tantangan berbahaya-mommiesdaily

Waspada Fenomena Tantangan Berbahaya di Kalangan Anak-anak

Belakangan ini banyak sekali tantangan berbahaya di kalangan anak-anak. Setelah skip challenge, ada lagi eraser challenge. Sebenarnya hal apa yang mendasari anak-anak menyukai tantangan berbahaya ini?

Berhubung anak saya sudah masuk SD, saya kok jadi ikutan khawatir, ya, dengan fenomena tantangan berbahaya yang banyak dilakukan anak-anak. Contohnya, nih, skip challenge yang bisa menyebabkan kematian, hingga yang paling anyar soal eraser challenge.

Duuuh, maak… :(

tantangan berbahaya-mommiesdaily

Begitu tantangan ini jadi viral di social media, saya pun pelan-pelan mencoba memancing pertanyaan ke anak saya, Bumi. Seperti biasa, kalau pulang kerja sebisa mungkin saya selalu berusaha menciptakan bonding time dengan ngobrol dan mengajukan beberapa pertanyaan menarik. Apa yang paling seru di sekolah, yang berujung untuk mengetahui apakah tantangan ini marak di lakukan di lingkungan sekolahnya atau tidak.

Syukurnya, sih, ternyata nggak. Paling banter, tantangan yang dilakukan Bumi dan teman-temannya ternyata bottle flip challenge. Tantangan yang sempat dilakukan Ahok dan Djarot, hahahaa. Dan menurut saya, tantangan ini sih, nggak berbahaya sama sekali. Lah wong, tantangan ini hanya sebatas memperlihatkan kemampuan seseorang dalam membalikkan botol berisi air. Sekarang bottle flip challenge malah jadi aktivitas seru yang saya lakukan bersama Bumi.

Tapi bagaimana kalau anak-anak kita memang sudah terlanjur tahu dan penasaran dengan beragam challenge yang berbahaya? Hal apa yang perlu kita lakukan?

tantangan berbahaya_mommiesdailySumber : Tirto.id

Kalau saya, sih, melihatnya anak-anak khususnya para remaja pada dasarnya memang senang mencoba hal-hal yang baru, apalagi kalau memang hal tersebut menantang. Memancing adrenalin mereka. Yah, biar gimanakan saya pernah jadi anak-anak dan sudah lewat masa remaja, ya. Waktu itu, sih, setiap ada hal baru, saya bawaanya jadi ‘latah’ ingin mencoba. Parahnya, kalau orangtua melarang saya malah jadi penasaran, hahahaha.

Baca juga : Anak Puber, Ini yang Perlu Dilakukan

Kenapa? Ya, tentu saja karena saat anak-anak usia sekolah atau remaja ini sedang masuk dalam fase  butuh pengakuan dari lingkungannya. Makanya membuat mereka ‘terdorong’ untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik, menjadi pusat perhatian. Bahkan dalam hal berbahaya dan penuh risiko sekalipun.

Saya ingat dalam beberapa kali kesempatan ngobrol dengan beberapa psikolog anak dan remaja. Mereka selalu mengatakan bahwa, anak di usia remaja memang belum memiliki pemikiran yang matang mengenai konsekuensi atas apa yangmereka lakukan. Intinya, sih, seperti terburu-buru atau ceroboh dalam mengambil  sebuah keputusan.

Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. selaku psikolog anak dan remaja menjelaskan ke saya kalau hal tersebut berkaitan dengan otak yang belum penuh perkembangannya sampai usia 20 tahun, prefrontal cortex.

“Jadi, bagian otak inilah yang membantu seseorang untuk mengambil keputusan sesuai pertimbangan baik buruknya. Sebelum bagian ini terbentuk sempurna, keputusan lebih banyak dipengaruhi emosi seperti merasa ditantang, anak nggak mau kalau dia penakut, apalagi jadi bahan ejekan teman-temannya di sekolah,” jelas Mbak Vera.

Mengaca dari pengalaman pribadi dan hasil ngobrol dengan Mbak Vera, saya tambah yakin kalau kunci yang paling penting dan harus diperhatikan adalah bagaimana cara pendekatan ke anak-anak. Tentunya dengan komunikasi dua arah yang baik. Sejak dini, saya pun sudah selalu mengingatkan pada anak saya, Bumi kalau dalam hidup ini semua punya aturan dan etika. Termasuk etika dalam hal bercanda.

Anak-anak perlu diedukasi edukasi tentang bagaimana berbahayanya permainan tersebut. Apa saja dampak yang bisa ditimbulkan bagi tubuh, juga dampak kalau memang sampai ada korban. jadi sebelum melakukan mereka akan berpikir lebih dulu.

Seperti pesannya Mbak Vera, kita sebagai orangtua perlu memberikan pilihan dan mengarahkan anak untuk melakukan aktivitas yang lebih positif. Dengan begitu, rasa penasaran dan ingin mencoba tantangan yang baru juga bisa dialihkan. “Dengan cara ini, anak-anakkita juga jadi punya wadah untuk mendapatkan eksistensi diri dengan cara yang jauh lebih postitif,” terang Mbak Vera lagi.


Post Comment