Rencana Sandri Ketika Suami (Mungkin) Takkan Pernah Pulang Lagi

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Kehilangan suami begitu mendadak dengan jasad yang tak pernah ditemukan, Sandri mencoba bangkit demi anak semata wayangnya.

Allah SWT nyaris nggak pernah membiarkan kepergian seseorang dalam kehidupan kita, tanpa menghadirkan tanda-tanda. Begitu yang dirasakan Sandri Andriyani, sebelum kabar pesawat Trush-510EP yang dipiloti oleh suaminya, kapten Ronny Djasril jatuh di laut Kema, pesisir Manado, pada 2 Desember 2014. Berhari-hari sebelum kejadian, perasaan Sandri diliputi oleh kegamangan. Berikut kisahnya, mulai dari terpuruk hingga kini bangkit, move on, dan berdiri tegak untuk Narendra, anak semata wayangnya.

Rencana Sandri Ketika Suami (Mungkin) Takkan Pernah Pulang Lagi - Mommies Daily

Apa yang Ndie (panggilan akrab Sandri) lakukan pertama kali mendengar kabar tentang pesawat suami yang jatuh?

Rasanya badan saya lemas dan mau pingsan. Saya menangis meraung memeluk ibu saya. Memang seharian itu, entah kenapa saya nggak menyalakan televisi, padahal biasanya di rumah sejak pagi pasti kami sudah menyalakan televisi. Rupanya memang di televisi sudah ramai pemberitaan mengenai jatuhnya pesawat suami saya di laut Kema, sementara saya nggak tahu apa yang terjadi. Saya justru tahu apa yang terjadi, setelah semua orang di luar rumah kami tahu.

Sebenarnya saya punya perasaan nggak enak dengan kepergiannya kali ini. Dari awal suami saya bilang mau melakukan perjalanan ini (mengantar pesawat dari Gorontalo ke Ternate), saya sudah nggak tenang. Saya bilang, nggak usah diambil perjalanan ini. Saya khawatir karena ketika ia menunjukkan rute penerbangan, yang saya lihat laut semua. Selama ini ia selalu terbang dengan jarak pendek, seperti Malaysia – Pekanbaru, atau antar kota di Kalimantan. Sementara yang ini membutuhkan waktu lebih kurang 5 hari, karena pesawatnya kecil. Hanya saja, saya melihat ia ingin sekali melakukannya, untuk menambah pengalaman terbangnya, akhirnya saya luluh juga untuk meridhoi ia berangkat.

Apa yang Ndie katakan pada Narendra anak semata wayang kalian saat kejadian?

Rendra (yang saat itu masih berusia 10) langsung dijemput dari sekolah. Saat dia melihat saya menangis, rumah ramai dengan sanak saudara yang menangis, juga wartawan yang sibuk hendak mewawancarai kami, dia terlihat kebingungan dan langsung memeluk saya. Saya bingung mau mengatakan apa ke dia. Akhirnya dia yang menarik saya ke kamarnya, mengajak saya duduk di tempat tidur, dan bertanya dengan tenang, “Ada apa Ibu?”.

Saya mencoba untuk berhenti menangis dan yang keluar dari mulut saya hanya informasi bahwa Ayahnya yang seharusnya sudah landing dari pukul 11.00 WIB, hingga saat ini (jam menunjukkan pukul 14.00WIB) tidak ada kabarnya. Anak saya langsung menebak dengan tepat bahwa pesawat ayahnya jatuh. Saat itu saya cuma minta ia berdoa untuk keselamatan ayahnya.

Seiring waktu berjalan dan perkembangan-perkembangan terbaru berdatangan, akhirnya ia mampu menyimpulkan sendiri apa yang menimpa ayahnya. Baru kemudian ia ikut menangis, meraung, sambil bertanya, dengan siapa lagi ia bisa bermain bola? Siapa yang menemaninya dan membelikan dia mainan? Siapa tempat ia bertanya tentang segala hal? Saat itu, kami benar-benar seperti kehilangan pijakan dan cuma bisa menangis berpelukan.

Siapa yang akhirnya menguatkan Ndie saat itu untuk terus bisa berdiri tegak sampai sekarang?

Anak saya. Saya harus kuat untuk anak saya, karena saya lihat dia juga kuat. Saya rasa karena ayahnya juga selalu memberikan pesan padanya sebagai anak laki-laki ia harus kuat, harus bisa jaga ibu, bantu ayah jaga rumah bila ayah tidak ada. Mungkin itu terpatri di ingatannya. Memang semasa hidup, suami saya nggak pernah absen memberi nasihat dan pesan, bagaimana ia harus bersikap sebagai laki-laki yang baik. Salah satunya adalah dengan menghormati dan menjaga ibunya. Bahkan setelah saya ingat-ingat lagi, seminggu jelang kepergiannya, berkali-kali dia selalu bilang sebagai muslim yang baik, jaga ibu, jaga ibu, jaga ibu. Sehingga Alhamdulillah, sampai saat ini saya lihat Rendra bisa tabah, dan justru sepertinya dia yang jaga saya :).

Dari semua kejadian ini, kalau boleh berbagi, satu lagi yang bisa membuat saya kuat adalah iman saya. Saya bertekad, saya harus kuat. Yakin, bahwa Allah SWT punya rencana yang lebih baik untuk kami sekeluarga. Karena bagaimanapun rencana kami, kami cuma manusia.

Ketika rencana kami berangkat haji bersama harus terhenti di Desember 2014, saat ikhtiar kami memiliki anak kedua melalui program inseminasi di 7 Desember 2014 harus pupus, saya pasrah. Di titik itu saya berkata, “Ya Allah, hidup saya, saya ikuti saja sesuai mauMu.”

Sekarang Ndie sibuk apa? Katanya sekarang mendirikan PAUD di dekat rumah?

Boleh dibilang setahun saya terpuruk. Hampir setiap hari saya berharap, suami saya muncul, menyapa kami semua. Selalu ada setitik harapan, karena memang jenazahnya tidak pernah ditemukan. Pengadilan pun memutuskan bahwa suami saya tidak dapat dinyatakan sebagai almarhum, hanya tertulis di surat keterangan, missing in action. Saya selalu berharap bahwa ia hanya terdampar di sebuah pulau, dan sulit menemukan jalan pulang. Namun kian hari harapan tersebut menipis, walau sampai hari ini masih ada. Saya lalu berkata pada diri sendiri, saya nggak mungkin terus begini. Saya nggak boleh terpuruk terus. Sehingga akhirnya saya ingat amanah suami saya.

Sejak tahun 2013 ia sudah mendorong saya mendirikan PAUD. Dia selalu bilang, kalau saya suka sekali anak-anak, senang berinteraksi dan mendidik anak-anak, kenapa tidak diwujudukan dengan mendirikan PAUD? Saat itu saya punya banyak alasan untuk menundanya. Karena, saya mau fokus memiliki anak kedua yang memang sudah bertahun-tahun kami nantikan. Melalui kejadian ini, saya akhirnya mendirikan PAUD Madani Cendekia, yang berlokasi di Rumbai, Pekanbaru.

Oke, terakhir, nih, Ndie. Boleh dijawab, boleh nggak. Hahaha… Ada rencana menikah lagi?

Hahaha…seperti yang saya bilang tadi, saya ikut rencana Allah SWT saja. Tapi kalau boleh memilih, untuk saat ini, saya belum sanggup pindah ke lain hati. Saya mau fokus di PAUD dulu, fokus membesarkan Rendra.

Dengan berdirinya PAUD Madani Cendekia ini, saya merasa di sinilah letak kebahagiaan saya saat ini. Saya mau fokus dan menjadikan ini ladang amal di sisa umur saya, sebagai tabungan akhirat saya nanti. Di sini saya temukan banyak “rasa”. Tak ada kata yang bisa mewakili kebahagiaan di saat saya merasa bisa memberi manfaat bagi sesama. Apalagi dalam mendidik generasi bangsa. Seperti dalam sebuah hadist, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberi manfaat bagi manusia lainnya. Semoga ini jalan terbaik yang Allah pilihkan buat saya, anak saya, orangtua, keluarga besar saya, dan untuk agama dan bangsa ini. Amin ya robbal alamin.


Post Comment