Karena Nilai Di Raport Anak Bukan Segalanya

Hari gini masih saja menuntut anak untuk mendapatkan nilai bagus? Setelah anak mendapatkan nilai tinggi lantas dipublikasikan di sosial media? Umh, hati-hati lho, Mommies.

Adis… gimana, nilai Bumi bagus nggak?

Dis, Bumi sudah ambil raport, ya? Rangking berapa?

Duh…. Hari, gini, masih zaman ya tanya rangkin anak? Bukannya apa-apa, sih, buat saya nilai akedimis dan rengking pertama bukan segala-galanya. Oleh karena itulah salah satu pertimbangan saya memilih sekolah Bumi waktu itu adalah sekolah yang nggak mencantumkan raport.

Saya jadi ingat, ketika ngobrol dengan psikologi anak, Efnie Inrianie, ia bilang salah satu kesealahan yang masih sering dilakukan orangtua zaman sekarang masih saja menganggap kalau anak yang berhasil indikatornyaan adalah anak bisa mendapatkan nilai yang tinggi.

“Sampai sekarang masih banyak orangtua yang mengukur keberhasilan anak lewat angka. Misalnya, anak dinilai hebat dan pintar ketika ia berhasil mendapatkan nilai yang tinggi dan mampu mendapat rangking di kelas.  Padahal, kemampuan dan kecerdasan anak tidak hanya diukur lewat angka.”

rengkin anak bukan segalanya

Kemudian, ia memberikan contoh. Misalnya nilai rata-rata kelas anak di sekolah itu 75. Si anak berhasil mendapat nilai di bawah 80, orangtua justru mengatakan “Kenapa cuma 80? Kenapa tidak 100?. Padahal kalimay seperti ini tentu saja tidak menunjukan bahwa orangtua tidak memberikan apresiasi atas suatu pencapaian yang dilakukan anak yang akan jutru bisa membuat anak minder dan merasa kalau usahanya tidak dihargai.

Saya pernah menjadi anak kecil, dan saya tahu persis bagaimaana rasanya jika orangtua saya mengucapkan kalimat yang tidak menyenangkan seperti di atas. Sekarang, sih, saya juga masih proses belajar untuk tidak melakukan hal ini. Mendukung anak danmemberikan fasilitas agar dia mau rajin dan mendapatkan nilai yang baik, tentu saja harus. Tapi, tidak perlu sampai memaksanya.

Lagi pula, menurut saya, nih, jika kita selalu menuntut atau mengaggap anak bahwa rangking sebagi nilai keberhasilan, saya takut nantinya akan membuat anak melakukan tindakan kecurangan, contohnya  dengan sering mencontek. Demi  membahagiakan  dan menuruti orangtua, mereka malah jadi menghalalkan segala cara. Mau anaknya jadi tukang nyotek? Dapat nilai bagus, tapi dia nggak paham apa yang diajarkan guru. Ih, saya mah ogah.

Ya, kalau memang anak mendapatkan nilai yang baik, sesuai ekspektasi kita sebagai orangtua, tentu saja bisa bahagia. Tapi, tidak lantas membuat saya mengunggahnya di social media juga, sih. Iya, saya masih suka penasaran dengan orangtua yang suka mem-posting nilai raport anak secara gamblang.

Mungkin, tujuannya memang hanya ingin membagi rasa bahagia pada teman-temannya. Mendapat komentar seperti ‘Wah.. anak kamu pintar sekali, ya… gimana sih cara kamu mendidiknya… selama ini dikasih makan apa, sih, bisa pintar seperti itu?’ memang bisa jadi bikin bangga. Tapi, bukankah kalau kita memperlihatkan nilai raport ke anak, berarti kita memperlihatkan privacy anak-anak kita, ya? Sudah tanya belum, apakah anak kita suka jika nilai raportnya disebarluaskan seperti itu?

Bukan apa-apa, sih, kalau Bumi, anak saya, sekarang sudah mulai sering protes kalu saya mem-posting sesuatu yang berhungan dengannya. Misalnya, mengunggah fotonya di social media yang saya miliki. Lagi pula, bukankah dengan  mempublikasikan data pribadi ke social media, sama sama saja membuka celah keamanan anak kita bisa diketahui orang banyak. Dan hal ini tentu bisa berisiko buat anak kita. Iya kan?

 


Post Comment