“Mama, Aku Mau Jadi Perempuan Saja!”

Kalau si anak lanang tiba-tiba bilang, “Mama, aku mau jadi perempuan saja,” respon apa yang harus dilakukan orangtua?

“Mama…. Aku mau jadi perempuan aja.”

Jleb!

Kebayang nggak kalau anak laki-laki mommies ngomong kaya gini? Kira-kira apa reaksi mommies? Merinding disko? Panik? Apa malah memilih untuk nggak ambil pusing?

Jadi, ya, beberapa waktu lalu ada teman saya yang cerita kalau anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun sempat melontarkan kalimat ini. “Gila, jantung gue kayanya langsung copot denger anak gue ngomong kayak gitu. Padahal selama ini gue dan suami sama-sama merasa sudah mengarahkan anak gue ini dengan benar, soal pendidikan seks, termasuk  mengajarkan tentang gender. Tapi kenapa anak gue bisa ngomong kaya gini, ya??” ungkap teman saya dengan bola mata yang nyaris keluar gara-gara panik.

ma aku mau jadi perempuan_mommiesdaily

Sebagai sesama ibu yang punya anak laki-laki, saya cukup paham dengan kegalauan teman saya ini. Apalagi saya memang punya pengalaman serupa. Begitu mendengar anak saya ngomong kalau mau jadi perempuan, saya dan suami pun sempat kaget.

Tapi, waktu itu saya dan suami memang mencoba nggak bereaksi berlebihan. Ketika itu suami langsung memberikan respon, “Memangnya kenapa mau jadi perempuan? Kan jadi laki-laki itu hebat banget, lho, Mas Bumi. Lagi pula, kalau sudah jadi laki-laki itu kapan pun nggak akan bisa diubah.”

Dan mau tahu nggak alasan di balik anak saya bilang mau jadi perempuan itu apa? Ternyata anak saya ini menganggap kalau perempuan itu cantik. Alasan yang cukup sederhana bukan? Tapi namanya juga orangtua, secuek-cueknya saya, dan bisa dibilang saya ini bukan tipe ibu-ibu yang gampang parnoan saya juga jadi jadi penasaran dan mencari tahu apakah celoteh anak seperti ini wajar dan banyak dialami oleh ibu-ibu lain?

Untuk mendapatkan jawaban, saya pun mulai browsing dan akhirnya menemukan sebuah forum luar negeri, webmd.com. Dalam forum tersebut banyak ibu-ibu yang curhat dan juga sempat mendengar permintaan ‘ajaib’ anak lelakinya. Setika itu juga saya merasa punya teman senasib. *Pelukvirtualsatusatu*

Karena saya takuuuuut banget salah respon, saya jadi nanya ke dua psikolog sekaligus, ahahahaha, maruk ya :D. Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., M.Si , dan mbak Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. Ternyata menurut keduanya,  komentar anak lelaki seperti ini memang dinilai wajar, kok. *kembalibernapaslega*

Mbak Nina bilang, hal ini sebenarnya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah kemampuan problem solving seorang anak memang belum matang. Contohnya begini, ada masanya seorang anak lelaki ingin dekat dengan teman perempuannya yang cantik, maka ia akan berpikir caranya adalah dengan menjadi perempuan juga. Dari sini orangtua bisa mengarahkan kalau sebenarnya mau dekat dengan teman perempuan bisa dengan cara main bareng saja, kok. Berikan juga contoh bahwa lelaki yang baik hati justru juga akan lebih disenangi oleh teman perempuan. “Jadi kita bisa memberitahukan problem solving yang tepat seperti apa,” ungkap Mbak Nina.

Selain itu, menurut Mbak Nina,  ungkapan ini bisa menjadi bentuk eksplorasi seorang anak, bagaimana dirinya mencari tahu apakah dirinya memang bisa berubah apa tidak. “Sejauh apa, sih, kita berubah? Nah, kalau Mbak Adis dan suami sudah menjawab seperti itu, sudah bagus sekali.”

Artinya, sebagai orangtua kita memang perlu mengajarkan pada anak, bahwa pada dasarnya memang ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah, salah satunya seperti perubahan gender ini. Mau pakai baju perempuan, kek… mau pakai bedak, kek… mau pakai sepatu hak tinggi, kek. Kalau sudah jadi laki-laki, ya, tetep jadi laki-laki.

Jadi pesannya Mbak Nina,  sebenarnya orangtua yang menghadapi pertanyaan seperti ini memang nggak perlu khawatir tapi memang perlu waspada saja sehingga bisa membuka mata, cari tahu apa yang harus dilakukan. Bukan malah kemudian berpikir, eh nanti bagaimana ya… anak saya jadi bagaimana, ya…. “Ngaak perlu sampai ke arah sana,” ungkap Mbak Nina lagi.

Dalam merespon pertanyaan anak memang dibutuhkan kemampuan emosi orangtua, jangan sampai yang keluar malah emosi khawatir, karena memang akan berbeda. “Kalau emosi waspada itu kan lebih ada gabungan perasaan marah dan  senang, semangat. Sementara kalau khawatir itu kan lebih ke arah takut dan cemas. Dengan begitu kita bisa mengarahkan dengan cara yang baik,” jelas Mbak Nina.

Baik Mbak Nina dan Mbak Vera menjelaskan, anak-anak memang akan melalui tahapan perkembangan seperti ini. Kalimat seperti, “Ma.. aku nggak mau jadi lelaki, lebih enak jadi perempuan,” seperti ini memang biasa terjadi. Seperti yang dipaparkan oleh Mbak Nina, sebenarnya model-model seperti ini disetiap usia bisa muncul kapan saja.

“Contohnya kalau anak usia 1 sampai 3 tahun, dari sisi kogninif anak memahami memang belum matang. Bahwa ada hal yang memang tidak berubah atau permanen. Anak bisa mengira segala sesuatu bisa berubah. Kalau anak peremuan pakai peci bapaknya, dia akan mengira dia akan bisa berubah jadi anak lelaki. Anak laki-laki yang memakai jilbab ibunya, bisa mengira dia bisa berubah jadi anak perempuan. Hal ini nggak perlu dihawatirkan karena memang perkembangnya seperti itu. Karena objek permanennya anak-anak belum matang. Jadi orangtua nggak perlu merasa berdosa, karena itu sangat normal”.

Baca juga : 6 Hal yang Harus Diajarkan Ayah Pada Anak Lelakinya

Kemudian Mbak Vera mengatakan, komentar anak seperti ini baru dikatakan kondisi gawat darurat ketika anak sudah masuk usia puber. Menurutnya, anak-anak usia puber sudah wajib punya pemahaman dan memiliki konsistensi gender. “Anak puber itu orientasi seksualnya sudah harus mantap” kata Mbak Vera.

Baca juga : Sekali Lagi Tentang Sex Education

Di sini peran suami juga sagat penting, dan perlu banyak terlibat untuk memberikan pemahaman peran laki-laki. Biar gimana karena dalam pembentukan identitas diri seorang anak laki-laki butuh contoh konkret yang bisa ditiru. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau Bumi memang akan banyak belajar mengenali identitas dari bapaknya. Anak lelaki tentu saja akan memperhatikan karakter ayahnya, kemudian meniru apa yang mereka lihat.  Alhamdulillah kalau soal ini saya nggak perlu ragu, karena selama ini suami udah banyak kasih contoh ke Bumi. Saya dan suami cukup paham kalau keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan memang sangat besar.


Post Comment