Bila yang ‘Materialistis’ Adalah Orangtua (Pasangan)

Bagaimana kalau bantuan keuangan yang kita berikan ke orangtua malah membebani keuangan rumah tangga sendiri?

Duh, kalau bahas ini saya, tuh, suka merasa takut. Takut kualat. Bagaimana pun (yang diajarkan pada kita selama ini) bentuk bakti anak kepada orangtua, salah satunya adalah dengan membantu mereka secara finansial.

Tapi bagaimana, dong, ketika bantuan tersebut justru malah membebani keuangan rumah tangga sendiri. Terlebih lagi bila yang dibantu adalah orangtua pasangan, alias mertua. Buat sebagian (besar) orang, karena mertua bukanlah orangtua kandung, beban serta merta terasa ‘lebih’ berat.

Bila yang ‘Materialistis’ Adalah Orangtua (Pasangan) - Mommies Daily

Baca juga:

4 Tips Untuk Tinggal Bersama Mertua

Pesan Tak Sampai
Seorang teman pernah mengeluhkan pada saya, betapa mertuanya hobi ‘merongrong’ keuangan rumah tangganya. Kebetulan suaminya adalah anak satu-satunya. Pasalnya, keuangan rumah tangga pun jarang dikatakan berlebih, semua serba ngepas. Menurut saya yang bukan ahli agama, atau pun ahli psikolog, sebenarnya hal tersebut bisa dikomunikasikan asal kita mau membuang semua rasa nggak enak, dan takut menyakiti hati orangtua. Beberkan saja faktanya. Tentu dengan cara yang pas. Ingat bahwa kita sedang menghadapai orangtua. Bagaimana dia adalah orang yang punya peran besar dalam membesarkan dan membentuk suami yang sangat kita cintai dan kasihi saat ini. Saya pikir, kalau nggak sampai bikin tabungan jebol, ikhlas memberikan bantuan finansial bisa menjadi bentuk terima kasih pada beliau, lho.

Berikan Bulanan Saja
Lagi-lagi, kisah seorang teman, yang merasa mertua nyaris setiap hari ‘menadahkan tangannya’ untuk sekadar jajan, belanja harian atau ongkos berkegiatan di luar rumah. Hal ini sulit dihindari karena ia tinggal satu rumah dengan keluarga suami. Padahal, mertua juga masih aktif bekerja dan setiap bulan menghasilkan. Alasan sang mertua, inilah kewajiban dari anak-anak. Setelah sekian lama, diasuh, dididik, dan dibesarkan, saatnya membalas budi. Kita nggak bisa pungkiri, anggapan ini masih ada, terutama pada orangtua generasi X. No wonder, generasi kita jadi banyak yang menjadi Sandwich Generation. Saran saya dan beberapa teman, jika memang ternyata ‘membebani’ karena mintanya nyaris tiap hari, batasi saja per bulan. Katakan terus terang, hanya sejumlah sekian yang mampu Anda dan suami berikan setiap bulan.

Kompak dan Tegas
Urusan uang adalah urusan yang sensitif. Sama teman yang berhutang saja, nagihnya kita nggak enak banget. Apa lagi ini sama mertua. Takut kualat. Takut dibilang nggak hormat. Takut dosa. Takut apa lagi?

Tapi kalau nggak disampaikan, malah jadi api dalam sekam yang mungkin bisa berbahaya bagi kelangsungan rumah tangga kita. Jadi wajib banget suami istri musti kompak. Usahakan dalam menghadapi keluarga pasangan, misalnya saat menjelaskan betapa Anda berdua butuh dimengerti soal bantuan finansial (yang terasa membebani itu), Anda berdua dengan pasangan. Jangan cuma Anda sendiri. Biar kalau ada salah-salah kata atau penyampaian yang kurang dapat dimengerti, bisa langsung di-back up oleh pasangan.

Kalau saya, sih, saya selalu usahakan suami yang ngomong. Bukan berarti saya nggak hormat, tapi lebih kepada menghindari salah-salah kata hingga kesalahpahaman bisa dihindari. Mudah untuk disampaikan, tapi sulit untuk dilakukan. Hahaha…terlebih ada suami-suami yang seakan melemparkan tanggung jawab dan membiarkan istrinya sendiri yang berhadapan dengan orangtuanya.

Baca juga:

5 Alasan Tertinggi yang Menyebabkan Perceraian


Post Comment