ART Mengajak Anaknya, Apa yang Harus Dilakukan?

Ditulis oleh: Monik Wulandari

Whatsapp Grup saya dipenuhi curhatan sejak keadaan ini terjadi. Dilema antara ART yang jempolan kembali, namun dia membawa anaknya yang suka bermasalah dengan anak saya.

Hati ibu-ibu mana yang tidak girang bukan kepalang, saat mantan Asisten Rumah Tangga (ART) favorit tiba-tiba sms dan menanyakan lowongan pekerjaan? Pasti mommies mengangguk setuju ketika membaca ini. Hehehe.. Ya, drama pencarian ART memang biasanya menjadi momok bagi kita, ya. Terutama bagi para working mom dengan anak yang masih balita. Pasti merasakan repotnya kalau tidak ada ART!

Maka ketika sang ART favorit, sebut saja Mawar (haha), menyatakan akan membawa serta anaknya bekerja, saya justru menyambutnya dengan positif. Oh iya, saya dari tadi menyebutnya sebagai favorit, karena memang ia tipe karyawan yang jujur, sopan dan rajin. Plus plus banget dan mungkin sudah langka ya.

Baca juga:

Waspada Ada yang Salah dengan Pengasuh Anak Anda Jika Terjadi 5 Hal Ini

ART mengajak anak, apa yang harus dilakukan - Mommies Daily

Eniwei, dengan berbagai point lebih dari Mawar, pemikiran saya, anak perempuannya yang berusia dua setengah tahun, mungkin dapat menjadi teman bermain Kenzo yang masih berusia sepuluh bulan ini. Tapi ternyata pemikiran saya terlalu sederhana. Karena ternyata, beberapa kali saya melihat kejadian kurang menyenangkan antara si anak ART dan Kenzo.

Yang pertama, anak ini suka sekali merebut mainan dari tangan Kenzo, bahkan sempat dia menginjak kaki Kenzo *__*. Sudah saya tegur sih ibunya dan ibunya juga sudah menegur anaknya. Well, dari sini saya jadi belajar, bahwa seharusnya saya lebih aware dengan poin-poin berikut ini.

1. Tahu kondisi kesehatan.
Kebetulan ketika mereka datang ke rumah, Kenzo sedang batuk pilek, sehingga saya melarang sang anak untuk bermain bersama Kenzo sementara waktu. Keesokannya ketika sedang ngobrol santai di dapur, si ibu bercerita bahwa anaknya pun baru sembuh dari penyakit yang janggal, demam selama sebulan. Waks.. Saya malah panik, dong? Sudah sembuh betul belum, dan apa sebetulnya penyebab sakit tersebut? Alhasil, saya langsung menyuruhnya berkonsultasi ke dokter untuk memastikan.

Baca juga:

Meningitis Pada Anak Masih Marak Terjadi, Apa Sebabnya?

2. Kenali karakter dan sifat.
Mawar adalah tipe perempuan yang manis, bertuturkata lembut dan sopan. Tapi ternyata itu tidak berlaku untuk anaknya. Hahaha.. Bukannya men-judge gimana, ya, moms. Tapi menurut saya ada sifat dasar yang menjadi bawaan, yang bisa terlihat, meskipun anak tersebut masih balita. Penting untuk mengenali karakter dan sifat lawan bermain anak, agar anak tidak mendapat pengaruh yang tidak kita inginkan.

3. Beri batasan dan aturan.
Walau masih kecil, tetap saja anak perlu diberikan batasan dan aturan. Tetapkan ruang privasi yang tidak Anda inginkan untuk dimasuki olehnya atau simpan secara terpisah mainan anak yang tidak ingin dimainkan bersama. Dan karena mereka berbeda jenis kelamin, saya selalu melarangnya untuk melihat Kenzo mandi atau ganti popok. Tak ingin, kan, kalau besar nanti ada yang bilang,”Hey! Dulu kan aku sering lihat kamu mandi.”

4. Kompak dengan sang ibu.
Sejak awal, saya dan Mawar sudah menyepakati bahwa anak-anak sebisa mungkin dapat berteman. Dan kalau ada perselisihan di antara mereka, hanya ibunyalah yang dapat memarahi dan menasihati. Tapi juga, kami tidak keberatan untuk saling mengingatkan anak-anak ke hal yang baik secara umum.

Kira-kira itu yang harus Anda perhatikan, selain juga harus panjaaaang sabarnya. Hehehe.. Karena secara tidak langsung, Anda harus mendidik anak yang lain, kan. Doakan kami akur terus dan Mawar dan anaknya semakin betah ya. Mommies..


Post Comment