Kecil-Kecil, Kok, Sudah Pelupa Berat

Lho, masih kecil kok, sudah gampang banget lupa, sih?

“Ibu, aku tuh sebel deh sama diriku sendiri,” suatu kali anak saya, Bumi berkeluh kesah seperti ini.

Lho, memang kenapa? Apa yang bikin Bumi nggak suka dengan diri Bumi sendiri?” tanya saya balik.

“Aku, tuh, suka kesel karena aku sering lupa. Kenapa, sih, Bu… aku sering lupa?” curhatnya lagi.

Meskipun nggak tergolong mengalami ‘short term memory loss’ macam Dory di film Nemo, tapi kondisi lupa yang dialami anak saya, Bumi, tetap membuatnya terganggu. Kalau saya, sih, sebagai orangtua sebenarnya nggak terlalu khawatir.  Bukannya cuek atau nggak peduli, tapi kadar lupanya nggak terlalu akut, kok, pikir saya.

kecil kecil kok pelupa berat-mommiesdaily

Contohnya begini… kalau malam, saya sudah sering kali mengingatkan Bumi untuk menyediakan air minum sendiri di botolnya. Tapi, seringnya anak ini lupa. Begitu di kamar dan mau minum, dia baru ngeh kalau botol minumannya tertinggal di ruang makan. Pun ketika ke sekolah, enah berapa kali Bumi lupa membawa pulang botol minumannya

Contoh lainnya, kalau sedang pakai baju, beberapa kali Bumi lupa menggunakan baju dalaman. Padahal baju dalamannya sudah ia siapkan. Begitu saya tanya kenapa nggak pakai, pasti dia bilang karena lupa. Oh, ya, satu nih yang saya ingat, beberapa kali setelah wudhu lalu kami ngobrol sebentar, anak saya ini kemudian bisa lupa kalau mau sholat.

“Mas Bumi, bukannya tadi mau sholat? Kok, malah ambil buku cerita lagi?” tanya saya moncoba mengingatkan.

“Oh, iya, aku lupaaa….” jawab Bumi sembari menepuk keningnya.

Hahahaha… kalau sudah mendengar jawabannya begini saya malah jadi ngikik sendiri.

Kalau dipikir-pikir, saya pun termasuk orang yang gampang lupa. Konon, kondisi lupaan seperti ini bisa dikarenakan faktor genetik. Hal ini sudah dibuktikan lewat studi dan tertangkap dalam jurnal Neuriscience Letters, di mana para peneliti dari Universitas Bonn telah membuktikan kalau ada kaitannya orang pelupa dengan faktor genetik.

Tapi apa iya, cuma gara-gara faktor genetik saja?

Menurut Mbak Vera Itabiliana, selaku psikolog anak, sebenarnya kondisi lupa yang dialami Bumi memang masih wajar. “Selama lupanya itu nggak mengganggu konsentrasinya seperti saat belajar di sekolah, masih sangat wajar, kok”.

Mbak Vera menjelaskan, sifat pelupa pada anak baru perlu diwaspadai ketika memang sudah mengganggu konsentrasinya, susah fokus dengan aktivitas yang dilakukan baik di rumah ataupun di sekolah. Soalnya kondisi lupa di sini, bisa menjadi indikasi kalau anak memang mengalami gangguan konsenstasi atau ADHD. “Tapi ini juga perlu dibedakan dan dicocokan kembali, apakah benar anak tersebut mengalami ADHD. Untuk menentukan anak ADHD tentu saja perlu observasi mendalam lebih dulu,” ungkap Mbak Vera.

Cara yang mudah untuk mengetahui anak mengalami gangguan konsentrasi atau tidak tentu saja dengan cara memerhatikan anak, apakah perhatian anak gampang teralihkan, dan aktivitasnya seperti tidak ada tujuannya. Anak yang sering lupa karena gangguan konsentrasi, banyak melakukan aktivitas tapi tidak pernah fokus dan selesai. Banyak bergerak tapi tujuan nggak jelas. Hal inilah yang perlu diperhatikan orangtua.

Mbak Vera melanjutkan, pada dasarnya, tipe anak itu memang sangat beragam. Ada tipe anak yang idenya banyak sekali, sehingga apa yang dia pikirkan banyak tidak fokus dengan aktivitas yang ia hadapi saat itu. Belum lagi kalau ingat tingkat atensi anak memang masih terbilang pendek. Tidak mengherankan kalau anak menang belum sanggup untuk multitasking dan sering skip melakukan sesuatu.

Selain itu, menurut Mbak Vera ada beberapa faktor yang memicu anak sering lupa. “Ada anak yang pelupa karena sejak kecil memang terbiasa tidak mengerjakan sesuatunya sendiri, selalu menerima bantuan oranglain. Ada anak juga yang tidak terbiasa untuk terorganisir dan teratur. Misalnya saat main kita perlu melatih anak untuk membereskan mainan dulu, baru bisa  pindah ke mainan yang lain. Jadi memang perlu diajarkan disiplin.”

Langkah lain yang bisa dilakukan untuk membantu anak adalah dengan membuat check list.  Misalnya, nih, supaya nggak lupa dengan barang bawaannya sendiri, Mbak Vera menyarankan saya untuk membuat karti kecil yang bisa digantung di tas Bumi. Dengan begitu setiap mau pulang sekolah, Bumi bisa melihat barang apa saja yang harus dimasukan ke dalam tas.

“Kalau di rumah, bisa juga buat daftar atau kata-kata yang bisa membantu daya ingat anak. Misalnya di wasefel, bisa tulis jangan lupa matikan keran.”

Wah, pulang nanti PR saya jadi nambah satu, nih! Membuat kartu pengingat Bumi sebagai gantungan kunci!

 

 


Post Comment