Serba Serbi Persiapan Pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG)

Dalam rangka program hamil anak ke-2, saya pun berencana melakukan pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG). Ternyata ada ada beberapa syarat yang perlu saya lakukan lebih dulu?

Setelah tertunda cukup lama, akhirnya bulan lalu saya dan Pak Suami membulatkan tekat untuk balik lagi ke dokter kandungan, ketemu lagi dengan dr. M. Soemanadi SpOg di Paviliun Kenanga. Mau ngapain? Ya, tentu saja melanjutkan untuk program hamil (lagi).

Waktu ketemu dr. Soemanadi, ia langsung tanya,“Mau ngapain ke sini?”.

“Ini, dok… kami mau seriusin untuk program hamil lagi,” jawab saya.

Tiba-tiba Pak Suami langsung merevisi jawaban saya, “Maksudnya mau lebih diseriusin, dok. Dari kemarin, sih, sudah serius tapi sekarang mau lebih diseriuskan lagi.”

Hahhaa.. bener juga, sih. Toh, selama ini kita berdua memang cukup serius untuk nambah anak, tapi memang belum sampai pemeriksaan ini itu. Sambil USG, dokter sempat tanya-tanya soal gaya hidup saya dan suami. Intinya, sih, waktu itu ngobrol kemarin, dr. Soemanadi menjelaskan soal penyebab seseorang mengalami infertilitas. Baik dari suami ataupun istri. Apalagi saat ini usia saya sudah lebih dari 35 tahun, konon katanya memang (lebih)  susah hamil.

Baca juga : Sulit Tambah Anak? Jangan-jangan Alami Infertilitas Sekunder

HSG mommiesdaily

Setelah ngobrol banyak, dr. Soemanadi pun merujuk saya untuk melakukan pemeriksaan pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG). Sebenarnya memang ini salah satu tujuan kita datang ke dr. Soemanadi. Mau memastikan apakah saya sudah perlu melakukan pemeriksaan ini. HSG ini sendiri sebenarnya sudah termasuk pemeriksaan radiologi dengan  sinar X yang memakai cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur (tuba fallopii).

Ngebayanginnya udah ngilu juga, sih, Tapi demi tahu kondisi saluran telur, apakah di saluran telur ada sumbatan atau nggak sehingga menyebabkan infertilitas, ya, memang harus dijalanin. “Dok, kalau tahu-tahu setelah pemeriksaan ternyata memang ada sumbatan di saluran telur saya, gimana? Selanjutnya harus apa?”

Hahahaa…. Saya mulai parno! Soalnya saya ingat, waktu ngobrol dengan dr. Yassin Yanuar M.I.B. SpOG, ia sempat bilang, kalau memang terjadi sumbatan pada saluran telur maka satu-satunya jalan untuk mendapatkan anak, ya, lewat bayi tabung. Jadi kalau saya deg-degan bin parno normal dong, ya?

Tapi, seperti biasa, dr. Soemanadi ngejawab pertanyaan dengan tenang. “Lho… kok, mikir yang jelek, sih? Berdoa aja hasilnya nanti baik-baik saja. Kalau memang nanti sudah dicek, saya jadi bisa tahu dan menentukan kapan masa suburnya. Jadi kalau mau berhubungan nggak kelewat masa subur lagi.”

Baca juga : Mau Hamil, Kok, (Ternyata) Repot?

Waktu itu dr. Soemandi juga cerita kalau problem pasangan suami istri yang bekerja salah satunya adalah waktu yang nggak pas untuk berhubungan. Padahal buat yang lagi program hamil, waktu berhubungan itu memang harus pas dengan masa subur. “Seks itu kan memang tujuannya ada dua, buat kepuasan seks itu sendiri dan buat program hamil. Kalau memang lagi program hamil, yang penting itu adalah sperma ketemu dengan sel telur, lalu jadi. Itu yang penting.”

Jadi kesimpulannya, kalau memang mau program hamil, mau secapek apapun, sestress apapun bahkan kalau memang lagi nggak mood, ya, ‘hantem’ aja, hahahahaa. Masalahnya, nih, saya dan Pak Suami nggak bisa begitu… kalau berhubungan nggak pakai mood, kan rasanya jadi hambar, ya… *hallah*

Singkat cerita, akhirnya waktu itu dr. Soemanadi  memberikan surat rujukan ke radiologi untuk pemeriksaan HSG. Waktu itu dr. Soemanadi juga beratanya kapan saya mendapatkan menstruasi, karena untuk melakukan pemeriksaan HSG ini ada beberapa syarat yang perlu dilakukan lebih dulu.

Jadi, ya, sebelum melakukan pemeriksaan HSG ini ada beberapa syarat yang perlu dilakukan dan dipenuhi. Pertama, proses HSG ini dilakukan sesudah menstruasi. Waktu ngobrol sama dr. Soemanadi ataupun bagian radiologi, proses HSG ini dilakukan antara hari ke-8 sampai ke-12 terhitung setelah hari pertama menstruasi. Jadi harus sebelum masa subur.

Syarat ke-2, pemeriksaan HSG ini juga nggak boleh dilakukan saat menstruasi, karena saat menstruasi pembuluh darah sedang masih dalam keadaan terbuka. Takutnya, malah nanti menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah.

Selanjutnya, sebelum melakukan pemeriksaan HSG, dilarang keras untuk melakukan hubungan seks dulu. Kenapa? Ya, takutnya setelah berhubungan ternyata terjadi pembuahan, sementara proses HSG ini kan menggunakan X-Ray dan memasukkan zat kontras. Jadi, ya, biar aman nggak boleh berhubungan lebih dulu.

Syarat berikutnya adalah, sebelum pemeriksaan HSG juga sebaiknya harus memastikan dulu kondisi tubuh sehat atau nggak. Soalnya, HSG ini memang nggak bisa dilakukan kalau kondisi nggak sehat atau ada infeksi khusunya di daerah panggul, termasuk bagi perempuan yang punya riwayat penyakit menular seksual. Jadi kalau memang ada, ya, harus diobati dulu.

Nah, yang terakhir adalah kudu cukur rambut bawah dulu. Umh, kalau ini sih alasannya nggak perlu ditanya sama dokter, ya, hahahaa…. Pasti supaya kondisinya lebih bersih saja.

Sayangnya waktu itu saya nggak bisa melakukan HSG langsung. Soalnya, waktunya sudah benar-benar mepet, di mana waktu bertemu dengan dr. Soemanadi, masa menstruasi sudah lewat dari 10 hari, dan pemeriksaan HSG nggak bisa dadakan, maka proses HSG pun jadi tertunda untuk sementara waktu.

Nah, berhubung bulan ini si tamu bulanan sudah datang, dan sebentar lagi selesai, rencananya, sih, akhir pekan ini mau ke RS. Cinere lagi untuk HSG. Mudah-mudahan aja proses dan hasilnya nanti bagus, ya! Program untuk kasih adik buat Bumi juga bisa berjalan lancar. Aamiin… Mohon doanya, ya, ibu-ibu :D

 

Baca juga : Berhubungan Intim Setiap Pengaruhi Infertilitas?

 

 


Post Comment