Brave Miss World Membuka Mata Para Penyintas

Ditulis oleh: Rosalia Titi Wening

Siapa yang tidak bergidik saat berita pemerkosaan terus terjadi setiap harinya? Pertanyaannya adalah, apakah kita berani melaporkan tindakan pemerkosaan yang tengah dialami saudara, tetangga atau bahkan kita sendiri?

Tema kali ini begitu menyita perhatian saya saat harus menghadiri pemutaran film dan diskusi Brave Miss World di @america, Pacific Place, dalam rangka Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diperingati setiap tanggal 25 November. Kami diajak menyaksikan perjuangan yang dialami Linor Abargil – Miss World 1998, lengkap dengan perjalanannya hingga menjadi aktivis perempuan dengan gerakannya #IAMBRAVE dan mengajak para korban atau penyintas untuk bangkit dan mulai berani angkat suara, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi.

Brave Miss World Membuka Mata Para Penyintas - Mommies Daily

Diskusi menarik ini membahas peranan media guna menekan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dengan penyampaian informasi yang benar. Menghadirkan Alex Junaidi – Jurnalis Jakarta Post, Devi Sumarno – Founder Rumah Ruth, dan Monieq Rijkers yang bertindak sebagai moderator. Monieq salah satu dari 4 jurnalis alumni International Visitor Leadership Program (IVLP) yang melaksakan kegiatan ini bersama dengan yang lainnya, Linda Tangdialla, Riri Artakusumah dan Maria Yuliana. Mereka adalah aktivis yang menyuarakan isu tentang toleransi.

Sebelum diskusi panjang lebar, terlebih dulu kami disajikan pemutaran film. Kisah yang dialami Miss World 1998 asal Israel, Linor Abargil, sebelum dirinya terpilih sebagai Miss World yang beberapa pekan sebelum dirinya terpilih mengalami pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang agen perjalanan yang digunakan Linor untuk kembali ke Israel setelah pekerjaannya sebagai model di Itali, Milan, selesai.

Pada saat peristiwa itu terjadi, Linor masih berusia 18 tahun, diculik, diperkosa kemudian ditusuk membuat dirinya sempat depresi pasca kejadian. Pelan-pelan ia bangkit dan mulai mengikuti kontes kecantikan untuk membuatnya kembali percaya diri dan akhirnya justru terpilih sebagai Miss World 1998. Ketegaran Linor saat harus berhadapan dengan media atas terkuaknya berita pemerkosaan yang ia alami justru semakin membuatnya bangkit dan berusaha menyeret pelakunya ke pengadilan untuk mendapatkan hukuman yang layak.

Melalui kejadian yang Linor alami, ia merasa harus melakukan hal yang sama di luar sana, ia ingin teman-teman yang senasib dengan dirinya – angkat suara dan melaporkan para pelakunya ke pihak berwajib. Melalui website yang ia buat, Linor mengajak penyintas untuk speak up dan tidak perlu takut atau malu, karena mereka hanya korban. Harapannya agar para korban atau penyintas membawa kasusnya ke ranah hukum dan tidak ada lagi korban-korban selanjutnya. Nama Linor kemudian semakin dikenal tidak hanya sebagai Miss World, namun juga sebagai pemberi inspirasi bagi banyak penyintas pemerkosaan di seluruh dunia.

Seperti yang diungkapkan Devi Sumarno, Founder Rumah Ruth. “Kekerasan seksual adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif, seperti: rasa malu, tersinggung , terhina, marah, kehilangan harga diri, kehilangan kesucian, dan sebagainya, pada diri orang yang menjadi korban.”

Para pelaku tindak kekerasan seksual masih banyak berkeliaran di luar sana, diharapkan peran orang tua dalam mendidik anak-anak, peran sekolah dalam sexual awareness , peran media dalam memberikan informasi yang mendidik, dan tentu saja peran pemerintah memberikan tindakan hukum bagi pelaku kekerasan seksual.

Mari kita ikut berperan serta mommies :).

Baca juga:

Mengalami Pelecehan Seksual di Kantor, Harus Bagaimana?


Post Comment