Sylvia Engelina Sengkey: Forum Female Daily Network  Menjaring Teman Baru, Sekaligus Mendapat Dukungan Bisnis

Sudah 9 tahun, Sylvia bergabung dengan forum Female Daily Network, apa saja manfaat yang dia rasakan? Dan bagaimana lingkungan pertemananannya di forum FDN, juga memberikan ia dukungan akan kelancaran bisnis sabun rumahan miliknya.

Sylvia Engelina Sengkey (42), ibu dari Natasha (19) dan Darrell (14) ini tergolong anggota member forum FDN lama, sejak 2008. Sembilan tahun menelusuri forum FDN menurut Sylvia, manfaat terbesarnya adalah mendapatkan teman baru dan ternyata tali silahturahmi mereka, tak terbatas saling melempar comment di forum. Tapi sampai kopi darat juga, lho, dan berlangsung sampai sekarang.

Sylvia Engelina Sengkey - Mommies Daily

Mbak Sylvia juga mempunyai bisnis rumahan “Soapville” yang ia rintis dari tahun 2009, Bisnis yang menurut saya masih jarang dilirik oleh orang kebanyakan, dan ternyata berawal dari niatnya membuatkan sabun untuk buah hatinya yang mempunyai alergi protein sapi. Yuk, langsung saja disimak, obrolan saya dengan perempuan jebolan S1 Kwik Kian Gie School of Business, Jurusan Manajemen Pemasaran, penyuka warna hijau dan penikmati aneka hidangan soto.

Mbak boleh diceritakan nggak, awal bergabung di forum Female Daily Network kapan dan tahu dari mana?

Awal Bergabung tahun 2008, tahu dari hasil Googling, saat itu pas lagi cari review produk tertentu secara tak sengaja menemukan forum FDN ini.

Awal-awal “main” di forum, biasanya main ke thread apa, sih, mbak?

Berhubung dulu lagi ingin merawat kulit, thread yang paling sering dikunjungi adalah thread skincare.

Menurut kamu, forum FDN ini seperti apa?

Forum FDN fun , lho! Dari sini saya mendapat banyak teman baru dan masih berlangsung sampai sekarang. Dulu sering meet up di Jakarta, saat itu saya masih bekerja di luar kota, dibela belain datang ke Jakarta untuk meet up ^__^

Awal-awal punya anak, termasuk yang sering nggak aktif di sub forum Mommies Daily? Misalnya cari2 referensi dokter anak, informasi imunisasi, breat pump, biaya melahiran, dan lain-lain.

Saat awal punya anak forum ini belum ada. Tahun 2008 awal join dengan forum FDN anak tertua saya sudah berusia 10 tahun. Berhubung punya keluarga yang berprofesi sebagai dokter, referensi pertama ya dari keluarga saya yang dokter tersebut.

Thread favorit kamu? Dan kenapa?

Skincare. Karena kulit saya sering bermasalah, jadi cari taunya di thread skincare sambil baca review.

Oh iya, kamu kan ada bisnis juga ni, Mbak. Bisa tolong ceritaka awal kali merintis usaha  “Soapville”?

Anak kedua saya (sekarang berusia 14 tahun) lahir dengan kondisi alergi protein sapi. Kulitnya gampang kemerahan, sampai bajunya harus dicuci terpisah. Si bayi hanya bisa dimandikan dengan sabun yang dibeli dari dokternya. Saat itu harganya Rp. 80.000,- per batang. Karena itulah saya berusaha mencari informasi kesana kemari, sampai menemukan forum soapmaking di US, mereka menyarankan saya bikin sabun sendiri. Sabun pertama yang saya buat adalah bastille soap, kandungan olive oil nya 80%.

Sylvia Engelina Sengkey - Mommies DailySalah satu hasil sabun buatan rumah, Sylvia. Image: @soapville

Ternyata anak saya cocok. Bukan cuma si anak, tapi seluruh keluarga dan teman-teman saya perlahan lahan mulai lebih memilih sabun home made dibanding sabun pabrikan. Ternyata yang bikin kulit kering seperti ketarik tiap habis mandi itu karena kandungan detergent (sodium laureth sulafate, sodium laureth sulfoacetate, dan lain-lain) pada semua sabun pabrikan. Di sabun home made, busa didapat dari minyak kelapa, bukan bahan detergent. Dari mulut ke mulut, peminat makin banyak sampai tidak ke-handle, jadi saya mulai membuka kelas private soapmaking. Ceritanya biar lebih banyak yang bikin sabun homemade, lebih banyak yang aware terhadap sabun alami seperti ini.

Kenapa pilih sabun sebagai komoditas usaha? Jarang banget soalnya mbak, yang bisnis ini, hihihii….

Ya itu, selain karena banyak yang cocok, ternyata bidang ini masih sedikit sekali yang melirik. Waktu awal saya usaha di bidang ini, bisa dibilang saya yang pertama mengajar bikin sabun home made atau membuat sabun home made dengan hitungan dan cara yang benar. Memang di beberapa daerah sudah ada sabun home made model begini, tapi tetap bikin kering. Ternyata karena resepnya ‘asal jadi sabun’. Bikin sabun itu ada hitung hitungannya, hehehe :p

So far, usaha kamu apa sudah bisa diandalkan sebagai mata pencaharian utama kamu untuk membantu financial keluarga?

Untuk membantu saja sudah cukup bisa diandalkan, tapi tetap finansial  utama berasal dari suami. Kan ada istilah “Uangku adalah uangku. Uangmu adalah uang KITA” wkwkwkwk. Kalau ada keperluan atau kebutuhan mendadak, bisa pakai penghasilan saya dari sini, tapi yang utama dan yang besar-besar tetap suami dong :p

Oh iya, boleh nggak mbak bagi kiatnya ke pembaca MD, apa saja kiatnya kalau mau merintis usaha sendiri seperti kamu?

Kalau punya hobby atau passion di bidang tertentu, sering seringlah riset, banyak baca, banyak praktik. Merintis usaha cuma perlu modal berani aja sih kalau menurut saya. Awal mulai menjual sabun kan di path, ini yang promosiin dan memberikan saya semangat jualan adalah sesama teman FD juga, lho *lirik Widi, Aya, Helen, Dina dan Ruth.

Sylvia Engelina Sengkey - Mommies Daily

 

Oh iya, anak kamu berapa dan usianya? Menurut kamu, apa bekal utama yang harus kita berikan ke anak, secara zaman sekarang dan akan datang persaingan semakin menggila.

Anak saya dua, usia 19 dan 15 tahun. Bekal utama saya ke anak lebih ke agama ya. Memberi mereka modal iman yang kuat. Dengan modal tersebut, mereka bisa memilah mana yang baik dan mana yang salah. Kedekatan dengan anak juga penting. Kadang harus bisa berperan sebagai teman juga bagi mereka. Jadi teman curhat dan teman jalan.

Bagaimana kiat mbak sebagai ibu bekerja, supaya tetap dekat dengan anak. Dan memastikan tumbuh kembangnya berjalan dengan baik?

Kayanya sama seperti ibu ibu yang lain, komunikasi rutin itu penting. Anak jaman sekarang kan sukanya main gadget. Saya punya aturan kalau lagi jalan sekeluarga, tidak boleh terlalu lama melototin HP. Kita harus berinteraksi secara nyata, bukan di dunia maya. Jangan sibuk sendiri-sendiri dengan HP masing-masing.

Punya kegiatan bonding yang khusus nggak mbak dengan anak dan suami?

Setiap weekend kita usahakan selalu jalan bareng. Entah itu untuk wisata kuliner (anak-anak saya suka mencoba restoran baru), nonton bareng, atau sekadar nongkrong bareng. Menjadi pendamping untuk pengalaman pertama anak yang di mata kami cukup sensitive, contoh: anak pertama saya ingin tau rasanya minuman alkohol, ditemenin papanya ke café, lalu pesan vodka, habis itu ditanya: Gimana? Enak ga? Anak saya bilang: Ga enak!!!!!, kenapa pada suka ya? Suami tanya lagi: Jadi gimana? Mau nambah? Jawab: ENGGAAAKKKKKKK. Tukeran sama fruit juice ajaaaaaa :p

Thank you for sharing, Mbak Sylvia :)


Post Comment