Dendam, Rasa yang Wajib Dikelola Anak dengan Baik

Akibat sakit hati, seorang anak remaja yang masih duduk di bangku SMA tidak segan menghilangkan nyawa temannya sendiri. Sefatal itukah rasa dendam yang bercokol di hati seorang anak?

Entah sudah berapa puluh bahkan ratusan pemberitaan yang saya baca soal kasus tindak kriminal yang dilakukan seseorang dilandasi rasa dendam. Yang terbaru, masyarakat dibikin geger lantaran ada anak SMA yang masih berusia belasan tahun membunuh temannya sendiri hanya karena pelaku merasa kesal beberapa kali dipergoki korban mencuri barang-barang milik siswa lain.

dendam

Lebih mencengangkan lagi, seperti yang sudah diberitakan diberbagai media, saat reka ulang tersangka juga bersikap biasa saja. Seperti nggak punya dosa, dan nggak menyesali perbuatannya. Bukan hanya rasa empati, mungkin sisi kemanusiaan sudah lenyap entah ke mana.

Baca juga : 4 Cara Mengajarkan Anak Untuk Bisa Berempati

Tapi dari kasus ini saya jadi bertanya-tanya sendiri, sebegitu besarkah dampaknya rasa dendam seseorang yang terus dipelihara? Sepanjang hidup, saya cukup paham kalau ilmu ikhlas memaafkan itu luar biasa sulit. Tapi nggak ada yang mustahil untuk dipelajari bukan? Saya juga paham bahwa rasa emosi dan marah merupakan luapan perasaan yang sangat wajar dan bisa dirasakan oleh siapapun. Namun, bagaimana dengan rasa dendam?

Kemarin, saya sempat ‘konsultasi’ dadakan dengan Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. Bukan apa-apa, saya kok, ngeri ya, kalau anak saya tidak bisa meregulasi emosinya dengan baik hingga akhirnya terus menanam kebencian dan rasa dendam.

Dalam hal ini, Mbak Vera selaku psikolog anak dan remaja menegaskan kalau dendam sifatnya itu juga manusiawi seperti halnya emosi yang lainnya. Namun dendam sudah berupa tindakan, atau rencana tindakan sebagai pelampiasan marah atau keinginan menyakiti atau keinginan untuk mendapatkan kembali.

“Sebenarnya dendam dapat dikendalikan agar tidak merugikan diri sendiri atau menyakiti orang lain. Dendam boleh ada tapi anak tidak boleh jadi pendendam,” tegas Mbak Vera.

Saya pun lantas bertanya, mengapa seorang anak bisa menjadi pendendam? Apakah memang hanya semata-mata dikarenakan pola asuh yang keliru? Dan ternyata, seorang anak bisa menjadi pendendam memang dapat terpupuk dari pola asuh orangtua yang (kadang) tanpa disadari malah membuat anak jadi pendendam.

Misalnya, selalu menyalahkan orang lain atau sesuatu ketika sesuatu hal yang tidak menyenangkan terjadi seperti ketika anak jatuh, lantai yang disalahkan. Atau saat anak dapat nilai ulangan jelek, yang disalahkan guru atau hal lainnya di luar diri anak. Sehingga anak terbiasa untuk melihat masalah sebagai akibat dari ulah orang lain ketimbang instropeksi ke dalam dirinya.

“Pola asuh lainnya yang keliru seperti saat anak memukul, ortu balas memukul atau saat anak melakukan sesuatu yang buruk lalu ortu balas melakukan yang sama. Contoh, ‘Mama habisin ya kuenya, kamu kan juga habisin kuenya mama kemarin’,” ungkap Mbak Vera.

Selanjutnya Mbak Vera mengungkapkan, salah satu pemicu mengapa anak bisa belajar untuk dendam, adalah dikarenakan pola asuh yang otoriter. Di mana orangtua terlalu banyak menekan anak sehingga anak merasa selalu salah dan tidak punya daya untuk mengubah situasi selain kesal dan menyimpan dendam pada figure orangtua.

“Tipe pola asuh ini juga kerap gunakan hukuman fisik yang pada akhirnya mengajarkan anak untuk gunakan kekerasan untuk selesaikan masalah atau gunakan kekerasan ketika kamu tidak suka sesuatu,” kata Mbak Vera.

Padahal, seperti yang diterangkan oleh Mbak Vera, bahwa sebenarnya dendam tidaklah selalu buruk. Pasalnya rasa dendam bisa diarahkan secara positif. “Misalnya begini, dendam disalurkan ke mencapai prestasi yang lebih baik daripada si teman yang pernah menyakiti.  Dendam bisa jadi negative ketika anak tidak didampingi atau diajarkan bagaimana menyalurkan emosinya. Ditambah lagi dengan tontonan atau asupan lainnya yang bermuatan kekerasan yang biasa dikonsumsi anak.”

Baca juga : Hati-Hati, Jangan Salah Kaprah Terapkan Positive Parenting

Oleh karena itulah Mbak Vera menyarankan agar orangtua sejak dini perlu mengajarkan dan mencontohkan anak bagaimana mengekspresikan emosinya, yaitu secara verbal. Ketika anak sedang emosi, selalu tekankan pada anak bahwa tidak boleh sakiti diri sendiri, tidak boleh sakiti orang lain dan tidak boleh sampai merusak barang.

“Selalu tanamkan pada anak bahwa cara menyelesaikan masalah dengan kekerasan merupakan cara yang berada di level terendah; dorong anak untuk cari cara yang lebih ‘cantik’ untuk selesaikan masalahnya, cara yang menggunakan otak. Tanamkan anak bahwa tentu dia tidak mau satu level dengan teman yang menyakitinya,” tegas Mbak Vera lagi.

Setelah konsultasi dadakan dengan Mbak Vera, mau nggak mau saya pun lantas me-rewind bagaimana pola asuh yang saya sudah terapkan selama ini. Apakah sudah dalam track yang tepat atau malah sudah melewati jalur yang begitu jauh? Saya juga sangat percaya jika orangtua sudah bisa cerdas mengelola emosinya, akan menular pada anak.

Yang jelas, tentu saya tidak ingin membuat kesalahan dengan menanamkan bibit kebencian anak saya pada orang lain di lingkungan sekitarnya. Terlebih jika sampai menimbulkan rasa dendam. Saya pun lantas ingat apa yang dikatakan Mbak Vera, revenge can be an act of anger, hurt and power.

Baca juga : Mengubah Emosi Menjadi Tenang Dalam Waktu 3 Menit

 


Post Comment