Beli Barang Preloved Itu Nggak Dosa, Kok!

Beli barang preloved alias barang bekas untuk sebagian orang mungkin memalukan. tapi buat saya sih malah menyenangkan! Lha wong banyak manfaatnya. 

“Hari gini masih belanja barang bekas, Dis? Nggak malu?”

“Kenapa, sih, mesti beli barang preloved. Mending sekalian beli barang baru, kalau emang belum mampu beli, ya, beli yang KW-nya aja…”

Kira-kira, begini deh kalimat yang pernah mampir ke kuping saya begitu mereka tahu saya senang membeli barang preloved. Dengar ocehan mereka sih, saya senyum-senyum aja, masalahnya mereka belum paham aja gimana serunya belanja barang bekas. Makanya selain kasih senyum, saya juga kasih penjelasan ke mereka kenapa saya cinta preloved :).

barang preloved mommiesdaily

Menghemat pengeluaran belanja bulanan

Setiap bulan, saya memang selalu punya pos untuk diri sendiri belanja kebutuhan pribadi. Anggap saja sebagai reward setelah bekerja sebulan. Nggak apa-apa, kan? Nah, menurut saya dengan belanja barang preloved atau second saya bisa lebih menghemat pengeluaran.

Contohnya, nih.. saya sedang mengincar dompet baru yang harganya 800 ribu, kalau saya bisa menemukan dompet yang serupa dengan kondisi second namun bagus yang dijual seharga 500 ribu, tandanya saya lebih hemat, dong?

Gengsi buat beli barang second? Duh, sudah nggak zaman, ah! Kalau hidup selalu dipenuhi dengan gengsi, malah menyusahkan diri sendiri. Selama bisa menemukan produk preloved dengan kondisi yang masih baik, kenapa harus malu?

Lebih go green

Lho, apa hubungannya belanja barang preloved dengan go green? Menurut saya, sih, orang yang senang jual beli barang preloved justru orang-orang yang sudah menerapkan gaya hidup ‘go green’. Secara nggak langsung, kita ikut menjaga lingkungan karena ketika orang-orang lebih banyak menjual dan membeli barang bekas, maka kebutuhan bahan baku untuk produksi barang jadi berkurang.

Menambah pertemanan bahkan networking

Percaya, deh, dengan membeli atau menjual barang preloved sebenarnya membuka kesempatan kita untuk menambah teman, bahkan networking. Hal ini sudah pernah saya alami sendiri ketika membeli sebuah jam tangan. Ndilalahnya, rumah si penjual juga dekat dengan rumah saya. Alhasil setelah COD-an kami pun ngobrol ngalor ngidul.

Ngomongin masalah COD-an, saya memang lebih senang melakukan COD. Rasanya keamanan lebih terjamin. Rupanya, hal ini juga yang jadi perhatian OLX. Sejak awal OLX memang selalu menyarankan untuk melakukan transaksi secara COD. Hal ini untuk mengurangi kans kita tertipu.

Namun, saat ini ada yang baru dari OLX. Setelah memopulerkan iklan baris, kini OLX menawarkan sesuatu yang lebih fresh, dan lebih memudahkan proses jual beli khusunya buat perempuan.

Sekarang OLX punya wajah baru yang lebih dinamis dan menggoda. Hahaha…. Iya, soalnya aplikasi OLX ini juga menampilkan visual yang lebih catchy. OLX kini memang menonjolkan konsep hyperlocal: yaitu pembeli bisa melihat kira-kira pembeli yang lokasinya paling dekat dengan tempat dia berada, C2C dan trust yaitu kita bisa mengetahui profil calon pembeli maupun penjual, karena semua seller memang harus melengkapi data termasuk foto lebih dahulu. Kita pun nggak perlu menyebarkan nomor telepon kita karena di aplikasi OLX bisa memanfaatkan fitur-fitur chat yang memudahkan komunikasi antara penjual dan pembeli.

Makin terbukti, ya, kalau sebenarnya nggak ada yang salah, dengan membeli barang preloved? Malu? Ngapain juga malu! Lah wong, belinya juga nggak ngerepotin orang lain karena  pakai uang sendiri. Lagian saya, sih, malah lebih malu kalau beli barang KW. Justru, mending nggak usah sok-sokan beli produk brand ternama kalau memang nggak sesuai dengan bajet yang ada. Apa kabar cicilan renovasi rumah dan mobil? Hahahaa….

Saya ingat teman saya pernah ngomong, kalau beli barang KW itu seperti  membohongi diri sendiri. “Buat gue, sih, style kita itu termasuk refkesi diri pribadi. Kalau beli barang KW, kok, kayaknya malah maksa, ya. Lebih baik beli barang, ya, sesuai dengan kemampuan saja.”

Meminjam quote-nya Rachel Zoe, “Style is a way to say who you are without having to speak.” Setuju?


Post Comment