Pola Asuh Orangtua, yang Tidak Ingin Saya Tiru

Ketika semakin besar saya tersadar, nggak semua pola asuh orangtua saya, akan saya ikuti. Apa saja itu?

Mau curhat dikit ya, mommies :p Saya merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, beda usia saya dengan kakak pertama dan kedua lumayan jauh, 7 dan 5 tahun. Perbedaan usia kami ini, membuat saya sebagai adik kecil yang punya banyak contoh profil orang dewasa dalam keluarga inti.

Pola Asuh Orangtua, yang Tidak Ingin Saya Tiru - Mommies DailyKetika beranjak dewasa contoh-contoh karakter masing-masing profil ini makin nyata, dan jadi bisa membedakan, mana yang sebetulnya patut dan tidak dicontoh. Sumbernya tak lain datang dari pola asuh orangtua saya. Dari beberapa pengamatan saya hingga kini, ada beberapa pola asuh yang nggak akan saya tidur, tentu tanpa mengurangi rasa hormat dan sayang saya kepada Mama dan Papa tersayang *salim tangan :D

Baca juga: Belajar untuk Tidak Salah Kaprah Menjadi Orangtua

Nak, Bunda ingin kamu berusaha lebih keras untuk mendapatkan bermacam fasilitas!

Bukannya nggak sayang anak,  ya, mommies. Terlebih anak laki-laki (IMHO), dia harus berusaha lebih keras mendapatkan apa yang dimau. Mengingat nantinya si kecil akan menjadi calon kepala keluarga dan nahkoda bagi anak dan istri. Dia mesti punya mental baja untuk memperjuangkan hidup yang layak buat keluarga. Kalau dikit-dikit sebagai orangtua saya mudahkan ia mendapatkan apa dimau, apa kabar itu dengan jiwa juangnya? Apa kabar dengan semangatnya bangkit dari kegagalan? Kalau kata sahabat abang ipar saya, “Jangan memudahkan kehidupan anak, untuk menyusahkannya dikemudian hari.”

Baca juga: Sepuluh Hal yang Tidak Disadari Orangtua, dan Berbahaya untuk Anak

Nak, kamu mesti punya target dalam hidup!

Orangtua saya bukannya nggak pernah menentukan target-target tertentu untuk anak-anaknya. Hanya saja menurut saya, masih agak longgar *kok saya lebih kejam jadinya :p. Saya ingin nantinya, Jordy punya timeline yang jelas dalam hidupnya. Molor sedikit dari deadline nggak apa-apa, asalkan alasannya masih masuk akal. Misalnya kuliah sambil coba-coba kerja, ini nggak apa-apa dong? menimba pengalaman dan memperkaya CV. Sampai urusan karier, saya inginnya Jordy tahu, di usia sekian, idealnya dia sudah ada di jenjang karier tertentu.

Baca juga: Keterampilan Hidup yang Perlu Diajarkan Sebelum Anak Berusia 10 Tahun

Nak, menabunglah sedari dini!

Ini yang sama sekali skip dari pantauan orangtua saya. Kalau saja saya bisa menabung dari zaman kuliah, mungkin sekarang saya sudah bisa DP rumah dari kantong pribadi, hahaha. Alhasil, saya baru benar-benar serius menabung ituuu, pas awal-awal kerja. Sudah telat menurut saya, karena waktu sekolah dan kuliahpun saya kan sebenarnya sudah punya uang bulanan berupa uang jajan, yang bisa disisihkan sekian persen untuk ditabung. Tapi ya, nasi sudah menjadi bubur, pelan-pelan saya akan berikan pengertian ke Jordy, dari pertama kali dia akan menerima uang jajan dari saya, dari situlah dia pertama kali bisa menabung secara mandiri. Meski sekarang, Jordy juga sudah punya tabungan juga, sih ya, hihihi. Tapi kan sifatnya untuk pendidikan dan kebutuhan primer lainnya.

Baca juga:Tidak Bisa Ditunda, Ajarkan Remaja Mengatur Keuangan

Hmmm, sebenarnya masih ada sih printilan lainnya, tapi karena sifatnya private, nggak etis saya kemukakan di sini. Nah, kalau mommies sendiri gimana? Pola asuh orangtua bagian apa, yang nggak mau mommies tiru, atau minimal di-improved dan sesuaikan dengan keadaan keadaan trend pola asuh zaman sekarang.

Baca juga: Trend Parenting 2017


Post Comment