Kasus Meningitis pada Anak Masih Marak Terjadi, Apa Sebabnya?

Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%. Mengapa masih banyak anak yang terkena meningitis?

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol dengan dr. Meta Hanindita, SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, lewat WA tentang kasus Myopathy pada anak. Yang kasusnya masih terbilang sangat langka. Di tengah obrolan, dr. Meta bilang, kasus penyakit pada anak yang terbilang lumayan sering dia alami adalah meningitis. Langsung saja, di kesempatan selanjutnya, saya menggali lebih dalam, fakta yang diungkapkan dr. Meta.

Kasus Meningitis pada Anak Masih Marak Terjadi, Apa Sebabnya? - Mommies DailyImage: www.jimdodsonlaw.com

Meningitis sendiri adalah istilah medis untuk inflamasi/radang yang terjadi di jaringan meninges yang melindungi sistem syaraf dan otak manusia. dr. Meta membeberkan temuannya, terkait faktor risiko kasus meningitis yang jumlahnya terbilang masih tinggi.

  1. Status imunisasi yang tidak lengkap

Baca juga: Kenapa Vaksinasi Dibutuhkan?

  1. Usia. Yang paling rentan terkena adalah anak berusia di bawah 5 tahun.
  2. Dari keluarga low income
  3. Kondisi imunosupresan atau menurunnya daya tahan tubuh. Bisa karena penyakit yang diderita misalnya AIDS pada anak, atau karena kondisi lain. Misalnya status gizi buruk yang dapat menurunkan status daya tahan tubuh anak.
  4. Tinggal atau sering berada di komunitas yang padat. Misalnya tinggal di asrama, anak yang ada di daycare, dan lain-lain

Berhubung, poin pertama yang disebut dr. Meta adalah status imunisasi yang tidak lengkap. Mari kita kupas, sebenarnya vaksin apa saja yang dapat menurunkan risiko terjadinya mengitis?

  1. Hemophillus influenza b (Hib),
  2. Pneumococcal conjugate vaccine (PCV)
  3. Ada juga vaksin yang dapat mencegah infeksi virus tertentu yang dapat menyebabkan meningitis atau infeksi sistem syaraf pusat lain seperti MMR, polio dan varicella.
  4. Demikian pula dengan vaksin BCG yang dapat menurunkan risiko infeksi TBC yang menyebabkan meningitis TBC.

Disimpan baik-baik ya, mommies ke-4 nama vaksin tadi, dan segera cek buku riwayat kesehatan si kecil. Jika belum melakukan salah satunya, segera konsultasi ke dokter spesialis anak.

Dilihat dari penyebabnya, secara garis besar dr. Meta menuturkan, terbagi menjadi dua.

  1. Meningitis septik (disebabkan bakteria)
  2. Meningitis aseptik (disebabkan sebagian besar oleh virus, namun bisa juga karena jamur dan parasit). Yang paling sering terjadi, meningitis yang disebabkan oleh virus.

Gejala meningitis

Gejala meningitis yang muncul bisa berbeda, dari segi usia.

  1. Newborn: bisa demam dengan gejala lain yang tidak spesifik. Misalnya malas menyusu, bisa muntah, diare, timbul rash. Bisa rewel sekali, atau lemas dan tidur melulu, serta leher kaku dan ubun-ubun di kepala cembung.
  2. Anak yang berusia lebih besar: berupa panas, pusing, mual, muntah, kejang dan penurunan kesadaran. Bisa juga fotofobia atau mata sangat sensitif terhadap cahaya. Tidak ada gejala yang benar-benar khas untuk meningitis.

Penanganan

Meningitis yang disebabkan bakteri: dengan pemberian antibiotik, tentu atas resep yang diberikan oleh dokter ya, mommies.

Meningitis yang disebabkan virus: pada hampir semua kasus, tidak ada obat khusus yang dapat menghilangkan virus penyebabnya. Sehingga penanganan hanya bersifat suportif, seperti istirahat cukup, pemberian cairan yang cukup, dan obat-obatan simtomatik atau sesuai gejala. Hanya saja, karena untuk menentukan apakah ini virus atau bakterinya cukup susah dan membutuhkan waktu (menunggu hasil pemeriksaan laboratorium atau radiologis), biasanya anak dengan meningitis langsung diberikan antibiotik. Jika nantinya memang terbukti karena viral, antibiotik dapat distop. FYI, meningitis bakterial ini memang sangat berbahaya dan dapat mematikan jika penanganannya terlambat. Sedangkan gejala meningitis bakteri dan virus hampir tak dapat dibedakan.

Apakah menular?

Meningitis virus:

Kalau anak kontak dekat dengan orang yang menderita meningitis viral, anak terebut dapat terinfeksi virus yang membuat orang itu sakit. Tapi bukan berarti anak tersebut pasti akan terkena meningitis viral seperti orang tadi. Hanya sedikit orang yang terinfeksi virus yang benar-benar akan menjadi meningitis.

Meningitis bakterial:

Umumnya, kuman yang menyebabkan bakteri meningitis menyebar dari satu orang ke orang lain. kuman tertentu, seperti Listeria monocytogenes, dapat menyebar melalui makanan.

Saat seseorang terinfeksi bakteri, bukan berarti mereka pasti akan langsung menderita sakit. Mereka ini disebut “carrier” atau pembawa. Tidak sakit, tapi masih bisa menularkan bakteri tadi ke orang lain. Sebagai contoh:

  • Ibu bisa menularkan bakteri grup B Streptococcus dan Escherichia coli untuk bayi mereka selama persalinan dan kelahiran.
  • Seorang anak dapat tertular bakteri Hib dan Streptococcus pneumoniae oleh batuk atau bersin saat berada di kontak dekat dengan orang lain, yang menghirup bakteri.
  • Anak dapat tertular bakteri Neisseria meningitidis, selama dekat (batuk atau berciuman) atau lama (tinggal di rumah yang sama) kontak dengan orang yang sakit.
  • Anak bisa mendapatkan Escherichia coli dengan makan makanan yang disiapkan oleh orang-orang yang tidak mencuci tangan mereka dengan baik setelah menggunakan toilet.

Setelah melihat fakta bahwa, masih maraknya kasus meningitis yang terjadi, dr. Meta merekomendasikan beberapa hal, yang menurut saya patut kita ingat, untuk bersama mencegah terjadinya meningitis di lingkungan terdekat.

Kasus Meningitis pada Anak Masih Marak Terjadi, Apa Sebabnya? - Mommies DailyImage: www.tvcc.edu

  1. Lengkapi status imunisasi

Baca juga: Harus Tahu: 9 Fakta Imunisasi Pada Anak

  1. Jika akan berkunjung ke daerah sub sahara, atau bepergian ke tanah suci, jangan lupa untuk melakukan vaksinasi Meningitis.
  2. Rutin mencuci tangan dengan baik dan cara yang benar.
  3. Cegah kontak seperti berciuman, sharing gelas atau peralatan makan dengan orang yang sakit.
  4. Ajari anak menutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk.

Baca juga: Kenali Jenis Batuk yang Berbahaya Pada Anak

  1. Jangan ajak anak ke mana-mana saat sakit. (Biasanya karena dianggap enteng, tetap saja dibawa ke mall misalnya. Padahal saat sakit, anak kecil terutama balita, daya tahan tubuhnya sangat melemah. Siapa yang tahu ada virus atau bakteri apa saja di mall?)

Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati, ya, mommies.


Post Comment