Sulitnya Negosiasi Dengan Anak Usia 6 Tahun

Saya paham, negosiasi dengan anak memang bukan urusan kalah dan menang. Tapi kalau negosiasi berjalan alot bagimana, dong?

Saya pikir, setelah lewat masa-masa pra sekolah, Bumi sudah lebih mudah diajak bernegosisasi. Biar gimana, kan, sekarang anak saya ini sudah berusia 6.5 tahun dan jadi siswa kelas 1 SD,. Artinya kemampuan untuk berkomunikasi pun semakin pintar dibanding saat ia masih 3 atau 4 tahun. Soal komunikasi, saya dan suami memang nggak meragukan kemampuan anak kami. Iya, untuk seukuran usianya, Bumi memang sudah jago banget ngomong dan sangat berpikir logis. Bahkan kalau sedang negosiasi, ada saja alasan yang ia kemukakan.

Hahahaa…. Ternyata negosiasi dengan anak usia 6 tahun bisa berlangsung alot.

Bukan apa-apa, sih, sebagai orangtua saya juga pernah merasakan kalau saya ingin sok tahu banget. Dalam artian, ada kalanya saya berpikir kalau sebagai orangtua saya sudah tahu apa yang terbaik buat anak saya. Padahal, pandangan seperti ini kan nggak selamanya benar karena bisa membuat kita mengendalikan atau memaksa kehendaknya sendiri tanpa peduli anaknya mau apa nggak. Suka atau tidak.

Padahal, anak juga punya hak mengeluarkan pendapatnya sendiri. Oleh karena itulah negosiasi orangtua dan anak itu perlu dilakukan untuk mencapai kata sepakat.  Dengan negosiasi, anak juga bisa mandiri dalam mengambil keputusan dan percaya diri dengan apa yang mereka ingin ungkapkan dan yakini.

tantangan terbesar anak di sekolah

Tahapan mengajarkan anak bernegosiasi sebenarnya sudah bisa dikenalkan mulai  dari usia 1.5 tahun, di mana anak-anak sudah masuk dalam fase autonomy. Seperti yang diungkapkan psikolog anak  dari Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi, autonomy lebih ke kemandirian anak untuk mencoba sesuatu.

Misalnya, nih, anak itu jangan selalu disuapin atau dipakaikan baju  karena sejak usia mulai 1.5-3 tahun. Anak-anak sudah bisa diberikan keleluasan untuk mengeksplor. “Jangan dikit-dikit  nggakboleh. Jangan sedikit-dikit kita atur terus, lebih baik anak dikasih batasan yang jelas.  Ketika anak sudah berusia 3 tahun, secara kemampuan verbal dan kognitif anak sudah semakin berkembang dan masuk ke tahap inisiatif maka anak perlu diajarkan membuat pilihan, mengambil keputusan sendiri,” ungkapnya.

Ketika sedang bernegosiasi dengan anak, Orissa mengingatkan bahwa orangtua perlu memahami bahwa ketika sedang memberikan izin, boleh atau tidak boleh, sebenarnya harus didasari alasan yang kuat lebih dahulu. Kenapa tidak boleh? Kenapa boleh? Tentunya dengan bahasa yang disesuaikan dengan perekmabngan anak. “Jangan hanya, because I said So, saja. Anak mana bisa paham dan belajar?”

Mencari Solusi

Lebih lanjut, Orissa mengatakan, kemampuan kognitif anak-anak seusia Bumi tentu saja sudah semakin berkembang. Maka tidak mengherankan jika ada masanya proses negosiasi berjalan alot. Tapi bukan berati kesepakatan tidak bisa didapatkan, kok. Selain anak tetap membutuhkan alasan yang logis, dan memberikan pilihan,  kita para orangtua juga perlu memberikan kesempatan untuk mencari solusi.

“Kalau sudah memberikan pilihan, namun anak tetap tidak mau juga. Coba tanya saja ke anak, apa solusinya yang paling baik. Dari sini akan juga akan dilatih untuk berpikir kritis. Misalnya, pilihan sudah ada antara A dan B, kemudia anak memilih C. Tanyakan saja kenapa ia memilih C.”

Jangan berharap jadi pemenang

Namanya negosiasi, tujuannya itu kan sebenarnya mencari solusi atau jawaban yang terbaik. Jadi, bukan mencari siapa yang memang atau siapa yang kalah. Pada dasarnya, ketika proses negosiasi dilakukan, mau nggak mau memang akan ada ‘perlawanan’ dan pertanyaan yang akan diajukan. Kalaupun ternyata, solusi memang datang dari buah pikirannya, bukan berate kita sebagai orangtua jadi kalah, kok.

Tapi, Orissa mengingatkan bahwa kita, perlu melihat apa yang sudah menjadi rutinitas dan tetap menjalankan aturan umum di rumah. Dengan adanya kesepakatan peraturan bersama di rumah, misalnya soal bermain gadget di akhir pekan, apabila sudah terbiasa tentu saja akan memudahkan kita bernegosiasi dengan anak.

“Misalnya, kalau memang dari awal ada peraturan di rumah nggak boleh main tembak-tembakan yang ada pelurunya, ya, tetap saja menjalankan atura tersebut. Karena memang ada aturan di rumah yang sudah tidak bisa dinegosiasikan, jadi orangtua harus tetap komit saja. Anak ngambek? Yang biarkan saja, anak kalau terlalu gampang ditiruti kemauannya malah bahaya untuk si anak ke depannnya.

Setuju banget, dong, soal hal ini? Biar gimana, anak-anak kan memang bukan Raja, yang keinginannya harus dituruti.


Post Comment