Hobi Baru Saya: Mengajak Anak ke Psikolog

Rada ajaib memang ya hobi baru saya….. tapi rutin mengajak anak ke psikolog membuat hubungan saya dengan dua krucil semakin menyenangkan.

Ketertarikan saya terhadap dunia psikologi itu mulai muncul sejak saya kuliah di FISIP UI. Mungkin karena lokasi fakultasnya yang deketan, ahahaha, apa hubungannya. Entahlah, namun saya selalu suka membaca buku tentang psikologi atau menonton film yang bercerita tentang perilaku mental manusia. Rasanya menyenangkan.

Ketika sudah punya anak dan nyemplung di media parenting, saya semakin suka :D. Apalagi saya banyak berinteraksi dengan para psikolog anak. Saya jadi mendapat banyak sekali ilmu yang bisa saya contek dalam mendidik anak.

Setelah anak-anak saya semakin tumbuh besar, hubungan saya dengan psikolog anak semakin ‘intens’ dalam artian saya jadi hobi konsultasi dengan psikolog anak tentang tumbuh kembang si kecil. Sampai akhirnya sekitar dua tahun lalu, saya mengajak anak-anak saya untuk langsung ke tempat praktiknya mbak Vera Itabiliana.

Awalnya, saya hanya ingin anak-anak saya menjalani tes IQ, agar saya tahu bagaimana gaya belajar yang cocok untuk anak-anak saya. Tapi menariknya, di luar urusan IQ, banyak manfaat yang saya rasakan dengan rutin mengajak anak-anak bertemu dengan Psikolog Anak. FYI, mengajak anak ke psikolog tidak harus karena anak kita bermasalah kok.

Hobi Baru Saya: Mengajak Anak ke Psikolog - Mommies Daily

1. Mendapatkan inside dari pihak ketiga secara netral
Memiliki seseorang yang kita tahu dapat berpikir tenang dan memberi masukan-masukan yang netral membuat beban pikiran saya sebagai orangtua lumayan berkurang lho. Seorang psikolog sudah pasti akan memberikan masukan secara profesional tanpa ada unsur kepentingan di dalamnya selain memastikan bahwa anak-anak ini terlindungi.

2. Tumbuh kembang anak terpantau
Memercayakan anak di tangan ahlinya membuat kita jadi tahu apakah tumbuh kembang si kecil sesuai dengan usianya, apa yang kurang, mana yang harus ditingkatkan dsb. Dan solusi yang kita dapat juga sudah pasti tepat dan umumnya sesuai dengan kebutuhan si kecil. Karena kan tumbuh kembang nggak selalu kaitannya dengan nutrisi, namun juga kesehatan mental :).

3. Anak memiliki orang lain yang bisa dipercaya (yang juga dipercaya oleh orangtua)
Kadang, ada hal-hal yang sulit bagi seorang anak untuk disampaikan ke orangtuanya (iyaaaaa, ini sudah terjadi pada anak saya yang pertama), maka memiliki sosok tante atau om psikolog yang bisa mereka percaya membuat mereka tidak perlu menyimpan rahasia atau masalah sendirian. Daripada mereka percaya pada orang yang salah, mendingan mereka curhat kepada psikolog kan.

Baca juga:

Trik Agar Anak Tidak Malas Bercerita tentang Aktivitasnya

4. Kita jadi lebih paham maunya anak dan apa yang dialami oleh anak
Saat anak kita lebih percaya untuk curhat kepada psikolog, bukan berarti kita menjadi orang asing di antara mereka. Karena setelahnya, psikolog tetap kok akan memberikan hint-hint kepada orangtua mengenai kondisi anak dan meminta kita sebagai orangtua untuk mencari tahu langsung ke anak sesuai dengan hint yang diberikan. Di satu sisi, psikolog anak-anak saya tetap memegang janjinya kepada si anak untuk tidak membocorkan rahasia, di sisi lain, orangtua tetap tahu apa yang terjadi pada anak.

Namun, jika terjadi kondisi-kondisi tertentu yang memang berbahaya untuk si anak, misalnya dia curhat ke psikolognya bahwa dia dibully, atau mengalami pelecehan seksual atau hal-hal lain yang memang WAJIB diketahui orangtua, saya sih nggak khawatir, karena biasanya, psikolog anak saya akan mengatakan kepada anak-anak, bahwa ini HARUS diketahui oleh ayah dan mamanya.

Saya percaya untuk membesarkan seorang anak tidak bisa hanya dilakukan oleh orangtua saja. Seperti pepatah Afrika yang mengatakan It takes a village to raise a child. Hmmm, menurut mommies penting nggak sih ini? Atau memang saya aja yang lebay?

Baca juga:

Sudahkah Kita Mengenal Pengajar Anak Kita?


4 Comments - Write a Comment

    1. Hai mbak,

      Sebenarnya kalau nggak ada masalah dengan tumbuh kembang sih , bisa dibawa ke psikolog sekitar usia 8 tahun aja, karena sudah bisa diajak berdiskusi, ngobrolnya jadi lebih enak. Atau saat usianya 10 tahun, ketika masa pubertas sudah mulai muncul. Aku biasanya ke mbak Vera Itabiliana, dia ada di Depok dan di Salemba UI :).

Post Comment