Hamil dengan Kekentalan Darah, Apa yang Harus Diperhatikan?

Risiko terburuk hamil dengan kekentalan darah bisa menyebabkan keguguran berulang, perkembangan janin yang terhambat, hingga kematian janin dalam rahim.

Ketika hamil, semua perempuan pastilah ingin janin dan dirinya dalam keadaan sehat-sehat saja, dari awal kehamilan hingga proses melahirkan. Namun, nggak bisa dipungkiri ya, ada sebagian ibu yang harus berusaha lebih keras untuk menjaga kesehatan selama periode kehamilannya itu.

Baca juga: Pemeriksaan Fetomaternal, ‘Obat’ yang Menenangkan Bagi (Calon) Orangtua

Hamil dengan Kekentalan Darah, Apa yang Harus Diperhatikan? - Mommies DailyPernah dengar nggak mommies tentang istilah “darah kental’? Pertama-tama, kita bedah dulu apa sih yang dimaksud dengan kekentalan darah ini. dr. Khanisyah Erza Gumilar, SpOG  – Staf divisi Fetomaternal RS Universitas Airlangga, Surabaya, memberikan ilustrasi defisininya seperti berikut ini, supaya mendapatkan pemahaman yang jelas.

Kental = tidak encer

Kental = pekat

Pembuluh darah = selang

Plasma = cairan

Hb, lekosit, trombosit, factor pembekuan , dan lain-lain (baca: komponen darah) = Pasir

Ketika hamil, pasir dan cairan sama-sama meningkat, namun kecepatan peningkatan cairan lebih laju, sehingga pasir yang begitu banyak seolah-olah “terlarut”. Hasilnya adalah aliran darah lancar-lancar s aja. Ini gambaran yang terjadi pada kehamilan normal

Namun ketika ada sesuatu pada kehamilan, mungkin terjadi pasir terlalu banyak dan cairan tidak mampu “melarutkan”pasir, apalagi ditambah penampang selang yang sempit. Akibatnya aliran darah jadi terhambat dan mudah terjadi pembekuan. Hasil akhirnya pertumbuhan janin bisa terhambat.

Jadi kekentalan darah bisa diartikan “Perbandingan jumlah sel darah merah dengan plasma. Hal ini dapat dilihat dari kadar Hemoglobin (Hb) dan hematocrit / pack cell volume (Hct / PCV). Selain itu peningkatan trombosit membuat darah menjadi “pekat”. Namun pada kenyataannya pada kehamilan normal, terjadi “pengenceran” darah karena kecepatan penambahan plasma lebih tinggi dibandingkan penambahan komponen darah seperti Hb, lekosit, trombosit, dan lain-lain.”

Sementara pada kondisi hamil, Kekentalan darah yang dimaksud boleh juga diartikan bahwa selama kehamilan proses pembekuan darah menjadi relatif lebih cepat. Hal ini berhubungan dengan mekanisme persiapan saat persalinan tidak terjadi perdarahan yang massif.

Hal menarik lainnya adalah hypercoagulation state meningkatkan risiko terjadinya deep vein thrombosis (DVT) yaitu terjadi gumpalan (thrombus) pada pembuluh darah vena di kaki. Seringkali pasien merasa nyeri di salah satu atau kedua kaki. Hmmm, kalimat terakhir ini, menurut saya patut untuk diwaspadai.

Bagaimana bisa mengetahui kekentalan darah pada tubuh kita?

dr. Erza mengingatkan wajib hukumnya melakukan pemeriksaan darah, untuk mengetahui komponen darah, sebelum perempuan berencana hamil. Selain itu, jika mommie sudah pernah hamil sebelumnya, juga bisa membantu dalam mendiagnosa kehamilan yang kedua. Misalnya dr. Erza mencontohkan didaptkan riwayat keguguran berulang pada kehamlan sebelumnya tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya, maka kita dapat mencurigai anti phospholipid syndrome (APS) sebagai salah satu penyebab. Demikian juga penyakit autoimun lainnya missal SLE (lupus), anti caridiolipin syndrome (ACA), idiopathic thrombosis puerpura (ITP), dan lain-lain. Demikian juga apabila pasangan suami-istri atau salah satunya mempunyai masalah komponen darah, misalnya: Hemophilia, thalassemia, rhesus (-), dan lain-lain.

Baca juga: Mengatur Jarak Kehamilan Bisa Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi, Lho!

Sebelum program hamil ada baiknya mommies, melakukan pemeriksaan darah sederhana:

  • Darah Lengkap (DL)
  • Golongan darah : ABO dan Rhesus

Namun, pemeriksaan wajib lebih selektif, jika ditemukan riwayar keguruan berulang sebelumnya.

  • Thalasemia
  • ACA
  • Protein C/S
  • Beta-2 Glikoprotein
  • Panel autoimun : ANA test, DsDNA, C3-C4

Risiko terburuk yang mungkin saja dihadapi perempuan hamil dengan kekentalan darah adalah keguguran berulang, perkembangan janin terhambat, prematuritas bahkan kematian janin dalam rahim. Karena itu, selain pemeriksaan darah sederhana di awal rencana kehamilan, seperti yang sudah saya singgung di atas. Selain itu, juga wajib waspada dengan gejala awal kekentalan darah ketika hamil:

Baca juga: Waspadai Tanda-tanda Kelahiran Prematur

  • Riwayat keguguran berulang pada hamil sebelumnya tanpa penyebab yang jelas
  • Adanya kelainan darah yang dideteksi sebelum hamil
  • Mempunyai penyakit tertentu yang berisiko terjadi kekentalan darah, misal: penyakit jantung, hipertensi, obesitas, diabetes, dan stroke.
  • Nyeri kaki
  • Rasa kesemutan anggota gerak

Jika sudah terlanjur hamil, dan baru mengetahui mempunyai kekentalan darah, dr. Erza menyebutkan kehamilan tersebut diklasifikasikan sebagai kehamilan risiko amat tinggi. Memerlukan konsultan fetomaternal untuk penatalaksanaan yang holistic.

“Sebenarnya untuk mengatasi kekentalan darah bergantung dari penyebabnya. Misalnya kasus kelainan protein pembekuan darah (defisiensi protein C/S) memerlukan low molecule weight heparin (LMWH) (baca: anti pembekuan darah) selama kehamilan. Pada kasus kehamilan dengan factor risiko preeklampsia (obesitas, diabetes, hipertensi, dll) dapat diberikan Aspilet selama kehamilan,” pungkas dr. Erza.


One Comment - Write a Comment

  1. Menurut saya kekentalan darah bukanlah masalah. Selama sudah ketahuan kekentalan darah, maka sisa melakukan pengobatan dengan dokter ahli darah / hematologist untuk kontrol kekentalan darah dan ke dokter kandungan/fetomaternal untuk kontrol janin. Banyak pasien yg memiliki kekentalan darah namun bayinya lahir sehat semisalkan Ashantynya Anang. Yg penting dilakukan adalah rutin cek darah, minum obat atau suntik heparin dan lebih menjaga kehamilan. Menurut Prof Karmel (no 1 hematologist di Indonesia), masa rentan adalah 12 minggu krn mudah keguguran akibat janin tidak mendapatkan nutrisi dari darah ibu krn kental. Jika pengobatan rutin dan kita disiplin, tidak ada halangan memiliki bayi yg sehat walau memang harus terus minum obat pengencer darah dan suntik heparin selama hamil.

Post Comment