5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Balita

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Menulis tentang penyakit yang paling banyak menyerang bayi sudah. Sekarang saya mau membahas tentang penyakit yang paling sering menyerang balita.

Kenapa yang saya bahas adalah penyakit pada bayi dan balita? Kenapa bukan penyakit pada anak usia di atas 7 tahun atau remaja? Soalnya kedua anak saya masih bayi dan balita, ahahaha. Faktor kepentingan pribadi :D.

Berbincang dengan dr. Vicka Farah Diba, Msc, SpA, dari RS Condong Catur Yogyakarta dan Asri Medical Centre Yogyakarta, berikut beberapa penyakit yang sering menyerang balita:

5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Balita - Mommies Daily

1. Diare
Diare pada balita juga dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus dengan penyebab terbanyaknya adalah Rotavirus. Dikatakan diare saat buang air besarnya encer dan terjadi lebih dari 3 kali sehari. Penanganannya dengan terus memberikan ASI dan makanan, pemberian seng atau zink selama 10 hari, memberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi, memberikan antibiotik sesuai anjuran dokter, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan anak dan setelah selesai menceboki anak, dan mengonsumsi air matang.

Baca juga:

Anak Sedang Diare, Mending Minum Susu atau Teh?

2. Gigi berlubang
Ini dikarenakan anak sudah bisa mengonsumsi makanan apapun, namun ia masih belum terampil membersihkan gigi dan mulutnya. Masalah gigi lainnya adalah karies gigi atau gigi yang terlihat menghitam dan terkikis. Karies gigi yang dini akan tampak seperti bercak-bercak putih keruh pada gigi. Bila terus berkembang, akan mulai terbentuk lubang dengan warna kekuningan, cokelat atau kehitaman. Kalau dibiarkan, struktur gigi akan semakin rusak dan bisa disertai rasa sakit dan bengkak pada gusi.

Untuk menjaga kesehatan gigi anak:

- Jaga kebersihan mulut dan gusi anak, meskipun gigi belum tumbuh semua dengan cara membersihkan mulut setiap anak selesai minum.
- Ajarkan kebiasaan menyikat gigi setelah sarapan pagi dan sebelum tidur.
– Gosok gigi anak dengan sikat gigi yang lembut dan pasta gigi berfluoride.
- Kurangi makanan yang manis. Perbanyak buah-buahan, sayuran serta minum air putih.
– Selesai mengonsumsi makanan manis, ajak anak untuk minum air putih dan menyikat gigi.
- Bila Mommies punya gigi yang rusak atau berlubang, jangan berbagi makanan atau minuman dengan anak karena dapat menularkan kuman.
– Periksakan kesehatan gigi anak secara teratur pada dokter gigi.

5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Balita - Mommies Daily

3. Demam
Demam dapat terjadi karena banyak faktor selain respon tubuh akibat infeksi. Demam juga dapat disebabkan oleh kondisi dehidrasi, kelelahan, peningkatan aktivitas tubuh, tumbuh gigi atau akibat respon tubuh usai imunisasi. Anak bisa dikatakan demam bila suhu tubuhnya lebih dari 37,5 derajat Celsius.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, anak diberikan obat penurun panas, saat suhu tubuhnya mencapai 38 derajat Celsius (pengukuran dari lipat ketiak).

Yang perlu dilihat adalah apakah ia masih melakukan aktivitasnya seperti bermain, dan makan dan minum dengan baik? Selain itu, apakah anak buang air kecil setiap 3-4 jam? Segera bawa anak ke dokter bila demam yang dialami anak disertai kejang, demam tidak turun dalam 2 hari, demam disertai bintik bintik merah, anak mengalami perdarahan di hidung dan atau buang air besar berwarna hitam.

3. Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Gejala infeksi saluran pernapasan akut antara lain demam, batuk, nyeri tenggorokan, sesak napas atau mengi. Penyakit ini bisanya disebabkan oleh virus, bisa menular dan menimbulkan gejala infeksi ringan hingga berat. ISPA sebetulnya akan sembuh sendiri tanpa perlu intervensi apa pun. Agar anak nyaman, beri minum air putih hangat. Jangan berikan obat batuk pilek tanpa berkonsultasi dahulu dengan dokter.

4. Masalah kulit
Masalah kulit pada anak terbanyak disebabkan oleh faktor kebersihan, infeksi dan reaksi hipersensitivitas (alergi). Pencegahan masalah kulit ini bisa dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kulit seperti memandikan anak, membersihkan rambut, rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut, serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman. Pemilihan produk perawatan kulit untuk anak sebaiknya yang terbuat dari bahan bahan alami, sesuai dengan pH netral kulit (5,5) dengan kandungan parfum dan pewarna seminimal mungkin untuk menghindari faktor risiko alergi dan iritasi kulit.

5. Cacingan
Penyakit cacingan masih dianggap sepele. Padahal dampak jangka panjangnya bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar. Gejala infeksi cacing bisa ringan hingga berat. Pada infeksi cacing ringan, gejala tidak tampak khas. Gejala umum seperti lesu, tidak bersemangat, sering mengantuk, pucat dan kurang gizi. Infeksi cacing berpengaruh terhadap pemasukan, pencernaan, penyerapan, serta pengolahan makanan sehingga berakibat hilangnya protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin dalam jumlah besar. Selain itu dapat menimbulkan anemia, diare dan gangguan respon imun. Anak yang menderita infeksi cacing mempunyai risiko tinggi mengalami gangguan nutrisi, gangguan tumbuh kembang dan penurunan prestasi belajar.

Infeksi cacing ini dapat dicegah dengan cara menjaga pola perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu dengan cara mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, menggunting kuku seminggu sekali, menggunakan alas kaki, mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi dan minum obat cacing jika ada anak atau anggota keluarga yang menderita cacingan.

Menurut IDAI, pencegahan infeksi cacing dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing yang dapat dimulai sejak anak usia 2 tahun. Hal ini, disebabkan karena pada anak usia 2 tahun sudah terjadi adanya kontak dengan tanah yang merupakan sumber penularan infeksi cacing. Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali.


Post Comment