Komunikasi Antar Divisi, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Sudah nggak perlu diragukan lagi, ya, kalau skill komunikasi dibutuhkan dalam ruang lingkup kantor. Termasuk kemampuan komunikasi antar divisi.

Di antara mommies pernah punya pengalaman bersitegang dengan rekan kerja yang beda divisi? Setau saya, sih, pergesekan atau adanya kesalahah pahaman yang terjadi antar divisi bisa saja terjadi. Bahkan celahnya sangat besar. Artinya kemampuan komunikasi yang baik memang sangat diperlukan.

Kalau ngomongin soal konflik antar divisi saya langsung ingat pengalaman saya ketika bekerja di salah satu majalah pria dewasa terbitan Jakarta. Waktu itu, ada saja pergesekan yang terjadi antara tim redaksional dengan tim sales yang sebenarnya lebih banyak disebabkan miss komunikasi.  Padahal menurut saya, konflik seperti ini bisa diatasi kalau semuanya paham dan punya skill yang baik.

komunikasi antar divisi_mommiesdaily

Tapi bukan berarti skill komunikasi saya ini sudah baik dan sempurna lho, ya. Sama sekali tidak. Karena sepajang saya berkerja, saya pun sadar kalau masih banyak sekali kekurangan atau kesalahan yang sudah saya perbuat. Oleh karena itulah saya masih terus belajar mengasah keterampilan berkomunikasi.

Apalagi saya nggak kerja sendirian, banyak sekali berhubungan dengan tim atau divisi lainnya. Seperti yang dikatakan oleh oleh Gibson, et.al. (1997:437), selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik.  Hal ini berisiko terjadi kalau memang komunikasi tidak berjalan dengan baik.

Terus gimana, dong?

Jangan Egois

Iya, menurut saya sih, dalam hubungan relasi memang nggak boleh egois. Nggak Cuma hubungan pribadi dengan pasangan saja, tapi juga dengan rekan kerja terutama dengan divisi yang berbeda. Egois syang saya maksud di sini adalah selalu mementingkan kebutuhan pribadi atau diri sendiri tanpa mau peduli dengan orang lain.

Nggak Perlu ‘Bertanding’

Loh, apa hubungannya komunikasi dengan antar divisi dengan pertandingan? Sebenarnya poin yini masih berkaitan erat dengan kemampuan kita untuk tidak egois. Maksud bertanding di sini adalah masing-masing pihak berebut kepentingannya sendiri, melakukan segala upaya untuk menjadi pemenang tanpa harus memperhatikan kepentingan divisi lain. Kalau hal ini dilakukan, bisa kebayang dong, dampak yang bisa ditimbulkan?

Meningkatkan Komunikasi Secara  Langsung

Seingat saya, sekarang ini saya punya banyak sekali grup WhatsApp. Ada grup khusus tim editorial, ada grup khusus untuk contributor, dan tentunya ada grup dengan divisi lain yang memang pekerjaan kami saling  berhubungan. Contohnya, grup WhatsApp dengan tim event dan creative. Meskipun bisa menyampaikan pada rekan kerja lewat fitur pesan singkat jadi solusi yang cepat. Tapi bukan berarti jadi malas ngomong secara langsung, lho, ya… Biar gimana komunikasi secara langsung, dua arah atau duduk bersama untuk diskusi tentu juga sangat diperlukan.

Jangan Lupa Kompromi

Salah satu skill yang dibutuhkan untuk bisa terus kerja sama dengan rekan kerja termasuk rekan antar divisi adalah kemampuan untuk kompromi. Iya nggak, sih? Dan rasanya sikap ini bisa ditempuh bila komunikasi antar divisi bisa terjalin baik. Saya sangat paham kalau merasa perlu menjaga hubungan baik dengan divisi lain untuk meraih tujuan bersama. Setidaknya, saya perlu berlajar bagaimana caranya bisa mendapatkan win win solution.

Ada yang mau nambahin poin lainnya ngga?

 


Post Comment