Jadi Orangtua yang Bisa Dipercaya Anak Jelang Remaja Itu Penting!

Intip tips dan pengalaman Sally Elias, dalam membesarkan dua pre-teen menghadapi dunia nyata, dan salah satunya memiliki kebutuhan khusus.

Punya anak jelang remaja yang bingung dan galau saat menghadapi ‘masalah besarnya’, rasanya kita pengen bilang, “Yaelah, nak, jalan hidup masih panjang. Ini, sih, nggak ada apa-apanya dibanding menghadapi cicilan rumah yang tiba-tiba naik 14% sebulan!” Hahaha…

Tapi, kan, mana mungkin kita bicara se-complicated itu, terhadap anak yang jelang remaja pula. Istilahnya, nih, mereka aja baru melek sama yang namanya dunia nyata. Agar kita bisa ‘mendengar’ dan mengajarkan mereka tentang ‘dunia nyata’ tanpa mereka merasa di-judge, tetap nyaman, serta tetap percaya pada kita orangtuanya, ini pengalaman Sally Elias, ketika membekali kedua pre-teen-nya, Daffa Akeyla Prastowo dan Keyndra Shakeela Prastowo, menghadapi dunia nyata, dan salah satunya memiliki kebutuhan khusus.

Jadi Orangtua Yang Bisa Dipercaya Anak Jelang Remaja Itu Penting! - Mommies Daily

Mengendalikan Teknologi

Technology makes everything a whole lot easier right now. Apa, sih, yang nggak bisa dicari di mbah Google? Ini pada akhirnya membuat mereka lebih mudah melihat perbandingan kultur yang terjadi di rumah atau di negaranya sendiri, dengan budaya-budaya di luar. Saya cukup kelabakan ketika mereka mulai bertanya, atau menuntut, “Kenapa di sana boleh? Kenapa di sini nggak seperti di sana saja? Kan, lebih simple. Bagaimana kalau begini saja, ma? Hasilnya sama saja, kan?”

Nggak banyak yang bisa kita sembunyikan dari mereka sekarang ini. Beda sama orangtua jaman dulu yang sering melakukan ‘white lies’ demi kebaikan. Remaja sekarang kritisnya gila-gilaan akibat mudahnya mereka mengakses informasi. Untuk itu, saya harus lebih pintar dari mereka. Nggak malas cari jawaban, walaupun jawaban itu harus didapat dengan browsing, konsultasi dengan ahli. Usahakan jawabannya sedekat mungkin dengan kebenaran, karena remaja sekarang nggak gampang dibohongi.

Antara Remaja Special Needs dan yang Tidak, Beda Perlakuannya

Daffa, memiliki Asperger Syndrome. Dibanding adiknya, Keyndra, bicara pada Daffa harus lebih halus, dan harus ada contoh nyata. Daffa nggak banyak melakukan research, atau browsing, dia justru melihat contoh dari teman-temannya. Memang jadi lebih menantang, karena dia merasa, temannya boleh, kenapa dia tidak boleh. Agak lebih panjang prosesnya ketika menjelaskan bahwa ada perilaku teman-temannya yang tidak boleh dicontoh.

Walaupun Keyndra bukan anak berkebutuhan khusus, soal mood swing, sama saja. Kadang saya didengar, tapi juga ada waktu-waktu mereka nggak ingin mendengarkan saya.

Target saya pada Daffa adalah menyiapkannya untuk menjadi semakin mandiri kelak. Jadi jika saat ini Daffa terbentur beberapa hal, I usually let him be, so he can learn. Saya cukup berikan koridor-koridor agar ia tidak keluar batas.

Untuk Keyndra yang lebih mudah diajak berkomunikasi, saya juga menjelaskan bahwa nggak masalah, kok, melakukan kesalahan. Tapi, hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama. Jika kemudian terbentur masalah karena kesalahan yang sama, it’s kinda silly, you know?

Bicara Soal Seks

Untuk keperluan yang satu ini, saya sebagai orangtua dituntut untuk menjadi lebih open ke anak-anak. Di usia Keyndra sekarang (jelang 13 tahun), saya sampaikan padanya bahwa saya bersedia menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya seputar seks. Saya tekankan, jauh lebih baik tanya pada ibunya, yang tentunya lebih paham perilaku dan kebiasaan dirinya. Saya nggak mau ambil risiko dia riset lalu mengambil kesimpulan sendiri. Saya usahakan untuk menjelaskan dalam kondisi senyaman mungkin. Dengan maraknya kejahatan seks yang ada sekarang, terus terang saya open dan ceritakan semuanya ke Keyndra.

Untuk Daffa, ia lebih bisa menerima informasi melalui visual. Tentunya nggak saya sampaikan secara vulgar. Materi buat Daffa lebih kalem. Saya lebih straight to the point menginformasikan pada Daffa, mana area pribadi yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain. Apalagi kasus Pedofil kemarin kan, saya nggak hanya belajar tentang seks, namun penting juga mengenali tanda-tanda Pedofil.

Mendengarkan Mereka Itu Penting

Menghadapi proses tumbuh kembang anak menjelang remaja, buat saya yang paling penting bagaimana kita menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka secara penuh. Jangan cuma mau didengarkan. Mulai dari masalah cinta monyet, rasa tak nyaman ketika diejek teman, mungkin buat kita nggak separah problem kita di kantor. Tapi bagaimana pun, apa yang kita ajarkan pada mereka dalam menghadapi masalah (yang di mata kita kecil), sedikit banyak membantu mengembangkan perilaku mereka, ke arah yang lebih positif. Dengan mendengarkan mereka, mereka merasa lebih dihargai dan merasa lebih nyaman untuk percaya sama orangtuanya.

Baca juga:

Ingat Pesan Mama Sebelum Kamu Mulai Berpacaran ya, Nak

Jangan lupa keep in mind, as their parents, we should know more about our children than any other person. Tapi bukan berarti kita nggak butuh bantuan orang lain, lho. Dalam kasus Daffa dan Keyndra, tentunya bantuan dan peranan dari terapis, guru di sekolah, guru les, juga orangtua temannya anak kita, tak terkecuali asisten rumah tangga.

Baca juga:

Kiat Menciptakan Bonding Antara Working Mom dengan Anak Remaja


Post Comment