The Biggest Problem of Working Mom with Baby

Setelah memiliki bayi, saya jadi menyadari kalau ada 5 masalah terbesar yang dimiliki oleh ibu bekerja yang mempunyai bayi. 

Di 3 bulan pertama punya newborn, rasanya setiap hari saya merasa kurang tidur. Sebabnya, Jordy anak pertama saya, pola tidurnya masih belum pasti. Keadaan masih lebih baik, ketika saya masih cuti bersalin, perjuangan sebenarnya baru muncul ketika harus kembali ngantor.

Mengingat sudah jadi pilihan saya menjadi ibu bekerja, ya nikmatin saja. Sambil berjalan mencari celah, tetap bisa bekerja efisien dan keluarga terurus dengan baik. Ini dia beberapa masalah terbesar yang sempat saya rasakan sebagai ibu bekerja, yang punya bayi.

The Biggest Problem of Working Mom With Baby - Mommies DailyImage: www.thechampatree.in

  1. Kejar tayang menyetok ASIP

Seperti bayi laki-laki kebanyakan, saya merasa Jordy minum ASI-nya kuat banget. Sampai-sampai pas udah dekat dengan waktunya kembali ngantor, persediaan ASIP saya nggak  ada sekulkas penuh. Sedih sih, tapi tetap saya syukuri, karena masih bisa menghasilkan ASI buat Jordy. Ada masanya, ASIP Jordy kejar tayang. Walau sangat sangat melelahkan harus bangun tengah malam buat pumping, sisi baiknya, ASIP Jordy selalu dalam keadaan fresh, karena nggak disimpan dalam freezer terlalu lama.

Baca juga: Stok ASIP Sampai Sekulkas, Nggak Perlu, Lho!

  1. Terburu-terburu pumping di kantor

Bukan, bukan masalah pumping-nya, melainkan pumping yang tergesa-gesa karena mepet dengan waktu kerja dan jadwal lainnya yang udah nunggu. Apalagi ketika harus menggantikan meeting atasan yang mendadak. Pernah lho, saya sampai disamperin rekan kerja ke ruangan pumping. Solusinya, selalu mengingatkan rekan satu tim, jam-jam saya pumping dan sebisa mungkin patuh sama deadline harian, supaya pumping berjalan damai dan lancar.

Baca juga: Benarkah Metode Power Pumping Cocok untuk Ibu Bekerja?

  1. Rasa bersalah meninggalkan si kecil di rumah

Naaaaah ini dia yang paling sering dirasakan oleh para ibu baru. “Tha gimana pertama kali ninggalin Jordy di rumah?”, ujar salah satu teman saya. Sedih sih, saya akui. Dan nggak bisa dipungkiri ada rasa bersalah, terlebih saya baru aja jadi ibu. Berhubung ini adalah pilihan saya, jalani dan hadapi konsekuensinya. Ingat-ingat lagi, apa dan untuk siapa tujuan saya bekerja?

Baca juga: 7 Tips Sukses Bermain “Akrobat” dari Para Ibu Bekerja

  1. Membuat stok MPASI

Selama saya kerja, untungnya masih ada Mama yang mau jagain Jordy. Hati saya tenang, tinggal memastikan ketika masuk masanya dia makan, alias MPASI, stok makanannya tersedia dengan baik. Tantangannya putar otak dalam membuat menu setiap minggunya, supaya Jordy nggak bosan. Sekaligus menyediakan perlengkapan yang memudahkan Mama menyiapkan makan buat Jordy. Solusinya, dari jauh-jauh hari, saya sudah membuat menu mingguan. Sumbernya, dari hasil ngobrol sama teman yang sudah dulu punya anak, dikombinasi dengan resep dari Mommies Daily tentunya dan buku.

Baca juga: Resep MPASI 6 Bulan

  1. Menyamakan nilai-nilai mengasuh anak dengan orangtua dan support system

Mengenai perbedaan nilai-nilai pengasuhan anak, antara zaman kita dan orangtua, nggak usah ditanya lagi deh ya. Mulai dari, pemakaian gurita bayi, yang sebetulnya nggak perlu lagi. Kasih pemahaman kalau ASI itu asupan terbaik si kecil untuk 6 bulan pertama, dan kalau bisa dilanjutkan sampai 2 tahun. Saya memilih untuk terbuka aja dengan orangtua dan keluarga, bilang apa adanya, saya orangtuanya, berhak menentukan pola asuh semacam apa, yang ingin saya terapkan. Nggak iya-iya di depan, tapi ngedumel dikemudian hari.

Baca juga: Me vs My Mom

Mungkin, apa yang menurut saya menjadi masalah terbesar bagi saya tidak dirasakan oleh mommies lainnya. Yah, kan prioritas setiap ibu pasti berbeda. Kalau mommies sendiri, tipe new mom yang kembali ke kantor setelah masa cuti dengan santai atau malah lebih pusing dari saya?


Post Comment