Slow Parenting vs Concert Cultivation Parenting, Anda Tipe Yang Mana?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Dua aliran gaya parenting ini sedang ramai dibicarakan di Amerika Serikat. Keduanya sama-sama kontroversial. Mana yang menjadi pilihan Anda?

Slow Parenting memfokuskan pada gaya pengasuhan yang membiarkan anak mengeksplorasi secara alamiah sesuai dengan keinginan dan kemampuan anak. Sedangkan Concert Cultivation adalah intervensi orangtua dalam menstimulasi perkembangan anak dengan mengikutkan anak pada berbagai aktivitas dan fasilitas. Kedua-duanya punya sisi positif dan negatif masing-masing.

Berikut adalah 3 pelajaran yang saya petik dari pola asuh Slow Parenting dan Concert Cultivation, sebelum memutuskan ekskul untuk anak.

Slow parenting - mommies daily

1/ Hindari jadwal yang terlampau padat

Saya teringat istilah Slow Parenting yang dipopulerkan oleh Carl Honore, penggagas gerakan Slow Living. Masa kanak-kanak bukanlah tentang kompetisi. Carl mengkritik, pada generasi sekarang anak banyak dijadikan pelampiasan orangtua, dengan adanya berbagai tuntutan yang harus dipenuhi oleh anak. Dengan demikian, anak sekarang telah kehilangan masa bersenang-senang, karena kompetisi sudah dimulai sejak usia yang begitu dini. Sebaliknya, Carl menyarankan, anak seharusnya punya banyak waktu untuk bermain bebas, istirahat yang cukup, dan menemukan dunianya sendiri. Mengutip sastrawan ternama dari era tahun 1900-an, DH. Lawrence, penulis buku Education of The People, “How to begin to educate a child. First rule, leave him alone. Second rule, leave him alone. Third rule, leave him alone.”

2/ Prioritaskan memilih aktivitas yang betul-betul disukai anak.

Beruntung, tinggal di kota besar, ada banyak sekali tempat-tempat yang menawarkan ekstra kurikuler. Sebutlah, balet, yudo, taekwondo, futsal, renang, vocal, piano, biola, Bahasa Mandarin, koding, robotik, dan banyak lagi lainnya. Ini yang disebut concert cultivation oleh Annette Lareau. Anak sudah terekspos pada berbagai talenta dan klub sejak usia dini, hal yang umum dilakukan oleh kalangan kelas menengah dan menengah atas di Amerika Serikat.

Namun, tentunya, anak tidak mungkin mengikuti semuanya, bukan? Pilih satu jenis aktivitas yang bisa dilakukan secara konsisten dan ia menikmatinya. Bagaimana menentukan apa yang ia sukai? Saya sering mengajak anak berdiskusi. Dalam satu waktu, maksimal saya hanya mengikutkan anak pada dua kegiatan ekskul. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya, Pilar pernah mengikuti kelas robotik, coding, futsal, dan Bahasa Inggris, kali ini, ia ‘hanya’ mengambil ekskul art dan piano.

3/ Melibatkan anak dalam pekerjaan domestik

Kalau kata ungkapan, tugas anak hanyalah belajar dan sekolah. Saya kurang setuju. Setiap orang haruslah punya peran dan tanggung jawab pada urusan domestik di rumah masing-masing. Anak juga harus dilibatkan dalam pekerjaan beres-beres rumah. Pendapat ini ternyata juga dikemukakan oleh Tom Hodgkinson, dalam bukunya The Idle Parent, yang mendukung gagasan Slow Parenting. Tom menulis, orangtua harus mendidik anak mengerjakan berbagai kebutuhannya sendiri -termasuk pekerjaan cuci piring dan beres-beres rumah- tanpa bantuan orang lain. “So it is that by doing too much for our kids we make them the commodity-dependent adult brats of the future.”

Di sini tantangannya, membiasakan anak bekerja, apalagi jika di rumah ada ART dan baby sitter, dan dari kecil ia sudah terbiasa dilayani kebutuhannya.


Post Comment