Exclusivity

Ditulis oleh: Ruthania Martinelly

Karena alur hidup seorang anak tidak sekadar lahir – tumbuh – sekolah – lulus – kerja – sukses – kaya raya.

Exclusivity - Mommies Daily

Sewaktu sedang mencari informasi untuk sekolah anak saya, Sena, benak saya melayang pada diskusi terakhir dengan bekas rekan kerja di negeri seberang, topik: Exclusivity.

Waktu itu keadaan orang – orang dengan kompetisi yang sangat tinggi membuat para orangtua sibuk mencarikan sekolah yang lebih menjual ‘brand’ & status ‘prestigious’ lainnya berbalut niat untuk ‘memberikan yang terbaik untuk anaknya’.

Baca juga:

10 Hal yang Dilakukan Orangtua yang Ternyata Berbahaya Untuk Anak

Tidak ada yang membantah bahwa apa – apa untuk anak pasti maunya yang terbaik. Tidak ada pula yang tidak bangga ketika anak kita bisa bersekolah di sekolah terbaik. Tidak ada pula yang tidak berbangga dengan label ‘anak saya alumni A loh’.

Baca juga:

Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Memilih Sekolah Dasar Swasta

Tapi terlepas dari memasukkannya ke sekolah terbaik, apakah pernah terpikir akan jadi apa anak- anak ini nantinya? Akankah ilmu yang ia terima memberikan manfaat untuk orang lain? Atau hanya semata – mata demi memenuhi jalan hidup yang katanya ideal? Sekolah-kuliah-lulus-kerja-kaya raya? Terlebih lagi, jika ia terus menerus dipupuk ke-Aku-an-nya dengan melabelkan diri “Gue yang paling pintar, gue yang paling the best”, apakah kita yakin kedepannya anak – anak ini bisa bermasyarakat?

Perjalanan saya menjadi orangtua memang baru 3 tahun…. Masih belum ada apa – apa… namun justru di titik ini, saya ingin lebih menyiapkan diri…. Lebih – lebih ketika segala kemungkinan hidup ke depan bisa memberikan cerita lain.

Sah – sah saja apabila si anak ingin kita didik secara eksklusif, sah – sah saja apabila Ibu – ibu terutama, berbangga anaknya dilihat terbaik di mata orang lain, tapi membuatnya merasa ‘tinggi’ dan lupa menjadikannya ‘membumi’ adalah satu hal yang tidak bisa kita pandang sebelah mata.

It’s super ideal if he can study in one of the best university in town, or even in the world…. But it’s definitely unacceptable kalau hal itu membuatnya merasa diri lebih penting & merendahkan orang lain……

Saya bangga punya anak pintar, tapi saya lebih merasa sukses & bahagia lahir batin ketika Ia bisa menahan ego, tidak merasa tinggi dan tidak sebelah mata memandang orang lain.

Karena cerita hidup seseorang bukan sekadar sekolah – lulus – kerja – kaya raya.

Ini PR saya, dan mungkin PR banyak orang tua di luar sana.

Baca juga:

Karena Nilai di Raport Anak Bukan Segalanya


Post Comment