untuk Menghadapinya - Mommies Daily

Salah satu sifat yang mungkin sulit untuk dihadapi adalah keras kepala atau kepala batu, ada yang pernah mengalaminya?  Sifat ini kemudian tergambar pada sikapnya yang cenderung keras dan ingin agar keinginannya yang diutamakan dan terwujud. Hal ini menjadi lebih sulit apabila sifat ini dimiliki oleh rekan kerja kita. Dengan sifat seperti ini, sosok yang seharusnya menjadi pihak yang bekerjasama dengan kita terkait proses kerja dan pencapaian target, justru bisa menjadi sosok yang menyulitkan kita untuk menuntaskan kerja. Apabila mommies memiliki rekan yang seperti ini, maka apa yang harus dilakukan, ya?

Baca juga: Cara Menyampaikan Kritik Secara Profesional kepada Tim Anda

  1. Instrospeksi diri

Introspeksi selalu perlu dilakukan ya mommies dalam berbagai situasi kehidupan. Coba buat penilaian secara obyektif, apakah sosok yang anda anggap kepala batu ini memang keras dalam berbagai situasi, ataukah hanya sesekali saja, atau bahkan hanya kepada mommies? Ataukah justru mommies yang merasa bahwa banyak rekan yang kepala batu di kantor?

Dalam berelasi, bisa jadi lawan bicara bereaksi sesuai dengan pesan atau kesan yang kita hantarkan. Bisa saja rekan menjadi tinggi nada bicaranya karena kita juga berbicara dengan nada tinggi. Demikian pula dengan sikap keras kepala. Periksa dulu perilaku kita pada orang lain. Jangan-jangan kitalah yang menunjukkan sikap keras kepala sehingga tidak terbuka pada gagasan atau langkah dari rekan lain, dan ketidakterbukaan tersebut  membuat kita merasa rekan menjadi bersikap keras terhadap ide atau masukan dari diri kita.

Baca juga: Saya Mempunyai Rekan Kerja yang Sok Senior, Harus Bagaimana, ya?

  1. Diskusi dengan rekan kerja yang lain

Jika memang ternyata ada rekan yang secara obyektif dan banyak dikeluhkan oleh tim (termasuk anda) karena keras kepala, maka kita bisa mulai berdiskusi dengan rekan yang lain mengenai bagaimana cara untuk menghadapinya. Dari sekian banyak rekan kerja di kantor pasti ada pihak yang cukup dekat dengan si kepala batu tersebut sehingga mommies dapat mencari tahu cara untuk menghadapinya. Misalnya melakukan brainstorming bersama mencari cara yang cukup efektif untuk menghadapi si kepala batu ini.

Baca juga: Komunikasi Antar Divisi, Apa yang Perlu Diperhatikan?

  1. Lakukan pendekatan namun jangan coba untuk mengubah sifatnya

Sifat atau karakteristik seseorang biasanya menetap sehingga sulit untuk diubah. Namun demikian, mommies bisa saja membantu pihak yang kepala batu tersebut untuk lebih menyesuaikan perilakunya di lingkungan. Perlahan, berdiskusi berdua dan terbuka. Pilih waktu yang tepat, misalnya saat suasana kerja dan suasana hati sama-sama sedang baik.

  • Saat berdiskusi, gunakan ‘I message’ dan topik yang sifatnya professional, seperti misalnya ‘Saya merasa kesulitan untuk bekerjasama bila Anda kurang mendengarkan pendapat saya atau rekan satu tim’. Perjelas dengan contoh nyata agar ia mengerti bahwa keras kepala tersebut memang terlihat dalam lingkungan kerja.
  • Berikan juga gambaran implikasi dari sifat tersebut di pekerjaan. Agar lebih adil, gali apakah ada persoalan di masa lalu yang membuatnya menjadi keras kepala. Misalnya dahulu ia sering tidak didengarkan dan baru mendapatkan perhatian ketika ia ‘keukeuh’ dengan pendapat atau langkah kerjannya.
  • Agar ia tidak merasa terancam, jangan lupa tanyakan apakah ada sikap mommies atau rekan tim lain yang membuatnya tidak nyaman sehingga ia mengeluarkan sikap yang demikian.
  • Kemudian bicarakan perilaku yang diharapkan darinya yang sekiranya dapat memudahkan interaksi dan kerjasama dengan mommies atau anggota tim lainnya. Perubahan sikap memang belum tentu langsung dapat terlihat, namun dengan adanya informasi bahwa kerjasama tim dapat terhambat oleh sifat keras kepalanya tersebut, maka diharapkan ia memiliki kesadaran untuk secara perlahan menyesuaikan sikap dan menahan diri sehingga dapat mulai mendengarkan pihak lain ataupun mengalah demi kepentingan bersama.
  1. Hadapi dengan tenang dan sabar

Seorang yang keras kepala umumnya tidak bersedia dikalahkan. Biasanya mereka akan berusaha dengan segala upaya agar keinginannya bisa terwujud. Nah, jangan dilawan dengan emosi,  mommies sebaiknya lebih menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh sikapnya. Keras tidak perlu dihadapi dengan keras. Dalam situasi ini jadilah sosok yang lebih tenang, sehingga mommies bisa menghadapinya dengan logis. Menjadi sosok yang leih tenang juga menghindarkan Anda dari membuang energi yang sia-sia untuk bersikap keras.

  1. Mengurangi interaksi

Apabila mommies sudah mencoba bersabar, berdiskusi, dan memberikan upaya perbaikan namun hal tersebut tidak kunjung berhasil, maka mengurangi interaksi dengan pihak yang keras kepala menjadi salah satu pilihan. Lebih baik konsentrasi dan energi pada pekerjaan dan berusaha menjalankannya sebaik mungkin. Gunakan sarana formal seperti penilaian 360 untuk memberikan masukan pada rekan yang keras kepala tersebut. Mommies juga bisa berbicara dengan atasan terkait dengan kesulitan menghadapi rekan yang demikian, apalagi bila hal tersebut mengganggu kinerja tim. Melalui hal ini diharapkan atasan yang akan mengambil langkah lebih lanjut sehingga rekan tersebut dapat lebih menyesuaikan perilakunya.

Baca juga: Lima Tipe Rekan Kerja yang Tidak Bisa Dipercaya

Selamat mencoba ya mommies..

*Artikel ini ditulis oleh Tim EXPERD


Post Comment