Menyiapkan si Kakak Menemani Adiknya yang Berkebutuhan Khusus

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Saat memiliki anak yang didagnosa memiliki kebutuhan khusus, jangan kita lupa menyiapkan saudara kandungnya untuk kondisi yang akan dihadapi kelak.

Menyiapkan si kakak

Namanya punya anak berkebutuhan khusus, segala supporting system harus dimaksimalkan. Hanya saja, saking fokusnya sama segala terapi, urusan sekolah, dan lain-lain sebagai bantuan untuk si anak berkebutuhan khusus (ABK), orangtua terkadang lupa, ada satu lagi supporting system terdekat, yang bisa diandalkan bantuannya. Saudara si ABK. Dalam kasus saya, tentu saja anak pertama saya.

Saya sendiri sempat terlewat, ketika anak bungsu saya didiagnosa memiliki Sensory Processing Disorder. Saking fokusnya dengan apa yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si adik, saya sampai lupa soal kakaknya. Padahal ternyata kehadiran si kakak, juga bisa, lho, membantu orangtua dalam mengatasi gangguan tumbuh kembang anak.

Jujur dan Terbuka

Hal pertama yang harus dilakukan adalah jujur dan terbuka terhadap saudara kandung. Walau mungkin ia masih belum mengerti, jelaskan saja bahwa si adik memiliki kekurangan dan butuh bantuan kita, dengan bahasa yang sederhana. Kalau saya, terang-terangan bilang sama si kakak, akan ada hal-hal tentang si adik yang mungkin akan saya prioritaskan. Tapi, saya tegaskan bukan berarti saya lebih sayang sama adik. Tapi karena memang adik butuh bantuan yang lebih. Jujur saya ceritakan apa saja kekurangan si adik. Sejauh ini, Awan, anak saya yang pertama termasuk memiliki pengertian yang besar. Jika ia sudah terlihat kesal dengan adik, biasanya saya akan memeluknya dan mengajaknya menjauh. Saya kemudian mengingatkan akan kekurangan si adik, dan emosinya bisa dengan cepat mereda. Walau begitu, ada beberapa momen khusus saat saya dan si kakak berdua saja menghabiskan waktu. Demi membayar momen pengertian dia :).

Bantu Terapi

Si bungsu say harus menjalani terapi Sensori Integrasi. Sedikit banyak, terapi ini seperti bermain, namun aktivitas bermainnya harus dipilih yang benar-benar membantu perkembangan motorik dan keseimbangannya. Ada beberapa aktivitas yang juga harus dilakukan di rumah seperti main sepeda, jalan merayap, bergelantung, hingga tangkap bola. Di sinilah saya meminta si kakak juga ikut berperan. Saya melibatkan si kakak untuk melakukan aktivitas yang sama. Jadi si adik nggak merasa terpaksa dan tetap merasa fun.

Perilaku Positif

Si kakak bisa jadi akan sangat sangat bersemangat menyambut kelahiran si adik baru. Jadi penting buat kita, untuk menjaga pandangan positif tentang adik barunya. Ketika orangtua memiliki perasaan negatif, seperti marah, atau kecewa ketika melihat si adik lahir dengan cacat bawaan atau kondisi mental yang butuh bantuan, mau tidak mau akan berpengaruh pada si kakak. Tapi jika si kakak melihat bahwa orangtua mampu mengatasi perasaan tersebut, tentu si kakak juga akan memandang adik barunya dengan positif pula. Komentari yang positif-positif saja daripada alih-alih berkata, “Kasihan, ya.”

Hindari Menakut-Nakuti

Mempersiapkan si kakak akan adiknya yang memiliki cacat bawaan sebenarnya bisa dilakukan sebelum kelahiran. Dengan catatan, tentu bila kondisi ini sudah diketahui saat adik masih dalam kandungan. Ajak si kakak untuk ikut dalam janji temu dengan obgyn. Biarkan juga ia melihat ibu saat di-USG. Beritahu juga kondisi adik bayi yang lahir nanti, misal akan mengalami omphalocele, down syndrome, atau cacat bawaan lain. Jangan lupa untuk menyampaikannya secara positif, supaya si kakak juga tetap berpikir positif.


Post Comment