Mengatur Jarak Kehamilan Bisa Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi, Lho!

“Udah sekalian aja capeknya..” entah berapa puluh kali saya mendengar kalimat ini dari orang-orang yang menyuruh saya buru-buru nambah momongan. Duh, nyebelin!

Padahal ya, kalau saja orang-orang itu paham, bukan masalah capek atau nggak, tapi mengatur jarak kehamilan itu memiliki manfaat jauh lebih penting daripada sekadar statement di atas.

Saat saya menghadiri press conference 20 tahun DKT dengan tema “Sehat Indonesiaku, Sejahtera Negeriku,” pada 19 Januari lalu, dr. Eni Gustina, MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, mengatakan bahwa kematian ibu dan bayi menjadi indikator kesehatan sebuah negara. Dan kematian tertinggi terjadi pada kehamilan, melahirkan dan masa nifas.

Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Lewat Atur Jarak Kehamilan - Mommies Daily

Jadi dr. Eni memberi gambaran bahwa setiap tahun ada 5,3 juta ibu hamil di seluruh Indonesia, artinya setiap tahun akan ada 5 juta bayi yang lahir. Secara hitungan matematika, jika setiap tahun bertambah 5 juta penduduk, di tahun 2020 penduduk Indonesia kurang lebih akan mencapai 300 juta. Angka yang dianggap serius oleh pemerintah. Oleh sebab itu, dr. Eni menekankan, betapa pentingnya kesadaran mempersiapkan kehamilan. Salah satunya dengan mengatur jarak kehamilan. Menurut dr Eni, jarak kehamilan ini idealnya adalah 4-5 tahun. HAH!!! Saya seperti mendapatkan dukungan moril dari dr. Eni.

Dilihat dari segi kesehatan ini termasuk ideal dan si ibu juga diharapkan sudah maksimal mengurus anak pertama sehingga siap untuk mengurus bayi yang baru lahir nanti. Jika orangtua bisa mengurus dengan maksimal, otomatis tumbuh kembang si kecil juga berjalan dengan maksimal.

Selain itu, pengaturan jarak kehamilan juga diharapkan bisa menciptakan kesadaran orangtua untuk menjalani program KB milik pemerintah.

Jadi ingat, tetangga saya pernah menyarankan punya anak jangan dua, “Minimal 3-4 anak, sepi kalau cuma dua.” Enteng banget ya, ngomongnya, kan sini sama pasangan yang kerja keras menghidupi mereka :D

Di sinilah, pentingnya KB internal kata dr. Eni. Dari data yang ia sampaikan, lewat program KB mampu menurunkan 25% kematian ibu dan 18% kematian bayi. Dari segi paradigma masyarakat juga perlu diubah, tidak hanya mempersiapkan kehamilan saja, tapi juga turut menjadi bagian mengatur populasi masyarakat.

DKT Indonesia, berdiri tahun 1996 sebagai organisasi yang didirikan untuk meningkatkan akses Keluarga Berencana dan pencegahan HIV-AIDS. DKT mengambil peran membantu pemerintah mengendalikan populasi penduduk, dengan melayani sedikitnya 8,3 juta pasangan di seluruh Indonesia selama 2016.

Apakah mommies sudah menjadi bagian dari 8,3 juta tadi yang memasang alat kontrasepsi dan merencanakan jarak kehamilan yang ideal?

Baca juga:

Berapa Jarak Ideal untuk Kehamilan Berikutnya

Alat Kontrasepsi Bisa Pengaruhi Hubungan Seksual. Benarkah Demikian?


Post Comment