Kenali Arti Warna Pup Bayi

Dari warnanya, kita bisa menilai apakah perut bayi baik-baik saja atau tidak. Warna pup bayi tertentu ternyata jadi pertanda penyakit berbahaya, lho.

Menurut suami saya, setelah memiliki anak, tingkat kecemasan saya meningkat. “Bahkan kamu mencemaskan warna pup anak kita.” Begitu kata suami saya. Eeeiitttsssss, tunggu dulu, ini saya yang belum pernah berbagi atau memang pak suami belum tahu? Bahwa warna pup bayi menentukan segalanya. Bagi saya, warna pup bayi merupakan salah satu cara untuk mengetahui kesehatan pencernaan bayi. Selain teksturnya, warna ternyata punya arti khusus dan menjadi tolak ukur sehat atau tidaknya bayi.

mengenali warna pup bayi-mommiesdaily,jpg

Secara umum, warna normal feses bayi adalah kuning atau cokelat. Warna pup ini datang dari organ hati. Mulanya, organ hati memproduksi cairan empedu dan menyimpannya di dalam kantong empedu. Organ terakhir ini akan mengeluarkan cairan ke dalam usus kecil untuk membantu proses pencernaan. Cairan empedu inilah yang kemudian memberikan warna tertentu pada feses.

Berikut beberapa warna feses yang harus menjadi perhatian:

  1. Kuning

Feses bayi yang berwarna kuning mengindikasikan bahwa kesehatan bayi normal. Selama masa ASI eksklusif, feses bayi akan berwarna cerah atau didominasi warna kuning (sering disebut golden feces). Artinya, bayi memperoleh ASI penuh, dari ASI depan (foremilk) hingga ASI belakang (hindmilk). Pada saat menyusu, bayi akan lebih dulu mengisap ASI depan. ASI bagian ini memiliki lebih banyak kandungan gula dan laktosa, namun rendah lemak. Sifatnya yang mudah dan cepat diserap membuat bayi sering lapar. Sementara itu, ASI belakang mengandung lebih banyak lemak. Lemak inilah yang membuat tinja menjadi kuning. Sedangkan pada bayi yang minum susu formula, atau ASI yang dicampur dengan susu formula, umumnya warna feses akan menjadi lebih gelap. Seperti kuning tua, agak cokelat, cokelat tua, kuning kecokelatan atau cokelat kehijauan.

  1. Hijau

Warna hijau juga masih dalam kategori normal. Hanya saja, jika pup bayi terus-terusan berwarna hijau berarti pemberian ASI belum benar. Sebab, bayi hanya mengisap ASI depan, sementara ASI bagian belakang tidak terisap. Konsumsinya yang terus menerus memberi pengaruh pada proses pencernaan hingga akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga mengakibatkan produksi gas yang terlalu banyak, dan membuat kolik pada bayi.

  1. Merah

Jika warna merah terlihat pada feses bayi, patut diperiksakan kepada dokter. Merah pada feses bisa disebabkan oleh darah yang menyertainya. Ada beberapa kemungkinan asal darah ini. Pertama, darah dari ibunya. Bayi terkadang sempat mengisap darah ibunya selama proses persalinan. Maka, pada fesesnya akan ditemukan bercak hitam yang merupakan darah. Secara umum, bercak itu muncul selama satu sampai tiga hari. Kedua, darah dari bayi sendiri. Darah pada tinja dari tubuh bayi sendiri bisa muncul lebih lama. Bentuknya, bisa berupa cair atau gumpalan. Kemungkinan penyebabnya ialah alergi susu formula atau penyakit.

Kemungkinan penyakit lainnya ialah disentri amuba atau basiler. Cirinya, feses berwarna merah bercampur lendir yang cair. Sementara jika warna feses merah segar seperti darah dan menetes, umumnya karena ada kelainan pada usus besar bagian bawah, seperti polip, luka di daerah anus, hemoroid. Jika bayi menderita penyakit serius, biasanya ada tambahan gejala lain seperti membuncit atau menegang perutnya, muntah, demam, rewel, dan tampak kesakitan.

  1. Putih, pucat, atau keabu-abuan

Ini adalah warna ‘alarm’ yang harus diketahui oleh seluruh orang di rumah. Baik encer ataupun padat, warna keabu-abuan pada feses bayi menunjukkan ganguan kesehatan yang berisiko tinggi. Seperti gangguan pada organ hati atau sumbatan di saluran empedu. Hal ini terjadi akibat cairan empedu yang tidak bisa mewarnai tinja.

Bila bayi sampai mengeluarkan tinja berwarna putih atau keabu-abuan, jangan tunda untuk dibawa ke dokter. Sebagai langkah pertama, dokter biasanya akan segera melakukan pemeriksaan dengan USG pada hati dan saluran empedunya. Jika terlambat, atau sekitar usia tiga bulan ke atas, ada potensi kerusakan hati. Pilihannya tinggal transplantasi hati.

 

 

 

 

 

 

 


Post Comment