Atalia Praratya, “Kebiasaan Hidup Sehat, Berawal dari Rumah”

Tak hanya berparas cantik, Atalia Praratya, istri Walikota Bandung-Ridwan Kamil juga fasih menjabarkan keterlibatannya dalam sejumlah program pemerintah kota Bandung. Termasuk, sepak terjangnya menyadarkan masyarakat, arti penting perilaku hidup sehat.

Kurang dari 15 menit saya berbincang dengan Atalia Praratya, namun banyak ilmu yang bisa saya “curi.” Kalau memang dasarnya sudah pintar, mau ngomong 5 menit saja, pasti padat berisi, hihihi. Ini yang saya temukan di diri Teh Atalia, sapaan akrabnya.

IMG_9897Awal November lalu, saat datang ke acara Harpic “Program Edukasi  Sanitasi”, di SMPN 13 Bandung, saya sempat curi-curi waktu berbincang dengan Teh Atalia. Terutama soal Forum Rembuk Peduli Bandung Sehat (FRPBS), yang juga diketuai oleh dirinya.

Lewat forum ini, ia bersama jajarannya bercita-cita, Bandung harus mencapai 6 tatanan sehat: yaitu tatanan masyarakat sehat mandiri, sarana dan prasarana sehat (termasuk toilet sehat di sekolah-sekolah), pariwisata sehat, tatanan sosial sehat, perkantoram sehat, dan juga tatanan gizi sehat. 6 poin tadi sedang diusahakan tercapai, agar Bandung mendapatkan gelar Swasti Saba Wistara, yaitu penghargaan kategori tertinggi di tingkat nasioanl dalam bidang tatanan masyarakat yang dilihat dari bergagai aspek, terutama kesehatan.

“Kota-kota sehat itu harus diangkat, dalam setiap tahunnya ada penilaian. Dan Bandung sudah dua peringkat sudah didapatkan, Swasti Saba Padapa (perunggu) dan  Swasti Sabaa Wiwerda (perak). Target berikutnya, Swasti Saba Wistara (emas). Mudah-mudahan  tahun 2017 gelar emas ini, kami akan coba perjuangkan bersama,” jelas Atalia kepada media yang hadir hari itu.

Kebiasaan atau perilaku hidup sehat tentu tidak datang begitu saja, ada proses panjang yang mendahului. Saya bicara tentang nilai-nilai yang tertanam di keluarga. Dasar perilaku apapun, datang dari keluarga, setuju?  Disinggung mengenai hal ini Atalia, menjawabnya dengan lugas dan panjang lebar.

Atalia punya strategi yang menurut saya cukup jitu, ia berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya adalah Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Sebagai ketua Tim penggerak PKK Bandung, ia punya jejaring yang sudah kuat dan banyak, untuk membantu serangkaian program Pemerintah Kota.

“Ada sekitar 20.000 kader di masyarakat, termasuk 10 keluarga atau 10 rumah, masing-masing memiliki koordinator. Itu namanya Dasawisma, nah Dasawisma ini menjadi kaki-kaki kami, termasuk di forum rembuk. Kesehatan ini juga harus sampai ke bawah, itulah kenapa program kami terkait Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), itu menjadi program dari FPBHS dan PKK. Jadi bagaimana mereka sebelum makan harus cuci tangan, jamban bersih, makan makanan yang sehat, tidak merokok, dan lain-lain,” papar Atalia.

Cara ini dirasakan Atalia cukup berhasil, terbukti dari di beberapa tempat sudah mencanangkan daerah mereka sebagai kawasan tanpa asap rokok. Duuuh, kok saya iri, ya, Teh Atalia? Harapan selanjutnya, apa yang sudah ia lakukan bersama timnya, juga menjadi motivasi dan akhirnya penduduk Bandung bisa bergerak dengan kesadaran mereka sendiri.

Program ini tak sebatas sebagai agenda pemerintah, ia mengakui kalau organisasi terkecil yang bernama keluarga, berperan sangat besar menanamkan pembiasaan hidup sehat, terutama anak. “Walau di sekolah mereka merasa sebagai tuntutan, kewajiban atau bahkan merasa dipaksa. Tapi pada kenyataannya, anak-anak itu justru akan mengingatkannya kepada kita. “Mamah kata bu guru, harus cuci tangan, lho.” Jadi saya kira dimanapun mereka, asal mereka dalam lingkungan yang positif, itu akan saling memengaruhi.”

Sebagai orangtua, Atalia menyadari, dirinya bersama suami menjadi contoh anak-anaknya. Kuncinya dilakukan bersama-sama dan sebagai pembiasaan. “Misalnya setelah bangun tidur langsung ke kamar mandi, sikat gigi dan lain-lain, itu harus dicontohkan dulu oleh orangtuanya. Nanti mereka akan sama-sama ngikutin, pada akhirnya jadi kita sama-sama semuanya melakukan hal seperti itu,” tutup Atalia.


Post Comment