Pilkada 2017, Saat yang Tepat Mengajarkan Anak Tentang Banyak Hal

Behavior & Development

Hanzky・13 Jan 2017

detail-thumb

Pilkada yang biasanya dianggap hanya untuk konsumsi orang dewasa ternyata menyimpan banyak pelajaran penting yang bisa kita ajarkan ke anak-anak. 

Dalam 1-2 bulan terakhir, rasanya nggak ada satu hari yang terlewatkan tanpa membahas tentang Pilkada sama suami, teman kantor, teman-teman di WhatsApp Group dan juga Social Media. Awalnya, saya nggak terlalu mengajak anak-anak untuk terlibat karena Pilkada kali ini cukup bikin emosi jiwa dan kalau harus menjelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak-anak itu kayaknya lumayan PR yaa. Tapi kalau lagi lihat bapak ibunya ngobrol seru, mereka jadi penasaran sih dan banyak tanya. Akhirnya sedikit-sedikit mulai diajak partisipasi deh, dan ternyata banyak banget lho nilai-nilai yang bisa diselipkan untuk mereka dalam obrolan seputar Pilkada. Ini hanya beberapa contoh kecil aja ya:

diskusi-politik-anakceritanya lagi diskusi seru :)

Punya Pilihan itu Kemewahan

Mereka perlu tahu bahwa di beberapa negara atau di era sebelumnya di Indonesia, rakyat itu nggak bisa benar-benar memilih, cuma bisa pasrah dengan calon yang sudah disiapkan. Jadi harus bersyukur banget Indonesia mempraktikan demokrasi, nah tugas kita sebagai warga negara yang baik adalah dengan ikut berpartisipasi. Lalu, apakah lantas kita mem-brainwash anak-anak dengan pilihan kita? Hmm..kalau begitu diskusi nggak akan bisa terjadi dong dan kita nggak bisa mengajak anak untuk berpikir kritis. One of the goals is for them to have an open mind, and it starts at home. Lagipula kalau pilihan bapak-ibunya berbeda pilihan, gimana? Biarlah mereka mempunyai opininya sendiri, kalau beda juga biarin aja dulu toh mereka belum bisa nyoblos..haha. Jangan langsung patahkan opini mereka, gali aja terus kenapa mereka bisa berpikir seperti itu dan bikin mereka mikir lebih jauh. Dengan tau opininya mereka, kita juga jadi bisa mengukur kira-kira udah sesuai belum sih value-nya anak dengan yang kita inginkan, nanti pelan-pelan bisa kita bentuk.

Hoax or Not

Anak-anak saya tergabung di WhatsApp Group keluarga besar, pastilah di WhatsApp Group apapun kita selalu melihat link article yang dishare, atau pesan berantai yang di copy-paste. Nggak semua beritanya akurat dan bisa dipercaya. Memang katanya kan tantangan anak-anak zaman sekarang bukan mencari informasi, tapi memilah informasi. Di sini lah critical thinking sangat-sangat diperlukan. Note to self banget nih untuk saya, kalo anak banyak nanya tentang suatu hal tandanya dia sedang mengasah critical thinking-nya, jadi harus dijawab dengan baik dan sabar :D. Anyway, lewat pesan berantai yang ada di WhatsApp group ini kita bisa kasih tahu ke anak anak untuk tidak langsung percaya dengan setiap berita yang dia baca, harus tau sumbernya dari mana, siapa penulisnya. Googling untuk cek dan ricek dan kalaupun ada websitenya dengan domain yang proper, bukan berarti medianya cukup kredibel karena jangan-jangan nggak punya susunan redaksi yang jelas. Danjuga jangan hanya karena ada kutipan dari orang yang terlihat dapat dipercaya seperti sosok akademik misalnya ‘Doktor Zahzahan dari Malaysia sudah memberi klaim bahwa Starbucks Haram’ lantas langsung percaya. Bisa jadi itu hanya nama samaran atau nama yang asal comot.

Etika Diskusi/Debat

Sudah ada dua debat cagub di bulan Desember lalu dan akan ada tiga lagi menjelang Pilkada (yang berikutnya tanggal 13 Januari ini jangan terlewat ya). Nonton debat bareng anak bisa ngajarin banyak hal sih, bukan hanya tentang etika berdebat tapi juga gimana berinteraksi dengan orang lain yang berbeda pendapat. Mereka juga bisa belajar bagaimana kita harus menyampaikan gagasan dengan baik, nggak teriak-teriak dan emosian misalnya dan bagaimana bisa menjelaskan program dalam waktu yang sangat singkat. Anak-anak perlu tahu juga pentingnya mem-back-up dengan data dan bagaimana sebaiknya menyerang lawan debat. Dalam obrolan apapun, silakan kritik ide atau program-programnya, tapi nggak perlu serang sesuatu yang personal.

Menghargai Keragaman

Kebetulan sekali, desain uang baru kita rilis di tengah-tengah proses Pilkada dan menambah keseruan. Di sini anak-anak bisa diajak untuk mempelajari siapa saja tokoh-tokoh yang ada di uang baru tersebut supaya anak-anak kita nggak gagal paham bahwa pahlawan Indonesia itu terdiri dari berbagai macam etnis dan agama, bukan hanya milik golongan tertentu. Begitu juga dalam memilih pemimpin, walaupun yang dicari Gubernur Jakarta bukan berarti Gubernurnya harus Betawi asli. Yang penting dia bisa membawa kota ini ke arah yang lebih baik, jadi utamakan 'isinya' bukan 'bungkusnya'.

Respect Authority and Playing by the Rules

Ada banyak sekali video atau meme yang bunyinya 'Bunuh Ahok', 'Duduki DPR', dan lainnya yang mengandung unsur makar atau ejekan yang kelewatan pada pemerintah kita. Apapun cagub pilihan kita, sebagai orang dewasa tentunya kita tahu bahwa provocation is never ok, ada cara lain dalam menyelesaikan masalah selain dengan kekerasan. Mungkin kita bisa kaitkan dengan pelajaran yang ada di agama kita, di Islam sendiri di Al-Quran dianjurkan untuk mendukung pemerintah dan selalu mendoakannya untuk menjadi pemerintahan yang lebih baik. Kalaupun nanti yang terpilih bukan cagub pilihan kita, ya harus tetap didukung dan didoakan yang baik-baik, jangan jadi halu, #gagalmoveon dan nggak mau mengakui cagub terpilih. Dalam Pilkada juga banyak sekali peraturan yang harus ditaati semua cagub dan warga Jakarta, seperti timeline kampanye, dana dan pemakaiannya, penggunaan alat peraga sampai durasi iklan di TV.  Mengingatkan mereka bahwa semua memang sudah ada aturannya, the world doesn't revolve around you, dear :D

Masih banyak lagilah pastinya ya, dan sebenarnya juga, bukan cuma anak aja yang bisa belajar dari sini, orangtua uga banyak banget belajarnya. Sayang banget kalau dilewatkan begitu aja. Selamat menikmati proses demokrasi ini ya, Mommies :)