Bedakan Anak Tubuh Kecil dengan Tubuh Kurus

Yuk, mommies kita sama-sama belajar memahami untuk membedakan anak dengan tubuh kecil dengan anak yang tubuhnya kurus. Karena tanpa disadari masih banyak persepsi yang keliru mengenai dua hal ini.

Siapa, nih, di antara mommies yang sering parno melihat kondisi anaknya? Dikit-dikit khawatir dan bilang anak terlalu kurus… atau malah selalu mengganggap tubuh anak terlalu kecil. Ditambah lagi kalau mendengar ada komentar miring dari orang lain semacam, ”Duh… anak kamu kurus banget, ya. Berat badannya emang berapa? Nggak mau dinaikin, tuh?”.

Meskipun selama ini nggak pernah ada komentar seperti itu yang mampir ke kuping saya, tapi saya cukup paham kalau orangtua yang mendengar komentar seperti itu pasti akan ‘gerah’. Buat ibu-ibu, masalah berat badan anak itu memang cukup sensitif, ya.

bedakan anak berbadan kurus dengan anak berbadan kecil_mommiesdaily

Jadi, belum lama ini ada salah satu teman saya yang curhat soal  kondisi tubuh anak lelakinya. Dia menganggap kalau tubuh anaknya terlalu kurus untuk ukuran badan seusia anaknya. “Anak gue itu sebenarnya makannya nggak susah, kok. Tapi kok, kayanya anak gue itu kurus banget, deh. Apa mungkin karena anak gue terlalu aktif, ya? Jadi sering menghabiskan energi makanya nggak gemuk-gemuk?” tuturnya.

Ah, familiar banget nggak sih?

Curhatan teman saya ini membuat saya tergelitik, jadi tergerak mau cari informasi mengenai hal ini. Bukan apa-apa, soalnya di lingkungan saya, mamang masih banyak, kok, orangtua yang salah persepsi dan belum bisa membedakan anak yang tubuh kurus dengan anak kecil.

Untuk mendapatkan informasi akurat mengenai hal ini, saya pun bertanya pada dr. Meta Hanindita SpA. Di awal pembicaraan, dr. Meta mengingatkan saya bahwa memang sebenarnya sebagai orangtua kita perlu memahami bahwa anak berbadan kecil dan anak yang berbadan kurus itu punya pengertian yang berbeda.

Dalam hal ini, dr. Meta Hanindita SpA mengingatkan kita para orangtua untuk mengacu pada kurva pertumbuhan saja. Jadi jangan terpaku dan pusing dengan komentar orang lain.

“Kalau dari WHO ada 3 macam, berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur sama berat badan menurut tinggi badan. Yang banyak orang awam pikir, berat badan idela anak itu sesui dengan umurnya. Padahal yang benar itu berat badan sesuai dengan tinggi. Jadi, harusnya ukur dulu tinggi badan anak, baru tanya, harusnya berat anak idealnya berapa kg?” papar dr. Meta.

Dr. Meta melanjutkan, untuk berat badan sesuai dengan umur, itu bisa menentukan anak kurus atau tidak. “Tapi, amak yang kurus, belum tentu gizinya buruk atau kurang, lho, ya. Bisa saja memang dikarenakan tubuh anaknya yang pendek atau tidak tinggi.”

Soalnya, menurut dr. Meta, secara umum apabila perumbuhan berat badan anak tidak baik, lama-lama memang akan memengaruhi tingginya. Jadi, biar anak tidak ketilan terlalu kurus, maka badan pun akan berkompensasi, tingginya tidak akan naik. Oleh karena itulah kalau terus menerus seperti ini, anak pun akan pendek.

Untuk mengetahui pertumbuhan anak sudah sesuai atau belum, orangtua wajib belajar dan paham soal kurva pertumbuhan. Dengan begitu, sebagai orangtrua kita bisa tahu perkembangan anak sendiri, dan nggak gampang percata dengan komentar orang lain soal berat badan atau postur anak. Kalau memang garis hasil kurva pertumbuhan sudah mengikuti garis kurva, dengan indikasi yang terus naik, artinya pertumbuhan anak sudah sesuai.

“Jadi, jangan asal kasih cap anak saya terlalu kurus,  atau kecil. Masalahnya kadang orangtua itu rajin ngeplot di KMS nya itu pas anak masih bayi saja, begitu setaun ke atas suka lupa. Sebenernya yg ada di KMS itu udah cukup sekali buat pegangan kita sebagai orangtua. Pada intinya tumbuh kembang anak yang baik sesuai dengan usia, sehat secara fisik dan psikis juga.

Oh, ya, di akhir obrolan kami, dr. Meta memberikan 3 pesan buat mommies semua. Pesan apa saja?

  1. Orangtua perlu rajin-rajin menimbang dan ukur tinggi bayi, catat, plot di grafik pertumbuhan. Bisa di-download bebas kok, atau kalau mau mencatat di KMS juga boleh.
  2. Kalau berat badan bayi turun, tetap, atau naik tapi tidak seperti yang seharusnya, segera konsultasikan ke dokter.
  3. Yang terlihat kurus belum tentu memang kurus, yang terlihat kecil juga belum tentu memang pendek. Karena sesuatu yang ‘terlihat’ itu sangat subyektif.

Jadi gimana, mommies? Semoga informasi dan penjelasan dari dokter yang berpraktik di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya ini bisa bermafaat buat kita semua, ya.

Baca juga : Anak Kurang Gizi? Hati-hati Risiko Stunting

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment