Mengajar Anak Bersyukur dengan Apa yang Ia Miliki

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Memiliki anak-anak yang mampu bersyukur atas apa yang mereka miliki adalah salah satu hal yang saya inginkan. Saya mencoba melakukan beberapa hal ini. Dan mulai terlihat hasilnya. 

Saya mau bertanya, apakah mommies familiar dengan adegan-adegan berikut ini?

1. Seorang anak duduk di meja suatu restoran lalu disajikan piring berisi spageti lezat dan tiba-tiba ia berkata, “NO! I dont want this, I dont like!” Sembari menyingkirkan piring.

2. Di toko mainan, ada anak perempuan nangis sambil guling-guling karena tidak dibelikan mainan yang diinginkannnya.

3. Menyuruh orangtuanya dengan nada kurang santun tanpa bilang tolong dan terima kasih.

Setiap melihat kejadian ini saya sangat sedih, karena saya tahu sulitnya memasak suatu makanan atau mahalnya makanan di restoran. Saya juga merasakan bagaimana sedihnya tidak dihargai.

Saya tidak mengatakan kalau anak-anak saya 100 persen manis dan santun (manalah ada anak-anak yang begitu ya kan :D). Tapi semaksimal mungkin saya selalu mengingatkan dan menegaskan kompensasi apabila mereka mulai aneh-aneh.

Mengajar Anak Bersyukur dengan Apa yang Ia Miliki - Mommies Daily

1. Memberi contoh
Setiap kali saya meminta tolong ke anak atau ke orang lain, saya selalu bilang tolong dan terimakasih. Begitu juga saat mereka melahap masakan saya hingga habis atau mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Yes itu memang tanggung jawab mereka, tapi ucapan terima kasih buat saya itu bagian dari penghargaan karena saya tidak pernah membiasakan memberikan rewards untuk nilai baik atau makan yang pintar.

2. Ada saatnya mereka memilih, dan biarkan momen tersebut menjadi sesuatu yang ditunggu
Saya selalu bilang, “Makan dengan apa yang mama masak ya, yang mama masak selalu sehat waaupun mungkin nggak mewah.“ Atau “Selalu bersyukur karena kalian masih bisa makan, masih banyak orang lain di luar sana yang kesulitan bahkan hanya untuk sesendok makan saja.” Plus mata saya otomatis melotot kalau raut wajah mereka tampak mau protes hahaha. Namun, saat kami makan di luar, saya membebaskan mereka pesan apa saja ASAL dihabiskan.

3. Mengenalkan konsep “needs and wants” dari dini
Yes EVERYDAY, saya selalu bilang ke anak-anak apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka mau. Kita membutuhkan makanan sehat dan pakaian. Tapi mainan, kuteks, main playground di mall, jajan donat, baju-baju princess atau superhero, dan lainnya adalah sesuatu yang tidak penting karena ini yang kita mau, apabila barang ini tidak ada kita masih bisa hidup dan mencari alternatif lain.

Sehingga setiap kali saya ke toko buku atau mainan yang saya tanya pertama kali adalah apakah kamu sekadar mau atau kamu butuh? Dan saat mereka menjawab, “Hanya mau mama, because they are so pretty, can I just play here then?” atau kalau yang kecil jawabnya, “I just want it because I dont have it, well I still have lots of trains at home!” Rasanya saya mau nyalain petasan saat mendengar anak saya ngomong gitu, asli happy banget. Bapaknya anak-anak sampai takjub sama anaknya sendiri kalau di toko mainan mereka nggak norak dan rewel. Kalau sudah begini uang belanja mamanya musti naik nih #eh.

4. Semakin banyak saya memberi, semakin sedikit ia memberi apresiasi
Ada tahap ketika saya SANGAT BOROS membelikan banyaak sekali baju dan mainan (saat punya anak kedua, maka saya membeli banyak mainan kompensasi dari kurangnya perhatian saya kepada anak pertama karena tenaga saya hampir terkuras untuk si baby). Anak saya jauh terlihat lebih manja, menikmati mainan hanya sebentar saja sehabis itu mainan duduk manis berdebu di pojokan. Akhirnya saya stop itu semua, peralihannya cukup berat, tapi saya rela mengalami rengekan dan drama dalam beberapa periode karena saya tahu ke depannya mereka tidak akan merengek lagi.

Saat kita memiliki segalanya, memang rasanya kita ingin berbagi dengan buah hati kesayangan kita, siapa yang tidak sih?

Setiap menerima gaji, hal pertama yang ada dalam pikiran saya adalah membelikan mainan terbaru atau atau bando cantik. Tapi satu hal yang selalu menghentikan saya, saya selalu ingat apa yang dibentuk dari kecil akan menjadi investasi buat anak di masa depannya.

Perilaku dan karakter anak yang saya bentuk dari kecil baru akan mereka rasakan hasilnya nanti saat besar. Saya berharap anak-anak saya selalu bersyukur dengan setiap apa yang mereka miliki namun bukan berarti mereka stop mencari yang lebih baik. Amiiiin!


Post Comment