Solo Seks, Cara Sehat Memuaskan Hasrat Seksual Seorang Diri

Meskipun tidak bisa dijadikan skala prioritas, tapi solo seks bisa menjadi cara sehat untuk mendapatkan kepuasan seksual seorang diri.

Jauh sebelum menikah saya sudah pernah mendengar soal solo seks atau melakukan aktvitas seksual seorang diri dari beberapa teman. Ya, istilah kerennya adalah masturbasi. Saya pun nggak bisa menutup mata kalau solo seks ini nggak cuma dilakukan oleh kaum lelaki saja, karena banyak perempuan yang menikmatinya.

Salah? Nggak juga, kok. Biar gimana kita kan nggak hanya bisa memandang segala sesuatu hanya dari luarnya saja. Kalau kata Zoya Amirin, M psi, pakar Psikologi Seksual, solo seks atau masturbasi bukan sesuatu yang kotor atau salah. IMHO, saya pun sependapat dengannya.

solo seks_mommiesdaily

Memang, sih, nggak bisa dipungkiri untuk mendapatkan seks yang sehat perlu didukung oleh banyak faktor, salah satunya adalah kepekaan emosi terhadap pasangannya. Apalagi untuk bisa mencapai orgasme. Saya jadi ingat curhatan salah satu teman lelaki saya yang bilang kalau setelah menikah seks bukan hanya persoalan mendapatkan kepuasan saja, tapi perlu keterlibatan emosi yang mendalam.

Pertanyaan, bagaimana kalau memang pasangannya nggak ada? Sedang melakukan pernikahan jarak jauh misalnya? Atau memang kondisinya sedang tidak punya pasangan alias jadi single parent? Apa iya harus lebih dulu mencari ‘lawan’ untuk melakukan hubungan seksual? Nggak dong.

Baca juga : LDR, Siapa Takut?

Baca juga : Mau LDR, Perhatikan Hal Ini Lebih Dulu

Memang, sih, banyak yang bilang kalau perempuan lebih pintar menekan hasrat seksualnya ketimbang laki-laki. Kalau dari kaca mata pribadi saya, hal ini bisa dilihat seorang perempuan lebih bisa bertahan menjadi single parent ketimbang laki-laki. Tapi, bukan berarti laki-laki tidak bisa hidup melajang dan membesarkan anaknya seorang diri, lho, ya. Namum untuk hal yang berkaitan dengan menahan nafsu seksual perempuan sepertinya memang lebih jago. Tapi perlu dingat kalau melakukan hubungan seks juga bagian dari kebutuhan biologis yang bisa datang kapan pun juga.

Baca juga : Bercinta Tengah Malam, Yay or Nay

Seorang teman yang kini sudah menjadi single parent, blak-blakan cerita ke saya kalau ada kalanya keinginan seksual datang. Jika begini, mau tidak mau ia pun melakukan solo seks. “Habis mau gimana? Menurut gue ini cara yang cukup sehat kok, ketimbang gue dengan mudahnya melampiaskan pada seseorang,” ujarnya.

Zaman dulu, mungkin masturbasi masih dianggap sebagai sesuatu hal yang salah, sesuatu hal yang tidak layak untuk dilakukan bahkan banyak yang menganggap tindakan masturbasi atau seks solo merupakan salah satu tanda seseorang mengalami gangguan kesahatan mental. Sekarang sepertinya pehamanan ini sudah kian berubah. Yah, setidaknya buat saya dan beberapa teman yang sependapat dengan saya.

Sebagai seksolog yang berlatar belakang psikologi, Zoya Amirin juga memandang kalau solo seks ini menajdi bagian penting dalam hubungan seksual. Setidaknya bagi perempuan bisa berguna untuk mengetahui pemetaan seks pada tubuhnya sendiri. Artinya, kita bisa membantu diri sendiri untuk mencari tahu bagaimana caraya  mencapai orgasme.

Baca juga : Ini Cara Mencapai Multi Orgasme Perempuan

Hal senada juga diungkapkan oleh terapis seksual Vanessa Marin. Ia menyatakan kalau masturbasi bisa membuat orang mengenal tubuh, belajar bagaimana orgasme, mengembangkan rasa percaya diri yang lebih baik, mengurangi stres, mendukung sikap masyarakat sehat tentang seksualitas perempuan. Tapi perlu digaris bawahi, ya, kalau solo seks atau masturbasi ini bukan jadi skala prioritas.

 

 


Post Comment