Gangguan Pendengaran Pada Bayi Bisa Disembuhkan?

Berdasarkan data WHO, 1 dari 1.000 kelahiran bayi di Indonesia mengalami gangguan pendengaran. Oleh karena itulah pentingnya untuk bisa mendeteksi dan memberikan penanganan yang tepat sejak dini.

Orangtua mana, sih, yang nggak was was dengan pertumbuhan anaknya? Meskipun saya bukan tipe orangtua yang parnoan, saya tetap saja merasa khawatir kalau perkembangan anak saya yang terhambat. Meskipun anak saya sudah mau 7 tahun, saya masih ingat zaman anak saya masih bayi, salah satu concern saya adalah masalah pendengaran dan penglihatannya. Iya, saya takut kalau anak saya punya masalah dengan pendengaran dan penglihatan. Biar gimana, gangguan penglihatan ataupun pendengaran tentu saja akan membatasi dan memengaruhi perkembangannya saat sudah dewasa.

gangguan pendengaran pada bayi*tesco-baby.com

Seperti yang diutarakan Staf Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) Bedah Kepala Leher RSCM – FKUI, dr. Harim Priyono, SpTHT-KL(K) bahwa dampak yang ditimbulkan akibat gangguan pendengaran cukup luas dan berat jika tidak ditangani dengan tepat karena mengganggu perkembangan kognitif, psikologi dan sosial.

“Untuk itu, kesadaran mengenai dampak gangguan pendengaran sangatlah penting untuk terus ditingkatkan agar masyarakat di Indonesia mengetahui solusi yang tepat untuk penanganan masalah gangguan pendengaran,” ungkapnya.

Sementara, Dokter dari Departemen Telinga Hidung dan Tenggorokan, Bedah Kepala Leher RSCM-FKUI, dr. Tri Yuda Airlangga, SpTHT-KL (K) mengingatkan  penting bagi orangtua untuk bisa melakukan skrining gangguan pendengaran sejak bayi. Terlebih jika memang sudah memiliki risiko yang tinggi.

Dr Angga juga menjelaskan bahwa ada beberapa kondisi yang membuat bayi memiliki risiko tinggi mengalami gangguang pendengaran. Yaitu apabila sudah ada genetik, adanya virus TORCH saat sang ibu hamil, kondisi berat badan lahir rendah, bayi kuning, hingga ada faktor kejang.

Menurutnya bayi yang mengalami gangguan pendengaran jumlahnya memang terbilang banyak Contohnya saja jika dilihat dari kasusu yang ada di RSCM, di mana dari 10 bayi yang dilakukan skrining per hari, ada sekitar 1-3 anak yang mengalami gangguan pendengaran.

Sementara Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Ratna Dwi Restuti, Sp.THT-KL(K) menjelaskan bahwa kasus gangguan pendengaran di Indonesia cukup tinggi, bahkan Indonesia jadi negara nomer dua yang paling di Asia Tenggara selepas India yang mempunyai jumlah 630 juta penderita.

Tapi, tahukah Mommies kalau memang si kecil memiliki gangguan pendengaran bawaan lahir, sebenarnya masih ada peluang agar ia bisa mendengar. Hal ini dijelaskan oleh Harim Priyono, SpTHT-KL dari Departemen Telinga, Hidung, Tenggorokan dan Bedah Kepala Leher, RS Cipto Mangunkusumo – FK Universitas Indonesia bahwa saat ini ada teknologi implan koklea yang bisa membantu pasien gangguan pendengaran bawaan lahir.

Koklea sendiri  merupakan organ pendengaran yang berfungsi mengirim pesan ke saraf pendengaran dan otak. Suara ditangkap daun telinga kemudian dikirim ke tulang pendengaran dan menuju koklea. Namun dr. Harim menegaskan ada catatan penting yang harus diperhatikan, yaitu gangguan pendengaran merupakan gangguan sensorineural atau saraf, sudah dalam kondisi sangat berat dan tidak lagi bisa dibantu dengan alat bantu dengar konvensional atau biasa. Gangguan pendengaran sensorineural merupakan gangguan yang diakibatkan oleh rusaknya saraf pendengaran. Akibatnya, koklea tidak mampu menangkap suara dalam bentuk getaran yang dikirim oleh daun telinga.

Operasi koklea atau rumah siput merupakan tindakan menanam elektroda untuk organ pendengaran yang berisi saraf-saraf pendengaran yang terletak di telinga dalam. Elektroda inilah yang yang menggantikan fungsi koklea sebagai organ pendengaran. Operasi ini diperuntukkan bagi penderita tunarungu yang tidak tertolong dengan pemakaian alat bantu dengar biasa. Dengan demikian, Implan koklea dapat memperbaiki bagian telinga bagian dalam secara maksimal sehingga memungkinkan pasien mampu mendengar dengan baik.

 

 

 

 


Post Comment