Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kasus “Pajak Payudara” di India                                                                                                                

Seorang perempuan sengaja memotong payudaranya sendiri, sebagai bentuk aksi protes adanya pajak payudara.

Apa jadinya jika perempuan tidak boleh menutupi payudaranya ketika berada di muka umum? Secara akal sehat, hal ini benar-benar bertentangan dengan norma kemanusiaan, ya, mommies. Pada awal abad ke-19, tepatnya tahun 1900-an, ada kasus Mulakkaram, perempuan dengan kasta rendah di India  dilarang menutupi payudaranya saat bepergian. Jika dilanggar maka dikenakan “pajak payudara.”

Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kasus “Pajak Payudara” di India - Mommies DailyImage: www.indiaopines.com

Pajak aneh ini, diberlakukan oleh negara bagian Travancore, yaitu salah satu negara bagian pada masa kepemerintahan Inggris di India. Tujuannya untuk mempertahankan struktur kasta pada masa itu. Jadi dari cara berpakaian sudah bisa ditentukan status kasta. Kasta rendah yang dimaksud pada masa itu, adalah Thia, Nadar, Dalit dan Ezhava.

Praktik ini mendapatkan perlawanan dari Nangeli yang berasal dari kasta Ezhava. Ia menolak membayar pajak tersebut, dengan cara memotong payudaranya sendiri. Peraturan biadab ini, tak sebatas pada area payudara. Perempuan juga dikenakan pajak jika mengenakan perhiasaan dan pakaian sari khas India. Sementara untuk pria, mereka tidak diizinkan menumbuhkan jenggot. Berbahagialah mommies yang hidup di era demokrasi, di mana hak kita sebagai manusia dilindungi oleh undang-undang.

Nangeli akhirnya meninggal karena perdarahan. Suaminya “menyusul” Nangeli, dengan cara bunuh diri terjun ke dalam api pembakaran jenazah istri tercinta. Kasus Nangeli, juga berdampak pada keluarganya mereka harus pindah ke kampung tetangga untuk meneruskan kehidupannya.

Perjuangan Nangeli, untuk perempuan di Travancore tidak sia-sia. Raja akhirnya meninjau ulang “pajak payudara” tersebut. Aksi protes Nangeli mendapatkan menyita perhatian seniman lukis Murali T, sekitar tahun 2012. Sayangnya kisah Nangeli tidak diakui secara resmi sebagai bagian dari sejarah India. Hingga akhirnya, Murali harus riset langsung ke Cherthala, daerah  yang dipercaya pernah ditinggali Nangeli, sekitar 100-an tahun lalu. Murali telah merealilasikan perjuangan Nangeli ke dalam 3 lukisan, dan bukunya – Amana, The Hidden Pictures of Histories.

Dari kasus Nangeli, sebetulnya apa yang bisa pelajari? Yang pertama menurut saya, perempuan harus bisa mempertahankan haknya, dalam kondisi apapun. Kita punya hak melawan diri! Apalagi zaman sekarang sudah semakin banyak akses untuk perempuan menyuarakan aspirasinya. Manfaatkan, dan jangan hanya diam ketika hak kita diinjak-injak.

Kedua, siapapun punya hak membela kaumnya. Tak pandang kasta dan level sosial lainnya. Jika ada pelanggaran hak secara hukum, jangan segan melapor ke polisi. Jangan malu, atau segan apalagi minder karena anggapan, sebagai rakyat biasa, kasus kita tidak akan dianggap polisi, bergerak, lawan dan cari keadilan!

Dan yang terakhir, menurut saya adalah pentingnya belajar dari sejarah. Meski terkadang kelam, perjalanan sejarah, pasti punya nilai kemanusiaan yang bisa diambil hikmahnya. Seperti kisah Nangeli ini. Kalau di Indonesia, kita mengenal RA Kartini, pejuang perempuan yang ingin kaumnya  memiliki kedudukan setara dengan laki-laki, terutama dari segi pendidikan.

Semoga makin banyak Nangeli atau RA Kartini dari masa sekarang. Memperjuangan hak perempuan dalam cakupan yang lebih luas.

Baca juga:

Mengalami Pelecehan Seksual di Kantor, Apa yang Harus Dilakukan?       

Empowering Other Woman


Post Comment