Menghadapi Generasi Millennial di Lingkungan Pekerjaan

Sebagian perusahaan kini memiliki 50% generasi millennial sebagai karyawan. Bagaimana bisa tetap bisa bersinergi dengan mereka?

Mommies engeh nggak? Kalau beberapa tahun belakangan ini sudah banyak perusahaan, lembaga pemerintah atau barisan organisasi lainnya dipenuhi generasi millennial. Bahkan tak jarang, komposisi generasi ini, lebih dari 50% dari total populasi organisasi. FYI, mommies, generasi millennial merupakan generasi yang lahir di antara tahun 1980 an sampai 2000 an.

Bagi mommies yang lahir sebelum era tersebut, bagaimana sikap kita dalam menghadapi mereka? “Pecut” apa yang dapat Mommies gunakan untuk mendorong performa mereka untuk menjadi penggerak organisasi?

Menghadapi Generasi Millennial di Lingkungan Pekerjaan  - Mommies Daily

Generasi Millennial, Generasi Kebebasan?

Terlepas dari generasi veteran, baby boomer, gen X, ataupun Gen Y, kebebasan adalah nilai yang penting bagi dewasa muda. Dewasa muda mendorong diri untuk berlari dengan cepat mencapai tujuan, serta memberontak segala tembok dan peraturan untuk menunjukkan performa terbaik. Terlebih pada generasi millennial saat ini, dewasa muda memiliki akses data yang sangat terbuka untuk mengasah pengetahuan dan keterampilan, menjadikan mereka terkadang terkesan angkuh dan tidak kenal sopan santun. Tapi tenang, nggak semuanya seperti itu, kok :)

Perbedaan cara berpikir dan cara bertindak inilah yang seringkali menjadi pemicu terjadinya generation gap. Apa yang bisa setiap generasi lakukan agar dapat bersinergi di tengah segala perbedaan?

  1. Tekankan Value Organisasi

Value organisasi adalah landasan yang perlu ditapak oleh setiap insan organisasi. Perbedaan generasi dapat terjembatani dengan penerapan nilai ini dalam bentuk sikap, perilaku, hingga budaya organisasi. Menjadikan setiap insan bukan dikenal sebagai insan dari generasi yang diwakilkan, melainkan sebagai insan dari organisasi yang mereka wakilkan. Manajemen perlu memfasilitasi agar value ini dapat mengakar, dalam bentuk interaksi antar individu, maupun dalam SOP organisasi. Dengan demikian, budaya dapat tercipta dari proses kerja organisasi.

  1. Bangun Kebebasan, dengan arahan dan pengawasan

Nuansa “muda” penting untuk dibangun dalam sebuah organisasi atau komunitas dimana generasi millennial berperan besar dalam proses kerjanya. Oleh karenanya, kebebasan berekspresi serta berkreasi perlu didorong untuk diwujudkan. Pada digital master company seperti Google, kebebasan ini diwujudkan dalam bentuk nilai dan KPI.  Setiap insan Google dituntut untuk mewujudkan proyek individu yang merupakan hasil dari kebebasan berpikir dan berkreasi. Namun tentu, kebebasan ini tidak bisa dibiarkan untuk terus “liar”, tetap perlu adanya arahan, serta pengawasan yang dilakukan oleh manajemen atau atasan dalam organisasi. Dengan demikian, kebebasan ini bukan hanya dapat berguna bagi perkembangan individu, melainkan juga berguna untuk perkembangan organisasi.

  1. Bangun Komunikasi: Saling feedback dan Motivasi

Dengan booming-nya media sosial, budaya sharing telah menjadi budaya yang sangat dekat dengan generasi millennial saat ini. Namun demikian, terdapat perbedaan yang cukup nyata antara budaya sharing di media sosial dan di organisasi. Manajemen dan atasan perlu menjembatani perbedaan budaya ini, sehingga generasi millennial dapat membawa budaya sharing yang positif ini ke dalam budaya organiasi. Melalui feedback, menanyakan pendapat, serta dengan menjaga positivisme dalam interaksi komunikasi, budaya sharing generasi millennial dapat dibawa dalam budaya organisasi.  Dengan demikian, seluruh generasi dapat belajar dari satu sama lain sebagai satu kesatuan insan organisasi.

Generasi millennial adalah generasi masa depan dan juga generasi saat ini. Kita tidak dapat lagi menghindari fakta tersebut. Terkadang, generasi ini memang merupakan generasi yang sulit untuk dipegang, namun demikian, perlu juga kita sadari, generasi ini merupakan generasi yang kaya akan pengetahuan dan keterampilan. Melalui tiga poin diatas, organisasi dapat membangun diri sehingga dapat menjadi wadah bagi mereka untuk berkembang, serta tentunya, untuk berperforma mencapai tujuan bersama, yaitu tujuan organisasi.

Artikel ini ditulis oleh: Ranggih Wukiranuttama – Lulusan Psikologi UI yang bergabung dengan Experd pada tahun 2013 ini sekarang menjabat sebagai manager divisi training.


Post Comment