Hot Nanny, Yes or No?

Punya pengasuh anak yang atraktif dan terlihat ‘hot’? Umh… hot nanny, yes or no?

Masih ingat nggak dengan skandal yang terjadi pada beberapa pasangan selebriti yang bercerai gara-gara suaminya selingkuh dengan pengasuh anaknya? Kondisi seperti ini bikin mommies mikir dua kali nggak, sih, untuk merekrut pengasuh si kecil yang hot?

Beberapa tahun lalu, saya sempat dibikin kaget saat membaca berita soal pernikahan vokalis No Doubt, Gwen Stefani dan vokalis Bush, Gavin Rossdale yang kandas di tengah jalan lantaran pemicu perceraian karena Gwen Stefani memergoki suaminya, Rossdale selingkuh dengan pengasuh anaknya, Mindy Mann.

Nggak cuma pasangan Gwen Stefani dan Gavin Rossdale, pasangan selebriti lain semacam  Ben Affleck dan Jennifer Garner juga harus bercerai gara-gara Ben Affleck ketahuan selingkuh dengan dengan pengasuh anaknya.

hot nany, yes or no mommies daily

Waktu ngikutin berita tersebut, saya langsung membatin, “Duuuh…. Bini udah kece dan hot begitu masih aja nggak puas? Masih ngelirik pengasuh anaknya? Gila kali, nih, ya…”

Tapi, ya… kalau dipikir-pikir siapa juga yang bisa menjamin pernikahan bisa utuh meskipun penampilan fisik istri sudak kece? Termasuk menghindari skandal perselingkuhan dengan pengasuh anak. Lagian, nanny di luar negeri kan memang bisa dibilang memang berbeda dengan pengasuh di sini.

Maaf… bukan maksud saya menganggap rendah pengasuh kita, lho, ya. Nggak sama sekali. Tapi kan memang kita nggak bisa nutup mata kalau pengasuh anak kita berbeda dengan pengasuh anak di luar sana. Di mana kalau di luar negeri, anak-anak kuliahan atau yang bependidikan tinggi nggak akan malu jadi pengasuh anak untuk nambahin uang jajan. Jadi memang nggak heran kalau pengasuh anak di sana akhirnya bisa terlihat lebih atraktif dan ‘menggoda’.

Urusan memilih pengasuh anak memang nggak gampang. Malah ada teman yang bilang kalau cari pengasuh anak yang bisa dipercaya itu lebih sulit dari cari jodoh, hahahaha. Kalau cari pengasuh, biasanya kita pun sudah punya kualifikasi khusus yang perlu dipenuhi. Kalau angan-angannya saya, sih, bisa punya pengasuh macam Mrs. Doubtfire, hahaha. Pengasuh yang keibuan, yang sigap bantu bikin sarapan. Tapi, bisa juga temenin anak-anak main bola di luar rumah.

Ya, setidaknya… setiap merekrut mbak di rumah buat temenin Bumi sehari-hari, selama ini memang ada beberapa peraturan hal yang perlu saya pertimbangkan dalam mempekerjakan seorang pengasuh.

Peraturan pertama, penampilan pengasuh nggak centil.

Nah, ketika pertama kali ketemu dengan calon, si mbak. Saya sudah bisa ‘menakar’ apa si si mbak ini tipe yang centil apa nggak. Bisa terlihat, kok, jadi bahasa tubuh dan cara dia berbicara. Kalau belum apa-apa sudah kelihatan centil, mending langsung coret saja!

Peraturan ke-2, pengasuh harus bisa merespon cepat jika menghadapi situasi yang sulit.

Sudah tahu, dong, ya, kalau dalam hidup ini kita perlu skenario untuk mencapai apa yang kita inginkan. Skenario ini juga perlu dikuasai oleh calon si mbak, bagaimana dia bisa merespon dan cepat tanggap dengan segala sesuatu yang akan terjadi, khususnya pada anak kita. Misalnya, nih, saat wawancara jangan lupa tanya apa yang mereka akan lakukan jika menghadapi beberapa situasi yang sulit. Kalau anak saya jatuh, bagaimana? Apa yang kamu lakukan? Kalau ada orang yang nggak dikenal tiba-tiba menggendong anak saya, kamu akan melakukan apa? Kalau memang dia bisa menjawab dengan baik, setidaknya saya bisa tahu bagaimana dia menghadapi sebuah situasi sulit.

Peraturan ke-3, lihat bagaimana interaksinya dengan anak. Catat, interaksi dengan anak, ya, bukan suami, hahahaha.

Menurut saya, peraturan ini yang paling penting. Lihat bagaimana respon anak ke calon pengasuhnya, dan lihat juga bagaimana sikap calon pengasuh ke anak kita. Kalau dari awal sudah terlihat nggak suka sama anak, males-malesan, apa yang mau diharapkan? Malah ada salah satu teman saya yang meminta calon pengasuh anaknya untuk  membacakan buku cerita pada anaknya. Katanya, dari sana ia bisa melihat bagaimana cara si calon pengasuh menghadapi anaknya.

Peraturan ke-4, cek media social yang dimilikinya, pastikan isinya nggak ‘ajaib’.

Hari gini, siapa sih yang nggak punya akun sosial media? Setidaknya Facebook. Nah, nggak ada salahnya kok  memanfaatkan sosial media sebagai mata-mata, hahaha. Dari sini kita jadi punya gambaran apakah dirinya tepat jadi kandidat pengasuh anak atau tidak.

Bagaimana dengan mommies yang lain? Apa, sih, kriteria dan peraturan saat memilih pengasuh anak? Kalau saya, sih, memang percaya insting pribadi dan anak. Kalau anak dari awal sudah merasa tertarik dan dekat, tandanya memang layak dicoba. Iya, menarik buat anak, lho, ya… bukan menarik buat suami :D

 


Post Comment