Nggak Ada Kamus “Kakak Harus Selalu Ngalah” di Anak-anak Saya

Saya nggak pernah mengeluarkan kalimat ke anak saya yang pertama kalau dia harus selalu mengalah ke adiknya.

Jauh sebelum saya menikah, saya selalu nggak terima kalau melihat di keluarga besar saya, keluarga besar suami atau saat suami istri yang saya kenal dengan anak lebih dari satu mengeluarkan kalimat seperti ini: “Kakak ngalah dong sama adiknya. Adik kan masih kecil.” Padahal situasinya si adik jelas-jelas salah atau nyebelin *__*. Jadilah dalam hati saya bertekad bulat tidak akan menerapkan aturan yang sama jika kelak saya punya anak lebih dari satu.

Prinsip saya adalah, baik itu kakak atau adik, ya mereka bisa salah atau bisa benar. Kalau memang si adik melakukan kesalahan, nggak peduli usia berapa, saya akan menjelaskan ke adik kalau dia salah dan dia wajib meminta maaf kepada kakaknya (kalau si adik sudah mengerti saat diajak omong.) Kalau belum ngerti, ya paling saya akan katakana “Adik, nggak boleh gitu, kamu salah mukul kakak. Kakak jadi kesakitan kan.”

Intinya, saya nggak mau si anak bungsu merasa mempunyai privilege untuk berbuat seenak hati atas nama “Kan aku adik, masih kecil, kakak harus ngalah dong sama aku.”

Nggak Ada Kamus “Kakak Harus Selalu Ngalah” di Anak-anak saya - Mommies Daily

Ada alasan kenapa saya menghindari prinsip si kakak harus ngalah terus, karena sepanjang yang saya lihat dari sisi adik yang terbiasa ‘menang’ di keluarga besar kami (saya dan suami), si adik tumbuh menjadi sosok yang nggak punya sopan santun, menjadi anak yang mau menang sendiri dan menjadi anak yang kasar.

Di luar itu semua, menurut mbak Vera Itabiliana Psi, ketika orangtua terbiasa meminta si kakak untuk selalu mengalah, maka pola asuh seperti ini akan membentuk si kakak menjadi pribadi yang terus menerus mengalah atau sebaliknya, memberontak di luar rumah. Kenapa si kakak menjadi memberontak? Karena ia merasa ditekan di rumahnya sendiri. Merasa tidak diperhatikan, selalu dinomorduakan dan selalu menekan emosinya. Akan berbahaya jika emosi yang selama ini terpendam menjadi meledak. Kita nggak pernah tahu kan meledaknya akan seperti apa? Dan yang pasti relasi antara kakak dan adik juga nggak bagus, karena si kakak menjadi sebal dengan sosok adiknya, atau saya malah khawatir jika si kakak dendam karena merasa adiknya sudah ‘mencuri’ perhatian yang seharusnya untuknya.

Baca juga:

Dendam, Emosi yang Wajib Dikelola dengan Baik Oleh Anak

Bagaimana dengan si adik? Di luar pengamatan yang saya lihat dari kejadian-kejadian di sekitar saya, mbak Vera menambahkan, saat si adik terbiasa menang dari kakaknya, jangan heran jika kelak ia tumbuh menjadi seorang pribadi mudah frustasi, ketika menemukan rintangan cepat-cepat meminta bantuan orang lain. Sama sekali nggak ada daya juang karena si adik biasa dimudahkan dan apa-apa dikasih. Karena dia merasa bahwa selama ini lingkungan selalu memenuhi keinginannya, adik pun akan sulit beradaptasi.

Baca juga:

Cerita Seru Tentang Membangun Karakter Anak

Bagaimana dalam kondisi ketika adik memang belum mampu melakukan sesuatu? Misalnya dalam melakukan sebuah aktivitas, maka jelaskan ke kakak bahwa adik seperti itu bukan karena adik manja atau nggak mau melakukannya, namun karena adik memang belum bisa.

Mbak Vera memberi contoh dalam kasus kedua anaknya, untuk urusan menjemur handuk, karena posisi jemuran memang lumayan tinggi, maka si kakak diminta bantuannya. Posisikan bahwa sebagai kakak, ia bertanggung jawab membantu adiknya dalam kondisi-kondisi yang memang adik belum bisa melakukannya sendiri. Jadi, kakak menolong karena kesadaran, dan adik pun juga ingat untuk mengucapkan terimakasih.

Berbeda kasus kalau urusannya seperti memilih makanan, film atau destinasi liburan. Jangan selalu menuruti keinginan adik dengan alasan kakak ngalah ya sama adik.

Jadi, kalau anak saya yang bungsu untuk kesekian kalinya ngedumel dan membandingkan dirinya dengan sepupunya, jawaban manis saya adalah “Karena dia bukan anak mama.” Ahahahahaha

Baca juga:

How to Handle Sibling Rivalry?


One Comment - Write a Comment

  1. Kalau suami sama abg iparku beda mbak.. suamiku selalu ngalah dari kecil, sampe akhirnya dia pernah berontak waktu remaja.. (di suku dia khususnya di keluarganya, anak/cucu laki2 pertama selalu lbh disayang dari yg kedua dst).

    Tapi skrg justru suami lebih tahan banting, dan abgnya jd terlalu bergantung sama org, khususnya ke kakak + ortu nya :)

    Jadi saya & suami akhirnya sepakat, ga mau ngadopsi pola asuh kaya gitu.. Apalagi calon anak kedua ini jg bakal laki2..
    Semoga saya bisa terapkam pola asuh yg seperti mbak bilang

Post Comment